
"Kamu yakin, tidak jadi melanjutkan kuliah di Amerika?"
"Iya, Pak. Maafkan Dhea yang sudah mengecewakan Bapak."
"Tidak, kamu sudah mengikuti apa kata hati kamu. Kami akan selalu mendukung kamu"
Dhea memilih tempat tinggal yang baru, yang hanya dia dan Arya saja yang tahu.
Sampai akhirnya hari itu tiba.
Dhea melakukan donor ginjal untuk Vean.
Satu bulan setelah itu pendonoran.
"Dhea."
"Pak?"
"Saya sudah bicara dengan teman saya. Dia seorang pemilik kampus. Kamu bisa kuliah di sana dengan beasiswa."
"Apa? Benarkah?"
"Iya. Untuk tahun ajaran baru, sudah cukup lama lewat. Tapi kamu tidak perlu khawatir, saya sudah membicarakan ini dengan teman saya. Kamu bisa kuliah di sana. Tidak perlu memikirkan biaya. Saya juga sudah memberikan data-data nilai kamu. Dengan kamu yang bisa memperoleh beasiswa ke Amerika saja, itu sudah cukup membuktikan kalau kamu bisa kuliah di sana. Bagaimana, kamu mau, kan?"
"Mau, Pak. Mau banget."
Keesokan harinya
"Vean ingin bertemu dengan pendonor itu, Dhea."
"Apa?"
"Dia bisa saja mencari tahu siapa pendonor itu, dan kamu pasti akan ketahuan."
"Tunggu dulu, Dok."
Dhea lalu menghubungi Arya.
"Dhea, kamu ke mana saja sih, kenapa suka menghilang sekarang?"
"Kak, aku mau bicara penting. Bisa kakak ke rumah sakit sekarang?"
"Oke."
Mereka menunggu kedatangan Arya.
"Arya?"
"Dokter Bram?"
"Kalian saling mengenal?"
Mereka berdua mengangguk.
"Baguslah, ini akan lebih mudah."
"Ada apa, Dhea? Kamu sakit? Wajah kamu pucat."
"Kak, aku mau minta tolong."
"Apa?"
"To ... tolong mengaku lah pada kak Vean dan siapa pun, kalau Kakak yang sudah mendonorkan ginjal Kakak untuknya."
"Apa? Bukankah Vean pria yang kamu sukai itu?"
"Iya."
"Tunggu dulu, kenapa aku yang harus mengaku? Memangnya kenapa dengan pendonor itu? Tunggu ... jangan katakan kalau kamu lah yang sudah mendonorkan ginjal kamu untuk dia."
"Iya."
"Dhea, kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu tidak membicarakan masalah ini dulu padaku? Hah?"
"Aku tidak mau."
"Tolong aku, Kak."
"Enggak."
"Kak."
"Ck, baiklah. Ini bukan demi dia, tapi untuk kamu."
"Terima kasih."
Beberapa hari kemudian
Dhea pergi.
Dia diantar ke Jogja oleh guru dan kepala sekolahnya, tentu saja dengan para istri mereka. Tidak ada yang tahu kalau Dhea yang sudah mendonorkan ginjal itu untuk Vean, kecuali dokter Bram, Arya, dan beberapa orang dokter juga perawat.
Aku pergi. Kali ini benar-benar pergi.
Dhea pergi tanpa pamit pada Arya atau pun dokter Bram.
"Jangan bilang pada dokter Bram atau siapa pun, kalau saya ke sini ya, Pak?"
"Baiklah."
Satu bulan setelah Dhea kuliah di sana, dia merasa tidak enak pada tubuhnya. Dia langsung periksa ke rumah sakit, dan dokter mengatakan kalau kondisinya tidak mengijinkan dia bekerja terlalu keras.
Tapi bagaimana bisa?
Kuliah kedokteran, artinya kerja keras. Belajar dan praktek. Belum lagi dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Pak."
"Ya, Dhea. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau pindah jurusan."
"Pindah jurusan? Tapi kenapa?"
"Saya ... saya tertarik untuk jurusan lain."
Rektor itu melihat wajah Dhea yang pucat. Pucat karena sakit.
"Kamu pikirkan dulu baik-baik, Dhea."
"Sudah, Pak."
"Jangan mengambil keputusan terburu-buru. Saya sangat tahu kalau kamu benar-benar pintar di bidang ini. Kamu pulanglah dulu, istirahat yang cukup, lalu pikirkan dengan baik."
"Baik, Pak. Terima kasih banyak."
Tidak perlu memikirkan lagi. Dhea tahu inilah yang terbaik untuknya. Daripada dia memaksakan diri, akhirnya tetap gagal di tengah jalan.
Ini memang sudah takdir Tuhan. Mengganti jurusan mungkin jalan terbaik juga. Jejaknya dari orang-orang di masa lalu itu akan semakin menghilang.
Mereka yang tadinya mengira dia ke Amerika, ternyata tidak jadi ke sana.
Mereka yang menganggap dia kuliah kedokteran dan nantinya akan menjadi seorang dokter, ternyata bukanlah seorang dokter.
Setidaknya, dia sebelumnya bisa menjaga dua orang yang juga dia sayangi.
"Sudah kamu pikirkan baik-baik?"
"Iya, Pak. Keputusan saya sudah bulat."
Dhea tentu saja harus memberi tahu keinginannya kepada rektor. Karena rektor itu yang diberi tanggung jawab langsung oleh pemilik kampus yang memiliki hubungan dekat dengan kepala sekolahnya.
"Jurusan apa yang mau kamu ambil?"
"Saya mau mengambil jurusan ...."