Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
126 Cincin


Di rumahnya, Vean galau.


"Kamu mau ke mana, Vean."


"Aku mau pergi dulu."


"Jangan buat mama kecewa." Vean menghela nafas. Belum apa-apa saja, mamanya sudah banyak komentar.


Vean tiba di kafe, kafe yang akan di datangi oleh Khea. Ken duduk di lantai atas, melihat di balik dinding kaca.


Tidak lama kemudian Dhea datang, dengan tampilan yang cantik.


Vean tahu, semua yang dipakai oleh Dhea adalah barang baru. Dari baju, sepatu, tas.


Khea memesan lemon tea hangat.


"Aku kesan lemon tea hangat," ucap Vean pada pelayan.


Dia terus memang Khea dari balik kaca.


Saat Khea meminum minumannya, Vean pun akan meminum minumannya.


Saat Khea memesan minuman baru, Vean pun akan memesan minuman baru.


Khea masih tersenyum.


Satu jam


Wajah gadis itu terlihat masih tersenyum


Aku datang, Sayang.


Dua jam


Wajah gadis itu terlihat tetap tersenyum


Sayang, ada aku di sini


Tiga jam


Wajah gadis itu terlihat sedih


Sayang, jangan bersedih


Empat jam


Lima jam


Enam jam


Vean masih terus memandang wajah Dhea. Saat Dhea melangkah keluar dari kafe, seorang pelayan memanggilnya.


Vean mengambil buku yang ditinggalkan oleh Dhea di meja kafe itu. Dia mengikuti langkah Dhea. Mengikuti gadis yang lebih memilih pulang dengan berjalan kaki, meskipun jarak dari kafe ke kosan cukup jauh.


Ini seperti dulu, seperti Dhea yang mengajaknya pulang berjalan kaki dan memilih memutar-mutar jalan agar mereka lebih lama bersama.


Di depannya, Dhea menangis.


Di belakangnya, Vean ikut menderita.


Dhea masuk ke dalam kosannya.


Dan Vean, masih di sana, duduk di dekat kosan hingga larut malam. Dibukanya buku itu, dan dibacanya isinya.


Semua tentang Vean ....


"Kamu dari mana saja, Vean? Kamu kan besok akan bertunangan dengan Fio."


Hari pertunangan


Vean menatap pintu ballroom.


Jangan datang ....


Jangan datang ....


Jangan datang ....


"Dhea kenapa belum datang juga, ya?"


Ya, sebaiknya jangan datang.


Vean masih menatap pintu.


Dia seolah melihat Dhea di sana, menatap dirinya dengan pandangan sendu, yang tidak pernah dia lihat lebih menyakitkan dari ini.


"Ayo kita mulai acaranya," ucap Mila.


"Tapi Dhea belum datang, Ma."


"Ya terus kenapa? Kan yang mau tunangan, kamu sama Vean."


"Tapi, Ma ...."


"Jangan macam-macam, Fio."


Pertunangan itu terjadi ....


Tapi ....


"Loh, kok cincinnya kekecilan?"


Cincin yang kekecilan di tangan Fio, juga di tangan Vean.


Dalam hati Vean tersenyum. Dia sengaja memesan cincin yang ukurannya lebih kecil. Fio yang memang memesan modelnya, tapi Vean meminta pada pihak toko untuk mengganti ukurannya dan tentu saja harus dirahasiakan.


Ini adalah ukuran tangan Dhea, mana sudi aku memakai cincin di jari perempuan lain.


"Nona, nona Dhea sudah pergi sejak tadi."


"Pergi ke mana, Pak?"


"Ke acara ini, Non."


"Tapi tidak ada."


Fio terlihat gelisah. Apalagi Vean, perasannya menjadi tidak enak. Dia merasa akan ada sesuatu yang buruk, yang akan terjadi.


"Sayang, ayo kita ke kosan Dhea."


Di perjalanan, Fio terus saja bicara, membuat kepala Vean berdenyut sakit.


"Dhea sudah pergi."


"Pergi ke mana?"


"Loh, dia kan ke Amerika."


Vean terhuyung ke belakang. Dadanya terasa ngilu.


Kak, jadikan aku kekasih satu harimu. Aku janji, setelah ini aku tidak akan mengganggu kakak lagi.


Tidak, Dhea ... jangan tinggalkan aku.