
Saat ini Dhea sedang makan malam bersama dengan teman-temannya. Tadi sore dia mendapatkan pesan dari Bu Ana tentang keadaan Bu Wati yang baik-baik saja.
Dhea menghela nafas, sekarang masih hari Selasa, menunggu akhir pekan rasanya masih lama sekali. Itu pun kalau dia bisa datang ke sana. Rasanya Dhea tidak enak kalau sampai Vean, Arya dan Juna harus selalu menemani dirinya. Mereka juga pasti punya kesibukan sendiri, tapi malah menemani dirinya. Dia merasa seperti gadis manja saja. Mau pergi tanpa mereka, mana dibolehin.
Vean harus mengurus perusahaan, Juna seorang dokter, dan Arya juga bekerja di rumah sakit. Ya walau memang Sabtu Minggu mereka libur, seharusnya dipakai untuk istirahat.
"Aku pergi sendiri saja hari Jumat nanti."
"Enggak boleh."
Ponsel Dhea berbunyi, dia melihat siapa yang menghubungi dirinya, dan melihat jam berapa sekarang.
"Halo, Tante? Ada apa? Ibu sehat?"
Tidak ada sahutan, hanya helaan nafas saja.
"Tan?"
"Halo Dhea ...."
Air mata Dhea menetes, lalu dia menangis kencang. Mereka panik, Vean langsung memeluk Dhea dan Arya mengambil ponsel yang terjatuh itu.
"Halo?"
"Kak Wati ... sudah tidak ada lagi ...."
"Baik, saya mengerti."
"Ibu ... Ibu ...." Tidak perlu ditanyakan ada apa, mendengar tangisan Dhea saja, mereka sudah mengerti.
"Aku mau ke tempat ibu, sekarang!"
Dhea langsung mengambil kunci mobilnya. Tidak peduli ada yang melarang atau tidak.
"Tunggu, Dhea."
"Aku mau ke tempat, apa hakmu melarangku, hah?" bentak Dhea pada Vean.
"Kami ikut. Ini juga Sidah malam, bahaya pergi malam-malam begini."
Juna langsung menghubungi keluarganya dan keluarga Vean. Vean memberi kode pada Erza, dsn Erza langsung cepat tanggap.
Keluarga Juna dan Vean yang mendapat kabar, langsung pergi ke tempat yang telah ditentukan. Fio juga menghubungi keluarganya.
"Kami semua ikut."
"Ayo, Dhea."
Bagas dan Erza yang menyetir mobil, karena semuanya ingin ikut. Mereka tiba di salah satu tempat, dan melihat sudah ada beberapa mobil yang menunggu mereka.
Mobil-mobil itu akan dikawal oleh polisi yang sudah dihubungi oleh Erza. Menempuh perjalanan yang cukup jauh, dan telah malam. Tidak ada penerangan tentu saja sangat berbahaya, apalagi mereka membawa banyak perempuan. Ada juga bodyguard dari keluarga Vean yang akan digunakan untuk kebutuhan khusus, seperti saat ini, misalnya.
Polisi membuka jalan untuk mereka, agar mereka bisa tiba lebih cepat dari biasanya. Meski mungkin nanti kendalanya adalah cuaca. Keluarga Vean, Juna dan Fio memutuskan satu mobil saja, agar tidak terlalu memenuhi jalanan. Fio dan Clara mencoba menenangkan Dhea.
"Minum dulu, Dhea."
Suara Dhea sudah sangat serak karena tidak berhenti menangis. Rasanya ini seperti mimpi.
Semoga ini hanya mimpi. Semoga ini hanya mimpi. Ini mimpi, ini pasti mimpi. Aku hanya terlalu lelah sehingga bermimpi buruk.
Perjalanan yang jauh, terasa lebih jauh lagi saat ini.
Kenapa belum sampai?
Ya, memang seharusnya tidak sampai saja, karena ini hanya mimpi.
Saat aku bangun nanti, aku sedang ada di kamarku, bukan rumah ibu.
Dhea terus membatin dalam hatinya.
"Kasihan sekali ya, Dhea," ucap Bianca.
Bram hanya menghela nafas saja. Mereka juga menggunakan sopir. Tadi Bianca, Friska dan Mila hanya membawa baju seperlunya saja, karena terburu-buru.
Bram melihat jalanan yang dilalui. Dulu dia pernah bertugas di sekitar daerah ini saat masih sangat muda.