
Keadaan pagi ini di sekolah sudah banyak murid yang datang. Sebagian murid belajar untuk Ulangan Kelulusan Sekolah yang akan di adakan di awal bulan.
🌺 Di Kantin Sekolah 🌺
"Guys minggu besok kita belajar bareng yuk!!" ajak Mia pada teman-temannya.
"Kita? Lu aja kali,gue mah nggak." ucap Fero.
"Eleh,,gaya lu nggak? nanti juga pas waktunya ulangan lu minta contekan." cibir Mia.
"Oh jelas. Klo nggak begitu,bukan Fero dong namanya." ucap Fero sangat percaya diri.
"Emangnya nanti lu mau minta contekan kesiapa Fer?" tanya Vino.
"Ke ceweknya lah Vin. Ke siapa lagi coba!" jawab Aldi.
"Siapa ceweknya?" tanya Vina.
"Lah buset dah. Lu masih muda udah pikun aja Na. Ceweknya si Fero kan cuma si Fani doang. Udah pasti dia minta contekan ke si Fani lah. Masa ke lu." jawab Aldi.
Revin,Jani dan Fani hanya mendengarkan saja pembicaraan teman-temannya. Sedangkan Fero sedari tadi ia memperhatikan Fani yang hanya diam tanpa ikut berkomentar.
"Ngapain juga si Fani kasih contekan ke dia. Nggak penting banget. Toh mereka juga udah putus. Uups." ucap Mia keceplosan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Uhuukk...uhuukk...uhuukk." Aldi yang sedang minum menjadi tersedak karena mendengar ucapan Mia.
"Kamu ngomong apa beb? Kamu serius? Kamu tahu dari siapa? Feran,hubungan kalian baik-baik sajakan? Come on guys,apakah di sini cuma gue doang yang ketinggalan info?" tanya Aldi beruntun.
"Bentar dulu deh by. Emangnya di sini ada yang namanya Feran ya?" balik tanya Mia yang merasa aneh mendengar ucapan cowoknya.
"Feran itu gabungan nama dari Fero dan Fani beb." jelas Aldi.
"Nggak usah ngadi-ngadi lu. Nama gue keren begini pengen ganti-ganti aja." ucap Fero tidak terima.
"Lah ngapa dah? Masih mending gue ganti jadi Feran. Dari pada gue ganti jadi Fampir." ucap Aldi.
"Lu tuh Drakula. Lagian males banget nama gue di gabung sama nama dia. " ucap Fero sinis sambil melirik ke arah Fani.
"Selow aja kali. Lu pikir si Fani mau namanya di gabung sama nama lu. Dia juga ogah namanya di gabung sama nama lu."ucap Mia kesal.
"Lah ngapa jadi lu yang sewot petasan kretek." ucap Fero.
"Enak aja ngatain gue petasan kretek. Lu tuh petasan kentut." ucap Mia tidak terima.
"Bau dong beb." kata Aldi sambil tertawa.
"Bisa pada diam nggak? Kita di sini mau pada makan bukan mau dengar ocehan kalian. Kalau kalian masih mau pada ribut. Mending kalian ribut di tengah lapangan noh." ucap Revin dingin.
"Nah loh si Rajes marah." ucap Aldi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Revin.
"Mampus lu." celetuk Vina yang menahan tawa.
"Tapi Fer. Gue jadi ingat sesuatu!"
"Ingat apaan lu?" tanya Vino.
"Kemarin gue liat lu jalan sama cewek. Jadi serius nih lu udah putus sama si Fani. Berarti lu gercep juga ya langsung berpaling ke lain hati." ucap Aldi.
"Klo emang dasarnya playboy ya gitu. Hilang satu tumbuh seribu. Namanya juga cowok murahan." cibir Mia yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Fero.
"Apa? Nggak terima? Gue ngomong apa adanya kok."
"Tapikan si Fero udah insaf beb. Dia udah nggak playboy lagi."
"Insaf apaan. Mana ada cowok yang ninggalin pas ceweknya lagi susah. Terkecuali cowoknya cuma mandang si ceweknya dari segi materi." ucap Mia.
Baru saja Fero ingin membalas perkataan Mia.
"Gue balik duluan." ucap Fani cuek dan langsung berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Eh,Fan tunggu kitalah." seru Mia.
Mia,Vina dan Jani pun menyusul Fani. Sedangkan yang cowok masih duduk berbincang-bincang sambil menunggu waktu belajar di mulai.
"Jadi serius nih Fer. Lu udah putus sama si Fani.?" tanya Aldi yang masih kepo karena belum mendapatkan jawaban.
"Lah jelas gue harus kepo. Jadi siapa yang putusin duluan.?" tanya Aldi lagi.
"Gue.." jawab Fero singkat.
