
Vean merasakan pergerakan di sebelahnya. Dia semakin merapatkan tubuhnya pada Dhea, dan mengusap perut istrinya itu. Mata Vean lalu terbuka merasakan tubuh istrinya yang terasa hangat, juga guncangan kecil akibat Dhea yang menahan tangis.
"Yang?" Vean panik melihat wajah Dhea yang sembab.
"Kamu kenapa?"
"Kak, aku ...."
Vean mengusap perut Dhea pelan, dia tidak mau kalau sampai istrinya itu stress, meski dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan Dhea sampai seperti ini.
"Aw!" Dhea meringis saat merasakan hentakan kencang di perutnya.
"Kak ... sakit!" Vean panik, dia langsung menyalakan lampu dan mengambil ponselnya. Tidak langsung diangkat, membuat Vean kesal.
Dia lalu membuka jendela kamarnya lebar-lebar.
"Junaaaa!" teriak Vean. Bisa saja dia ke rumah Juna yang tinggal berjalan beberapa langkah itu, tapi dia tidak mau meninggalkan Dhea sendirian.
"Juna! Arya, Pa, Ma!" semuanya dia panggil, tapi tidak ada juga yang menyahut.
"Juna sialan! Bangun!"
Para tetangganya mulai terusik, mereka langsung membuka mata mendengar suara teriakan Vean.
"Juna! Om Bram!" teriaknya lagi.
"Ada apa sih, Vean?" tanya Felix dari jendela kamarnya, berteriak juga.
"Bangunin tuh si Juna. Dokter apaan tuh, dibangunin susah banget!"
Mereka lalu menghampiri rumah Juna, dan menggedor pintu itu. Juna yang memang baru tidur dua jam yang lalu, membuka matanya.
"Ck, siapa, sih?" Pria itu menuju pintu ruang tamu dan membuka pintu.
"Ada ap ...."
"Juna, Dhea sakit! Buruan ke sini!"
Vean mengelus perut Dhea.
"Ada apa?"
"Kak ... aw!"
Mereka melihat darah dan cairan lainnya yang keluar dari bagain bawah Dhea.
"Cepat bawa ke rumah sakit!" teriak Juna.
Untung saja yang lainnya sudah menyiapkan mobil, bahkan Arya juga sudah menghubungi dokter Bram dan rumah sakit.
Mendengar dan melihat Dhea yang kesakitan, tentu saja membuat Vean semakin panik.
"Jangan takut, Yang. Ada aku di sini."
Padahal Vean sendiri ketakutan. Tanpa terasa air matanya menetes. Kedua orang tua Vean juga menyusul dengan mobil yang berbeda. Mereka semua cemas, apalagi ini tengah malam buta. Jam masih menunjukkan pukul satu dini hari.
Friska membaca doa banyak-banyak. Bukan hanya untuk Dhea, tapi juga untuk cucunya. Susah untuk berpikir tenang saat ini, namun dia tahu, jika sesuatu yang buruk terjadi pada menantu dan calon cucunya, entah bagaimana jadinya Vean.
Bram dan Bianca juga sudah ada di rumah sakit, sedikit menyesal karena malam ini mereka tidak menginap di rumah Juna atau Arya.
Mobil tiba di depan lobby. Perawat langsung mendorong brankar begitu Dhea dibaringkan di atasnya. Dokter kandungan juga sudah ada di sana.
Vean ingin ikut masuk, tapi ditahan oleh perawat. Pria itu tidak bisa tenang, dia terus berjalan mondar-mandir, menghela nafas berat berkali-kali.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Dhea bisa sampai seperti ini?"
"Aku juga tidak tahu, sebelum tidur dia masih baik-baik saja. Aku gagal menjaganya!"
"Jangan bicara seperti itu, kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan dan tidak akan terjadi. Apalagi ini terjadinya saat kalian sedang tidur."
"Justru itu, seharusnya aku tidak usah tidur saja tadi."