Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
102 Dia Salah


Vean tidak ingin beranjak dari tempatnya saat ini, dan dia masih memegang tanah gundukan itu dengan tangan terkepal.


Rasanya sesak sekali. Dia belum pernah merasakan sesesak ini. Seperti semua organ tubuhnya akan keluar begitu saja.


Ke mana perginya gadis yang sejak dulu selalu mengatakan cinta padanya?


Apa dia menyerah? Apa cinta itu akhirnya kalah dengan rasa lelah?


Saat hujan tak lagi terasa dingin


Saat angin tak lagi terasa menyejukkan


Saat matahari tak lagi terasa menghangatkan


Saat itulah dia tahu kalau dirinya telah mati rasa.


Vean menatap nanar nama Dhea di batu nisan itu. Nama yang pernah menghilang selama beberapa tahun, dan tiba-tiba hadir kembali, dan sekarang? Kembali pergi.


Kedua orang tua Vean menatap sedih anaknya saat ini. Mereka pasti tahu kalau anak mereka itu merasa sakit. Sakit yang tak berdarah, Sidah pasti lebih menyakitkan.


Tidak ada kata-kata penghiburan yang bisa diberikan.


Tidak perlu mengatakan ini takdir.


Orang-orang pun tahu, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita adalah takdir.


Vean mengusap batu nisan itu.


Air matanya kembali mengalir.


Maafkan aku, Dhea, maafkan aku.


Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Kakak, pasti kedua orang tua kakak akan bersedih. Berbeda dengan aku, tidak akan ada yang menangisi kepergian ku, karena aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.


Vean kini semakin paham apa maksud dari perkataan Dhea. Jika dia yang dikubur di sini beberapa tahun lalu, pasti orang tuanya akan terpuruk seperti ini.


Tapi Dhea salah, salah kalau berpikir tidak akan ada yang menangisi dirinya.


Mereka belum pernah melihat Vean yang seperti ini. Pria itu hanya diam, seolah tidak ada siapa-siapa di sana.


Langit yang mendung ini seolah melengkapi suasana hati mereka yang dilanda duka. Menaburkan bunga, memberi doa, dan mengingat semua kenangan—yang ternyata bagi mereka saat ini—terasa sangat singkat dan begitu berharga.


Sahabat-sahabat Dhea—kalau saja mereka tau sejak awal—pasti akan mengawasi gadis itu sebaik mungkin. Tidak akan percaya begitu saja dengan alasan Dhea yang sering mimisan karena kelelahan atau apalah itu.


Dia hanya minta untuk didoakan agar segera bertemu dengan keluarganya.


Vean teringat dengan perkataan dokter Bram beberapa tahun yang lalu.


*Aku sudah meyakinkan diri sendiri kalau kedua orang tua aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Mungkin ini cara Tuhan agar aku bisa segera bertemu dengan mereka. Apa kalian sudah mendoakan aku, agar aku bisa segera bertemu dengan mereka?


Apa sekarang kamu sudah bertemu dengan mereka, Dhe? Bagaimana kalau ternyata kedua orang tua kamu masih hidup*?


Apa yang harus aku katakan kalau aku bertemu dengan mereka? Aku akan mengatakan kalau akulah penyebab putri mereka pergi, pergi untuk selamanya.


Arya sejak tadi tidak berhenti mengusap air matanya. Dia memeluk dari samping ibu panti—perempuan yang sudah membesarkan dia dan Dhea sejak kecil.


Kita bahkan belum memenuhi janji kita, Dhea.


Juna pun sama sesaknya dan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Pergilah dengan tenang, aku akan menjaga Vean untuk kamu, Dhea.


Vean menelusuri nama Dhea di batu nisan itu, memberikan senyum yang tidak ada orang lain yang melihatnya.


Istirahatlah dengan tenang, dan tunggu aku di sana secepatnya ....


.


.


.


.