
"Bangun, Sayang. Aku mencintai kamu, aku cinta kamu. Please bangun, bangunn!"
"Kak ...."
Vena mengangkat wajahnya, melihat Dhea yang sedikit membuka matanya.
"Kamu bangun? Sayang, aku mencintaimu kamu, aku cinta kamu ...."
"Kakak jangan membohongi aku. Tidak perlu merasa bersalah, dan tidak perlu meminta maaf."
"Tidak, aku tidak bohong, Dhea."
Dhea memandang mereka satu persatu. Ingin mengatakan sesuatu, tapi terasa sangat sulit. Akhirnya dia hanya bisa tersenyum.
Gadis itu kembali menatap Vean.
"Terima kasih, karena sudah mau menyenangkan hatiku, meski itu hanya kebohongan. Aku ... pamit ...."
Mata itu kembali terpejam, tak lagi bernafas, dan tak lagi berdenyut.
"Tidak! Dhea! Jangan mempermainkan aku, Dhea. Kamu belum mendengar ceritaku. Jangan pergi! Dengarkan dulu ceritaku! Aaaaa ... dengarkan ceritaku!"
...Flashback On...
Beberapa tahun yang lalu ....
Hari ini, adalah hari pertama tahun ajaran baru. Seorang murid baru berseragam SD duduk sendiri di taman, menunggu acara pembukaan MOS di sekolah menengah pertama itu.
Namanya Dhea, gadis itu menatap ke sekelilingnya, yang lebih dengan para senior dan murid baru. Dhea memutuskan untuk ke lapangan, ikut berbaris bersama murid-murid baru yang lainnya. Dia merasa tidak percaya diri memakai barang-barang mahal ini. Barang yang dia dapatkan dari sahabatnya yang pergi ke luar negeri dan melanjutkan sekolah di sana.
Dia lebih suka memakai barang-barang yang biasa-biasa saja. Lebih mencerminkan dirinya sendiri yang memang hanya orang biasa.
Bruk
"Maaf," ucap Dhea. Dia mengangkat wajahnya. Matanya langsung berbinar saat melihat ada seorang pria tampan.
"Vean, ngapain di sana?" teriak teman dari pria itu.
Pria bernama Vean itu langsung pergi, dan tidak lupa menoleh sesaat kepada Dhea.
Dhea memegang dadanya.
Fio, aku dapat calon pacar.
Dhea terkikik sendiri, hari-harinya pasti akan cerah sekolah di sini.
Vean—di tempatnya—melihat aneh pada gadis yang menabraknya tadi.
Hari pertama, mereka diperkenalkan kepada para senior dan alumni. Ternyata Vean adalah alumni di seolah itu, dan saat ini juga baru masuk SMA. Vean ingin melihat bagaimana adik-adik kelasnya di sini.
Dhea cemberut, dia bingung bagaimana caranya pedekate dengan Vean. Matanya terus menatap Vean dengan pandangan kagum, padahal dia tidak tahu apa-apa soal Vean.
Calon suami kan harus didahulukan.
Kembali, Dhea terkikik sendiri.
"Kak, minta tanda tangan."
Vean langsung memberikan tanda tangannya.
"Satu lagi, Kak."
"Kan satu orang, satu."
"Yang pertama biar aku. Yang ini buat panitia."
"Buat kamu?"
"Iya, mau aku laminating, atau dibingkai."
"Buat?"
"Buat aku doa'in, biar tanda tangan kakak ada di buku nikah kita nanti."
Dhea langsung kabur sebelum Vean menyadari kata-katanya. Gadis itu menahan tawa, tapi dia juga jingkrak-jingkrak saat berhasil mendapatkan tanda tangan Vean.
Buku nikah? Pikir Vean dalam hatinya.
Hari kedua
Dhea baru tahu, ternyata dulu Vean adalah ketika OSIS di sekolah ini.
Calon suami idaman.
Gadis itu senyum-senyum sendiri.
"Kamu ngapain senyum-senyum sendiri? Sini maju."
Dhea disuruh maju oleh salah satu pengurus OSIS.
"Hukuman buat kamu, coba kamu nembak salah satu senior di sini."
Bukannya malu, Dhea malah kegirangan.
"Kak Vean, calon suami, i love you!"
"Widihhh."
"Cie, Vean ... cieee."
Wajah Vean langsung merah. Bisa-bisanya dia ditembak seperti ini. Ya walau ini hanya bohong-bohongan, pikirnya, dan tentu juga pikiran yang lainnya, kecuali Dhea yang memang serius.