Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
74 Antara Dhea Dan Amerika


"Bawa pergi jauh istrimu, Ron!" Sekali lagi Bram berkata dengan nada tegasnya.


"Bram, tolong maafkan Mila."


"Papa apa-apaan, sih? Kenapa malah Papa yang meminta maaf?" tanya Mila tidak suka.


"Cukup, Ma."


"Pergi, sebelum kesabaranku habis."


"Dok, Dhea baik-baik saja, kan?" tanya Arya.


Mereka sampai lupa dengan keadaan gadis itu karena ulah Mila.


"Tidak." Jawaban yang sangat singkat padat dan jelas itu membuat Arya terhuyung ke belakang.


"Semoga saja dia mati," gumam Mila, tapi masih sangat jelas didengar oleh mereka.


Bram melihat Mila dengan tatapan kecewa, sangat kecewa.


"Kamu akan menyesal karena berkata seperti itu, Mila."


"Kenapa aku harus menyesal?"


Bram memejamkan matanya, dia menghela nafas berkali-kali, lalu melihat mereka semua.


"Maafkan Om, Dhea. Om tidak bisa lagi menyimpan semuanya," ucap Bram, lebih ke dirinya sendiri, lalu dia kembali melihat semuanya.


"Dengar baik-baik apa yang akan aku katakan!"


Bram berhenti sejenak, lalu menatap Mila.


"Kalau bukan karena Dhea, Fio sudah tidak ada bersama kita lagi saat ini."


"A ... apa? Maksud Om, apa?" tanya Fio.


"Saat kamu dan Vena kecelakaan waktu itu, Dhea lah yang menolong kalian berdua, dan dia yang sudah mendonorkan darahnya padamu, Fio. Darahnya mengalir di tubuhmu, kamu bisa selamat karena darah darinya. Saat itu kondisimu sangat kritis, kamu kehilangan banyak darah, sedangkan stok darah yang cocok denganmu yang ada di rumah sakit ini sedang kosong. Dhea langsung mendonorkan darahnya padamu."


"A ... apa? Itu tidak mungkin," ucap Mila.


"Tidak, dia bahkan datang ke acara pertunangan kalian."


"Apa?"


Mereka yang mendengarnya tentu sangat terkejut.


"Tapi, kenapa aku tidak melihatnya?"


"Kalian memang tidak ada yang melihatnya, Tapi dia bisa melihat kalian dengan jelas."


"Bagaimana Om bisa tahu?"


Bram menghela nafas kembali.


"Apa kalian lupa, kalau guru yang membantu Dhea dan kepala sekolah di sana adalah sepupu Om? Dhea sering mendapatkan buku-buku kedokteran itu dari Om. Sejak awal Om sudah tahu kalau Dhea mendapatkan beasiswa ke Amerika."


"Jadi ...." Fio tidak tahu lagi harus berkata apa. Air matanya sudah menetes tak tertahankan.


"Dan dari hal lagi ...." Bram menatap Arya, padangan keduanya bertemu seolah saling memahami.


"Dhea ... Dhea lah yang mendonorkan ginjalnya untuk Vean!" Air mata Bram kini menetes.


Mereka membekap mulut mereka, tidak percaya dengan yang mereka dengar.


"Tidak ... tidak ... itu tidak benar. Itu bohong, kan?" Vean menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Yang mendonorkan ginjal itu Arya, bukan Dhea. Bukan Dhea!" teriak Vean.


"Bukan aku, tapi Dhea!" ucap Arya.


"Tapi kenapa? Kenapa bukan Arya?"


"Tentu saja jawabannya sudah jelas, karena Dhea yang ginjalnya cocok untuk kamu, bukan Arya."


"Kenapa? Kenapa Om malah terima? Kenapa tidak om tolak saja?" teriak Vean.


"Itu karena dia yang memohon. Meminta untuk mendonorkan ginjalnya agar kamu bisa selamat. Semua demi kamu dan Fio. Dia mengorbankan diri untuk kalian berdua! Dia bukan hanya mengorbankan darahnya dan ginjalnya, tapi juga masa depannya. Apa kalian tahu, dia kehilangan beasiswa ke Amerika itu karena kalian. Seharusnya dia datang ke Amerika untuk daftar ulang, tapi dia malah tetap bertahan di sini. Setiap hari diam-diam selalu melihat keadaan kalian sampai kalian berdua sadar di rumah sakit. Dia ... dia tidak pernah kuliah di Amerika. Tidak pernah! Apa kalian dengar itu? Tidak pernah!" teriak Bram.