
"Pokoknya sekarang kamu calon istri aku." Vean ingin memasang cincin ke jari Dhea, tapi gadis itu cegah.
"Gak, Kak. Aku gak mau seperti ini."
"A ... apa maksud kamu, Dhea? Kamu sudah tidak cinta sama aku lagi?" Mata Vean langsung berkaca-kaca, dan air matanya menetes dari sudut matanya.
"Dhea, please, tolong maafkan aku. Aku benar-benar tulus mencintai kamu. Bukan karena apa yang kamu pikirkan, Dhea. Tolong beri aku kesempatan, ya!"
Dhea menghela nafas, dia melihat cincin yang ada di genggaman tangan Vean. Diambilnya cincin itu, dan dilihatnya dengan lekat.
Dhea melihat mata Vean, lalu melihat cincin itu lagi.
Tiba-tiba saja Dhea berjongkok.
"Kak Vean, jadilah ayah dari anak-anakku ...," ucap Dhea sambil memasukkan cincin yang seharusnya untuk jari manisnya, ke jari kelingking Vean.
Hening ....
Suara tawa tiba-tiba saja terdengar.
Wajah Vean memerah. Dia jadi ingat saat SMP dulu, si gadis penuh kejutan ini kembali melakukan hal yang sama ....
"Kak, kayaknya coklat yang aku kasih jampi-jampi itu, manjur juga, ya."
Kembali wajah Vean memerah, membuat yang lain merasa geli.
"Pa, anakmu itu!"
"Anakmu juga itu, Ma."
Vean langsung kabur ke rumahnya, dia jadi salting.
Kenapa malah dia yang dilamar? Mana lebih romantis, lagi!
"Woy, Vean! Dilamar malahan kabur!"
Mereka semakin tertawa.
.
Para pria muda itu saling melakukan tos, sedangkan yang perempuan berpelukan.
Dan akhirnya Juna dan yang lainnya lari ke rumah Vean.
"Vean!"
"Gagal dah nih, lamarannya. Lamaran ulang woy, calon lakinya kabur!"
"Gladi resik doang ini, mah."
Puas sekali mereka menertawakan dan menggoda Vean. Pria yang sedang menjadi bahan bully itu sedang mengipas-ngipas wajahnya.
Dasar bocil, masih saja suka godain aku.
Nanti aku bikin pesta lamaran yang meriah, deh.
"Nah, ini nih, yang kabur."
"Woy, apa-apaan kalian!"
Mereka langsung membopong tubuh Vean.
"Dhea, nih Vean-nya, nih."
Mereka kembali tertawa. Juna dan keluarga Vean belum pernah melihat Vean yang seperti ini.
Byur
Tidak mengingat waktu, mereka masih saja heboh meski telah malam.
Vean tersenyum melihat cincin di jari kelingkingnya.
"Cieee, Vean dilamar."
"Diam kalian!"
"Awas, gak bisa tidur entar dia."
"Ho'oh, berasa lagi mimpi."
Vean mendengus, kenapa selalu dia yang digoda? Seharusnya, dan biasanya kan, yang digoda itu perempuan.
Mereka sibuk bercanda di dalam kolam. Tidak merasa dingin sama sekali.
"Ayo, mandi dan ganti baju sana. Habis ini kita barbeque!" ucap Bianca.
Semua berbaur layaknya keluarga besar.
Dhea memandang langit.
Ibu, ayah, di mana pun kalian berada saat ini, aku mendoakan yang terbaik untuk kalian.
Dhea sebenarnya masih berharap bisa bertemu dengan keluarga kandungnya. Tapi jika takdir memang tidak mempertemukan mereka, ya sudah, ikhlaskan saja.
"Dhea, pokoknya jangan nikah dulu sebelum aku punya pacar!"
Arya langsung mendengus, sedangkan Juna memalingkan wajahnya.
Dhea menimang-nimang bayi yang terbangun itu.
"Kak, tolong gendongin dulu, aku mau bikin susu."
Vean langsung grogi menggendong seorang bayi.
"Cie, Vean. Belum apa-apa sudah dikasih bayi sama Dhea."
Ingin sekali Vean menyumpal mulut mereka.
Vean menatap bayi mungil itu.
Dulu, Dhea dan Arya juga pasti seperti ini.
Friska tersenyum melihat Dhea yang sangat cekatan mengasuh bayi. Dia tidak perlu mengkhawatirkan apa pun jika Vean bersama Dhea.
Daging telah matang. Mereka makan bersama. Rasanya tidak pernah merasakan kebersamaan yang menyenangkan seperti ini. Suasana yang ramai bukan hanya karena para orang tua yang berkumpul, bukan hanya dimeriahkan oleh Dhea dan kawan-kawan juga Vean dan kawan-kawan, tapi juga anak-anak panti yang ikut meramaikan suasana ini.
Vean senyum-senyum sendiri melihat lagi cincin di kelingkingnya.
"Karatan lama-lama tuh cincin, dilihatin terus."
Arya, Felix dan Steve tertawa mendengar sindiran Juna.
Bagas dan adik-adik yang lain sedang membakar daging, sedangkan anak-anak panti yang perempuan, yang telah cukup dewasa, mengolah bumbu.
"Gimana Vean, rasanya dilamar?"
"Apa jantungnya cenat-cenut?"
"Baru kaya begini sudah grogi, gimana malam pertama!"
Vean langsung melempari mereka dengan kulit jagung, dan mereka justru semakin senang menggoda pria itu.
Ya, hanya Dhea saja yang bisa membuat Vean seperti ini ....