
Vean terus saja manyun. Dia gemas dan cemburu. Yuki sibuk memilih bajunya sendiri. Bukan karena itu sebenarnya, tapi karena baju-baju Yuki punya kembaran versi dewasa, yaitu milik Dhea. Dhea jadi kelihatan imut, dan Yuki semakin menggemaskan.
Bukan hanya baju, bahkan dandanan mereka pun sama persis.
Ya ampun, ingin sekali Vean melarang mereka untuk keluar rumah.
"Poto Mi, poto."
Tuh, belum apa-apa, Yuki sudah minta foto. Anaknya benar-benar sadar kamera. Begitu mendengar suara Faustin, balita itu langsung berlari ke luar. Menenteng sepatu berwarna putih.
Lagi-lagi Vean hanya bisa menghela nafas berat. Ternyata punya anak perempuan itu seperti ini. Setiap hari selalu merasa cemas. Takut anaknya dilamar orang.
Vean lalu melirik Faustin. Faustin memang selalu menjaga Yuki. Tapi justru anak laki-laki itu juga harus diwaspadai.
Vean masih sangat ingat, kalau dulu dia pernah bermimpi untuk melamar Dhea saat perempuan itu lulus sekolah. Berarti bisa saja kan, Faustin atau pria lainnya juga begitu.
"Kamu kenapa, sih? Kaya punya beban hidup yang begitu besar? Jangan-jangan kamu mau bangkrut, ya?" tanya Juna.
"Sembarangan!"
Kalau tahu begini, Vean jadi ingin punya anak laki-laki. Ya, seharusnya anak pertamanya laki-laki, jadi bisa ikut menjaga Yuki dari pria-pria yang ingin merebut Yuki dari mereka.
"Aku belum siap punya menantu."
"Ya ampun Vean, Yuki bahkan belum dua tahun."
"Kalian gak tahu sih, rasanya menjadi aku."
"Heleh, kamu saja dulu niat nikah muda."
"Tapi kan, gak jadi."
Mereka hanya menggelengkan kepalanya, tapi juga merasa lucu. Memang sih, harus mereka akui, Yuki itu memang menggemaskan. Bahkan banyak dari pasien Juna yang menanyakan tentang keponakan ciliknya. Memberi sinyal kalau mereka ingin menjalin hubungan keluarga.
Tanpa sadar Juna juga ikutan cemberut. Enak saja, keponakan kecilnya sudah diincar banyak orang.
"Sebaiknya nanti kalian punya anak laki-laki," ucap Vean.
Punya anak perempuan tidak sama dengan memiliki anak laki-laki. Rasa khawatirnya tentu saja jauh lebih besar. Vean merinding saat mengingat, banyak teman-temannya yang hamil di luar nikah. Bahkan ada juga yang menggugurkan kandungan hingga membahayakan nyawa sendiri.
"Kamu tahu sendiri kan, Jun, apa yang terjadi pada teman-teman kita."
"Benar."
"Makanya aku khawatir, bukan tanpa alasan dan posesif tak jelas."
Punya banyak teman playboy juga memberikan banyak pelajaran bagi mereka. Untung saja Vean dan Juna tidak seperti itu. Obrolan para lelaki itu membuat mereka jadi ikut ketar-ketir. Apalagi Felix dan Steve juga pernah tinggal lama di luar negeri.
"Kita akan saling menjaga anak-anak perempuan kita."
💦💦💦
Ternyata Yuki sangat menyukai kesibukannya sebagai artis cilik, begitu juga dengan Faustin. Anak itu tidak pernah terlihat lelah, bahkan sangat aktif berlari sana sini. Begitu melihat kamera, Yuki langsung berjingkrak-jingkrak di depannya, tanpa dia peduli apa kamera itu menyala atau tidak.
Yuki mulai bernyanyi-nyanyi di depan kamera itu. Padahal kameranya tidak menyala. Sedangkan kamera yang merekamnya, dia belakangi. Aksinya itu membuat orang-orang tertawa, termasuk sutradara.
Tidak lama kemudian, muncullah orang-orang yang membuat seluruh penonton berteriak histeris, heboh.
Kenapa?
Karena ....