
Mereka melihat ke pekarangan belakang rumah om Dhea. Ternyata di Siti ada kebun sayur. Tidak terlalu besar, sayur-sayurnya pun tidak terlalu banyak.
Saat memanen, hasil panennya dibagi ke beberapa kelompok. Ada yang untuk dikonsumsi sendiri, ada yang untuk dijual hari ini dan besok.
Mereka kembali masuk ke dalam rumah. Melihat Bu Ana yang sedang menyuapi bubur untuk Bu Wati.
"Keadaannya belum bisa untuk diajak komunikasi, tapi setidaknya kalian sudah bertemu. Terakhir kali dia bisa diajak bicara, dia hanya mengatakan tentang anaknya."
Mereka mendengarkan perkataan Bu Ana. Bu Ana mengelap tubuh Bu Wati. Dhea ingin melakukannya, tapi dia takut. Takut untuk mendekati perempuan itu lagi. Takut untuk berteriak marah.
"Yakin, tidak mau membawa Bu Wati ke rumah sakit?"
"Iya. Saya akan merawat dia di sini. Mungkin ini yang dia mau, tetap berada di sini hingga waktunya berakhir."
Dhea langsung memalingkan wajahnya saat mendengar perkataan Bu Ana itu.
Sore harinya, setelah hujan yang kembali Ririn sejak pagi reda, mereka baru pulang.
"Kami akan ke sini lagi."
"Hm, begini. Saya akan mengirim orang untuk merenovasi rumah bu Wati dan Bu Ana."
"Jangan, tidak perlu."
"Jangan menolak. Ini demi kenyamanan Bu Wati."
"Terserah kalian saja kalau begitu. Tapi cukup merenovasi rumah kak Wati saja."
"Saya juga akan merenovasi rumah bu Ana."
Hanya Vean, Arya dan Juna saja yang bicara. Bibir Dhea tidak mau bergerak sedikit pun. Matanya hanya memandang pada pintu rumah Bu Ana yang terbuka.
Berharap seseorang yang diharapkannya itu akan menghampiri dirinya, memeluk dan mengantar kepergiannya, juga berkata, "Cepat kembali."
Hah, rasanya terlalu berlebihan berharap seperti itu.
"Ayo, Yang."
Tidak tahu apakah Minggu depan, atau bulan depan dia bisa ke sini lagi. Atau bisa saja berbulan-bulan kemudian.
"Kami permisi, Bu."
Mobil mulai bergerak. Saat melewati rumah bu Wati, mereka baru benar-benar memperhatikan keadaan luar rumah itu. Bagian atap depannya sudah menurun, padahal sepertinya kemarin—saat mereka baru tiba—tidak seperti itu.
Dhea menangis dalam diam. Tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun.
Mereka bertemu, tapi seperti orang yang tidak pernah bertemu. Hanya diam tanpa saling menyapa.
Tidak ada usapan lembut di kepalanya, dari seseorang yang telah melahirkannya.
Ingin sekali dia menyangkal kalau itu ibunya. Bukan karena keadaannya yang seperti itu.
Kembali melewati jalanan berbatu. Melihat sawah-sawah dan kebun-kebun.
"Pelan-pelan, Ar!"
"Ini sudah pelan. Memang jalannya saja yang seperti ini."
Mereka sudah dibekali minuman dan cemilan untuk dijalan. Dhea sesekali menoleh ke belakang.
"Kita akan kembali lagi ke sini. Jangan khawatir."
"Iya, Dhea. Kita akan menemani kamu lagi ke sini."
Tadinya Arya, Vean dan Juna ingin melakukan tes DNA. Tapi melihat kondisi Bu Wati, rasanya kurang bijak melakukan hal seperti itu.
Bisa saja nanti ada yang berpikiran Dhea malu atau tidak mau mengakui Bu Wati sebagai ibu kandungnya.
Tidak sesuai dengan perkiraan mereka. Dari segi apa pun, ini benar-benar di luar perkiraan. Dhea sendiri juga tidak tahu apa-apa soal rencana ketiganya yang—tadinya—ingin melakukan tes DNA.
Gadis itu terlalu kalut untuk memikirkan hal lain.
Di mana, dan siapa ayahku?