Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
80 Video


"Hm?" tanya Vean saat mengangkat telepon dari Erza.


"Tuan, Anda di mana? Pagi ini ada rapat dengan tim pemasaran."


"Ya. Bawa baju ganti ku ke rumah sakit."


Satu jam kemudian Erza datang dan membawakan baju ganti untuk Vean. Dia masuk ke dalam ruangan itu, melihat ada ketiga pria yang sedang duduk dengan penampilan kacau. Membuat dia bertanya-tanya, tapi tentu saja tidak berani bertanya.


Vean mengambil kantong yang diberikan oleh Erza, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum masuk, dilihatnya pintu ruangan ICU. Vean lalu melangkah mendekati pintu, melihat dari jendela pintu, Dhea yang sedang berbaring memakai infus dan selang oksigen.


Pria itu menghela nafas berat, lalu kembali ke niatnya dan masuk ke kamar mandi.


Sebelum pergi ke kantor, dia melirik dokter Bram dan Arya, namun tidak berkata apa-apa.


Dia kecewa, sungguh kecewa. Bukan kecewa karena kebaikannya pada Arya hanya sia-sia karena bukan dia yang mendonorkan ginjal itu. Tapi kecewa karena dianggap tidak berhak tahu.


Vena lalu mengangkat pinggangnya. Pinggang yang didalamnya ada ginjal Dhea. Lagi, hatinya terasa sakit. Remuk dan tak berdaya.


Vean duduk diam di dalam mobil.


Jangan kesehatan kamu baik-baik, jangan sampai semua sia-sia. Ingat, di balik kesehatan kamu, ada seseorang yang telah berkorban.


Rasa sakit di hatinya ini lebih menyakitkan daripada sakit fisik karena kehilangan satu ginjalnya. Mempertahankan satu orang dan mengorbankan orang lain. Apalagi orang itu adalah orang yang tidak dipedulikan oleh Vean selama ini.


Erza melirik Vean dari kaca spion. Dia tahu suasana hati bosnya itu sangat buruk, entah karena apa.


Vean tiba di perusahaan dengan aura yang membuat para karyawannya tegang. Hanya dengan melihatnya saja, mereka merasa hari ini akan buruk. Jangan sampai melakukan kesalahan dalam bekerja.


Bosnya itu memang tidak pernah tersenyum selama ini, dan sekarang terlihat semakin mengerikan.


Rapat dengan tim produksi telah selesai, Vean langsung mengajak Erza untuk pergi.


"Saya mau ke ruangan CCTV." Vean dengan mudah pergi ke ruangan itu, karena dia pemilik hotel itu.


Erza melirik bosnya. Dia bisa melihat bosnya yang menatap layar itu tanpa berkedip.


Satu jam kemudian


Orang-orang dihebohkan dengan video tidak kekerasan yang dilakukan oleh seorang istri pengusaha kepada seorang gadis di depan toilet sebuah hotel saat acara pesta ulang tahun anaknya.


Bukan hanya itu, berita tentang penangkapan perempuan itu di kediamannya juga menjadi viral.


Mila dibawa oleh tiga orang polisi yang bertugas.


Fio dan Ronald langsung menuju kantor polisi begitu mendengar apa yang terjadi. Padahal mereka saat itu masih di jalan, belum tiba ke tempat tujuan masing-masing. Fio yang ingin kembali ke rumah sakit, dan Ronald yang ingin ke perusahaan.


"Ibu Mila dilaporkan atas tindakan kekerasan fisik dan perbuatan tidak menyenangkan. Bukti sudah kami terima."


"Tapi ... siapa yang melaporkan?"


...💦💦💦...


Vean langsung kembali ke rumah sakit setelah meminta Erza untuk membawa semua pekerjaan dari kantor. Dia melihat ada Arya dan teman-teman Dhea sudah ada di sana. Mereka menatap Vean tanpa menyapa.


Di rumah kedua orang tua Vean


Friska menghela nafas berkali-kali. Kepalanya terasa sakit karena tidak tidur semalaman.


"Kamu pasti masih memikirkan gadis itu, kan?" tanya Candra.


"Apa dia akan baik-baik saja?"


"Kita berdoa saja dia akan baik-baik saja. Kita akan ikut andil menjaga dia, tidak peduli kalau Bram akan menolaknya."