
Mereka diam, tidak ada yang menjawab karena takut untuk menjawab, dan juga tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Cukup lama mereka menunggu, tapi pintu belum juga terbuka. Itu tentu saja semakin membuat Vean cemas. Bukankah seharusnya dokter atau perawat segera membuka pintu untuk memberikan kabar?
Suara bayi kembali terdengar, dan jantung Vean berdetak kencang.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa anakku bisa lahir?
Saking kalutnya, Vean sampai tidak bisa berpikir jernih, seolah tidak mensyukuri kalau anaknya telah lahir dengan selamat.
Hampir saja Vean menerobos pintu, namun sudah lebih dulu dibuka oleh dokter.
"A ...." Dokter tidak sempat bicara, karena Vean langsung masuk dan menabrak pundak dokter itu hingga terhuyung.
"Yang?"
Jantung Vean seolah berhenti melihat istrinya yang memejamkan mata.
"Yang?"
Tidak ada jawaban, dan Vean meneteskan air matanya.
"Dhea, bangun, Sayang!" Vean menangis terisak, melihat Dhea yang tidak juga membuka matanya.
"Kenapa dengan istriku? Bukankah aku sudah bilang untuk menyelamatkan dirinya, hah!"
"Maaf ...," ucap dokter dengan lirih.
"Yang, kenapa kamu tega padaku?" Vean memeluk tubuh Dhea dengan erat.
Tubuhnya terguncang, tapi lebih terguncang lagi hatinya.
"Apa kamu hanya ingin menitipkan seorang putri untuk aku, agar aku benar-benar tidak akan dan tidak bisa melupakan kamu? Apa yang harus aku katakan padanya nanti, saat dia bertanya ke mana ibunya? Apa aku harus mengatakan kalau ibunya lebih memilih pergi untuk dia tetap bertahan? Apa kamu ingin ada kesedihan dan rasa bersalah di hatinya, seperti yang aku rasakan saat ini—dan selamanya—jika kamu pergi?"
Vean mengusap kening Dhea dengan lembut. Mengecupnya lalu kembali mengusap.
Vean melihat bayi kecil yang terpaksa harus lahir prematur itu. Hatinya kembali teriris saat melihat wajah anaknya yang ternyata sangat mirip dengan Dhea.
Vean mengambil anaknya dengan tangan bergetar. Pria itu mengecup pelan bayi itu, dengan air mata yang semakin deras.
"Yang, ini anak kita. Kamu mau kasih nama apa?"
Tetap tidak ada sahutan. Mata indah itu tidak mau terbuka.
"Yang, kamu tidak mau melihat anak kita? Apa kamu tega pada kami?"
Vean meletakkan bayinya di atas tubuh Dhea. Memeluk keduanya dengan Isak tangis yang semakin kencang.
"Apa kamu mau aku mengalahkan dia? Karena dirinya aku sampai kehilangan kamu?"
"Jangan bicara sembarangan, Vean!" bentak Candra.
Vean tidak peduli apa kata orang, karena tidak akan ada satu orang pun yang tahu bagaimana yang dia rasakan saat ini. Kehilangan istri di saat anaknya lahir. Seharusnya menjadi berita bahagia, malah menjadi duka.
Teman-teman Dhea mengigit bibir mereka, sedangkan Bianca sudah pingsan saat baru masuk ke dalam ruangan itu.
Bibir Fio bahkan sudah berdarah karena terlalu kuat dia gigit.
"Jangan tinggalkan aku. Kenapa kamu tega sekali? Kenapa kamu suka sekali pergi begitu saja? Kenapa kamu meninggalkan aku dengan anak kita yang baru saja lahir? Apa kamu mau dia besar tanpa seorang ibu, seperti yang pernah kamu rasakan dulu? Kenapa dia saja? Jawab, Sayang!"
Suara Vean sangat lirih, memilukan hati siapa saja yang mendengarnya.
"Maaf, Tuan, anak Anda harus segera kami pindahkan, karena terlahir prematur," ucap perawat dengan takut-takut.
"Jangan, Dhea harus tahu kalau anaknya membutuhkan dia!" bentak Vean.
Bayi perempuan itu menangis kencang, beriringan dengan tangis Vean.