Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
156 Harus Hati-hati


"Maaa ... Mamaaa ... Maa!"


"Apa sih, Fio. Teriak-teriak?"


"Ma, pokoknya aku mau batalin perjodohan aku dengan Vean."


"Apa? Gak, gak bisa. Seenaknya saja kamu membatalkan perjodohan itu. Enggak boleh!"


"Tapi aku enggak suka sama dia."


"Nanti juga lama-lama suka."


Memang, saat pertama kali melihat Vean, Fio terpesona dengan ketampanannya. Tapi setelah beberapa jam bertemu, Fio tidak suka.


Dia langsung tidak suka!


"Dia itu ketus, galak, judes, ngalahin emak-emak (seperti mama)."


"Mungkin itu karena baru kenal saja."


Karena baru kenal apaan, Dhea saja yang Sidah kenal bertahun-tahun bilang dia dingin.


"Pokoknya aku yang akan membatalkan perjodohan ini."


"Jangan macam-macam kamu Fio! Kamu mau bikin Mama malu, hah?"


"Ma, lagian aku juga masih muda, masih SMA. Mana mau aku nikah muda."


"Ya gak langsung nikah. Setelah lulus sekolah, tunangan. Baru setelah itu nikah dia tiga tahun berikutnya. Atau setelah kamu lulus kuliah."


"Enggak, gak mau. Dia bukan tipeku. Enggak romantis, gak bisa dimanja-manja sama dia."


"Ya kamu inisiatif dong, sama Vean. Coba kamu yang manja-manja sama dia. Mungkin dia suka sama cewek yang membuat dia dibutuhkan."


Apa iya? Apa karena itu, Vean jadi tidak peduli pada Dhea? Dhea kan kutu buku dan terlalu mandiri. Mungkin Vean jadi merasa tidak dibutuhkan.


"Kamu usaha dong, biar bisa lebih dekat dengan Vean. Minta antar jemput, kek. Ajak jalan-jalan ke mall, kek. Shopping, nonton, makan di kafe. Masa yang kaya begitu juga harus mama yang ajarkan!"


Malam harinya, keluarga mereka makan malam bersama.


"Vean, bagai kuliah kamu?"


"Baik, Om."


"Hm, Vean ...."


"Kok manggilnya Vean? Manggil Sayang, dong."


"Hm, iya. Sayang ...." Fio akhirnya memanggil Sayang, daripada dicubit pahanya oleh Mila.


Vean hanya memasang wajah datar, dalam hati ingin muntah.


...💦💦💦...


Fio sering memperhatikan Vean dan Dhea saat mereka jalan bertiga. Ingin tahu apakah Dhea berusaha mendekati Vean, menjelekkan dirinya, atau apa pun untuk memisahkan doa dari Vean.


Tapi tidak sama sekali.


Kapan kamu jujur kalau kamu menyukai Vean, Dhea? Apa kamu benar-benar tidak menganggap aku sahabat? Selama kamu tidak jujur padaku, aku juga tidak akan bilang apa-apa padamu.


Apa Vean benar-benar tidak menyukai Dhea?


Fio sering meminta Vean memilihkan baju, tas, sepatu untuk Dhea.


Ini pilihan Vean untuk kamu, Dhea.


"Fio, kamu itu kenapa sih, suka ngajak Dhea jalan bertiga."


"Emangnya kenapa, Ma? Dhea kan sahabat aku."


"Hati-hati, dia bisa saja menggoda Vean. Vean itu kaya, ganteng, gak ada yang kurang dari dia. Dhea anak yatim, miskin, kalau bisa dapatin Vean, langsung meningkat hidupnya."


"Mama kok bicara begitu, sih! Dhea tidak seperti itu."


"Mama ini sudah makan asam garam kehidupan. Kamu seharusnya hati-hati. Jangankan sahabat, saudara saja bisa menikam dari belakang."


Kalau memang Dhea ingin merebut Vean, sudah dari dulu kali, Ma. Lagian memang Dhea duluan yang kenal dan suka sama Vean.


"Nanti kalau Vean direbut sama Dhea, baru kamu nyesal."


Apa jadinya kalau mama tahu Dhea memang suka sama Vean? Enggak, mama enggak boleh tahu. Lebih baik aku juga pura-pura tidak tahu.


Fio menghela nafas. Dia jadi pusing mendengar mamanya yang benar-benar tidak suka dengan Dhea, hanya karena takut Dhea menggoda Vean.