"What.!!" seru Aldi heboh.
"Berisik Bambang." kata Vino.
"Gue nggak salah dengar nih? Lu yang putusin dia? Lu masih waraskan Fer. Lu nggak amnesia?" tanya Aldi beruntun.
"Gue masih waras. Lu tuh yang udah nggak waras." celetuk Fero.
"Sumpah lu b**o banget Fer. Emang masalah kalian apa sih. Sampe lu bisa sebodoh ini putusin si Fani.?" tanya Aldi.
"Mana bisa gue berhubungan sama orang yang pembohong. Apa lagi selingkuh di belakang gue." jawab Fero.
"Lah emang si Fani bohong apaan dah ke lu? Terus soal selingkuh? Masih mending dia selingkuh di belakang lu. Dari pada lu selingkuh di depan dia." ledek Aldi.
"Sialan lu." umpat Fero.
"Emang lu tau dari siapa dia selingkuh?" tanya Vino.
"Nggak dari siapa-siapa. Gue dengar dan melihat dengan mata kepala gue sendiri." jawab Fero.
"Terus lu udah klarifikasi belum sama si Fani?" tanya Aldi.
"Belum." jawab Fero singkat.
"Dasar b**o." umpat Aldi.
"Lu tuh yang b**o. Enak aja ngatain gue b**o." ucap Fero kesal.
"Emang lu b**o. Lu memutuskan hubungan tanpa lu cari kebenarannya terlebih dulu. Apa coba klo bukan orang b**o? Lagian gue nggak habis pikir sama jalan pikiran lu. Kok semudah itu sih lu bisa memutuskan hubungan sama si Fani. Emang lu nggak ingat perjuangan lu dulu dapatin si Fani? Dan sekarang ada masalah bukannya langsung di klarifikasi. Ini mah malah memutuskan hubungan. Sumpah lu tuh b**o banget Fer." sungut Aldi marah.
"Kok jadi lu yang marah sih. Dia aja yang gue putusin B aja."
"Ya jelas aja dia B aja lu putusin. Selama ini kan yang bucin itu lu."
"Sembarangan klo ngomong."
"Gue ngomong fakta ya. Mereka berdua juga tau siapa yang bucin." ucap Aldi sambil melirik ke Revin dan Vino.
"Oke gue akui klo gue bucin tapi itu dulu. Sekarang nggak ada lagi seorang Fero bucin sama cewek pembohong dan selingkuh."
"Terkadang yang kita lihat belum tentu kebenarannya. Nggak ada salahnya lu minta penjelasan ke dia. Siapa tau aja lu hanya salah paham." ucap Revin pada akhirnya yang sedari tadi hanya menyimak.
"Gue setuju apa kata Revin. Jangan sampai lu menyesal karena telah melepaskan dia yang selama ini ada untuk lu. Bahkan dia juga dengan besar hati bisa terima lu apa adanya." kata Vino.
"Emang gue kenapa? Semua cewek yang ada di sini juga pasti bisa terima gue. Dia ada untuk gue juga karena gue punya uang."
"Konsepnya nggak begitu Bambang." sungut Aldi kesal.
"Emang begitu Malih. Semua cewek di dunia ini pasti melihat cowok dari uang. Karena klo cowok nggak ada uang. Mereka nggak akan bisa bersenang-senang."
"Terserah,terserah." seru Aldi frustasi. "Cape gue ngomong sama lu. Gue cabut,lama-lama bisa darting gue di sini." ucap Aldi yang sangat kesal dengan sikap sahabatnya itu. Ia pun pergi meninggalkan ke tiga sahabatnya.
"Lah bocah sewot. Gue rasa dia belum minum obat tuh." ucap Fero.
"Cabut yuk Rev. Si Aldi yang bar-bar aja nyerah." kata Vino yang juga kesal pada Fero.
"Ckk. Kalian semua pada kenapa sih? Yang salahkan tuh cewek. Kenapa jadi gue sebagai korban yang di salahkan."
"Gue cuma berdoa. Semoga penyesalan itu nggak buat lu menderita." ucap Revin dan pergi bersama Vino meninggalkan Fero sendiri.
"Kalian pada nggak asik. Perlu kalian tau. Gue nggak akan pernah menyesal apa lagi menderita. Yang ada dia yang akan menyesal dan menderita karena telah mempermainkan gue." seru Fero yakin.
Revin dan Vino hanya mengabaikan ucapan sahabatnya itu. Tapi tidak dengan penghuni yang ada di kantin. Mereka semua melihat ke arah Fero.
"Sit.. Ini semua gara-gara lu." gumam Fero marah sambil mengepalkan kedua tangannya.
Bel sekolah berbunyi pertanda waktu jam belajar akan di mulai. Semua murid memasuki kelasnya masing-masing.