Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
116 Ijab Kabul (Gombalan Anak SMP)


Jarak yang dekat antara SMP Dhea dengan SMA Vean, membuat keduanya sering bertemu.


Di sekolah itu, Dhea tidak memiliki teman yang benar-benar dekat. Pernah dia memakai barang-barang yang biasa-biasa saja, dan semua mata memandang dirinya dengan tatapan aneh. Maklum saja, ini adalah sekolah elite, yang para muridnya adalah anak-anak orang kaya semua dari berbagai bidang.


Vean menatap Dhea yang memakai barang-barang biasa, bahkan terlihat lusuh.


"Emang aku yang sebenarnya kaya begini, Kak. Kenapa? Aneh, ya? Kakak enggak suka sama aku karena aku miskin dan yatim piatu, ya?"


"Kamu pikir aku melihat orang dari latar belakang dan penampilannya saja?"


"Berarti Kakak suka sama aku?"


"Hm."


"Berarti kita pacaran, dong?"


"Ya enggak, lah. Pacaran mulu dipikirin, dasar bocil. Belajar yang benar."


"Aku sudah belajar. Udah di luar kepala. Tapi ada yang belum, dan itu harus dengan bantuan Kakak."


"Apaan, tuh?"


"Belajar jadi istri yang baik, calon suami." Dhea mengedip-ngedipkan matanya centil.


Vean menggigit bibir dalamnya, menahan senyum yang sangat ingin merekah.


Pria itu mendengkus menatap Dhea yang malah tertawa. Kenapa gadis kecil di hadapannya ini sangat suka sekali menggodanya?


"Kakak mau belajar ijab kabul dulu?"


"Enggak."


"Namaku Dheara Brilliana binti ... binti ...."


"Pokoknya Dheara Brilliana. Hapalin, Kak!"


"Sudah hapal belum?"


"Calon suami, sudah hapal belum?"


"Ish, aku aja hapal loh, nama calon suami aku. Vean Gavindra Watson."


"Kak, ayo latihan ijab kabul."


"Saya nikahkan ...."


Vean langsung membekap mulut Dhea dan membawa gadis itu pergi. Apa nanti kata orang, melihat dan mendengar anak SMP ngucapin ijab kabul?


"Kamu masih kecil, Dhea. Jangan sembarangan bicara."


"Ish, Kakak enggak tahu aja. Masa anak-anak tetangga aku di dekat kosan, suka main begitu. Padahal mereka masih pitik-pitik. Lah, aku kalah masa!"


"Jangan dewasa sebelum waktunya, Dhea. Pulang sana!"


"Antarin pulang, Kak."


"Pulang sendiri."


"Antarin."


"Enggak."


"Kakak harus ketemu sama calon mertua. Sungkeman dulu."


"Calon mertua?"


"Ibu kos aku. Nanti kapan-kapan aku kenalin ke mertua Kakak yang lain. Ibu panti. Nanti kalau sudah nikah, kita adopsi anak yang banyak ya, Kak. Aku jago loh, ngurus bayi."


Dhea tersenyum membayangkan saat dia ikut mengurus adik-adiknya di panti asuhan.


Wajah Vean kembali memerah. Dia jadi ikut-ikutan membayangkan saat Dhea nanti menimang-nimang anak mereka. Pria itu lalu menggelengkan kepalanya.


Pikiranku, oh pikiranku. Ayo kembali normal. Gadis kecil ini, kenapa selalu saja ada yang dia bicarakan dan dia pikirkan.


Vean—sadar tidak sadar—banyak bicara jika bersama gadis itu, setidaknya bicara dalam hati.


"Ayo pulang, jalan kaki saja."


"Jalan kaki? Kan jauh."


"Biar bisa gandengan tangan."


Vean langsung jalan dengan cepat. Dia tidak mau jantungan di tengah jalan kalau bergandengan tangan dengan gadis ceria itu.


Dhea menghela nafas berat, dan wajahnya cemberut.


"Cuma gandengan tangan, Kak. Gimana kalau aku minta cium?" teriak Dhea. Untung saja jalanan sepi.


Panas, itulah yang Vean rasakan di wajahnya. Dhea tertawa, dia sangat suka menggoda Vean yang menurutnya sangat unyu.


"Romantis banget ya, kita. Jalan-jalan seperti ini."


Romantis apaan, kita ini lagi jalan di pinggir got yang bau, hitam lagi.


Daun-daun kering berjatuhan.


"Kaya musim gugur ya, Kak. Tapi hatiku tidak akan gugur untukmu."


Ya ampun, aku selalu digombalin anak SMP.