
Vean merasa cemburu saat Juna bicara dengan Dhea. Pria itu selalu memalingkan wajahnya, melihat Dhea dan Juna yang membicarakan masalah kuliah kedokteran.
Pikiran Vean menerawang, mencari cara agar perjodohan itu bisa dibatalkan.
Kalau aku mengatakan aku menyukai Dhea, pasti Dhea yang akan disalahkan. Lihat saja bagaimana tante Mila yang selalu memandang tidak suka pada Dhea.
Kalaupun sejak dulu aku mengatakan menyukai gadis lain, tetap saja mama tidak akan setuju.
Sebentar lagi, sebentar lagi Dhea akan lulus SMA. Itu artinya Vean akan segera bertunangan dengan Fio.
Apa aku kabur saja dengan Dhea?
Masalahnya tidak sesederhana itu. Friska punya riwayat penyakit jantung. Sudah beberapa Friska harus masuk rumah sakit karena berdebat dengan Vean. Itulah yang membuat dirinya lemah.
Dia tidak mau menjadi anak durhaka, tapi juga tidak bisa menurut begitu saja. Bahkan kesehatan mamanya akhir-akhir ini terganggu.
Setidaknya Vean tidak mengumbar janji atau harapan pada Dhea, yang nantinya akan melukai hati gadis itu, bahkan hatinya sendiri.
Antara cinta dan orang tua, memang apa yang harus Vean pilih.
Tiga tahun yang terasa berat. Vean merasa hampa.
Pria itu membuka kotak perhiasan. Bahkan sebelum dia bertunangan dengan Fio nanti, dia sudah lebih dulu membeli cincin untuk Dhea.
"Tidak masalah kalau kamu bertunangan dulu dengan Fio. Papa akan membantu kamu membatalkan perjodohan itu."
"Iya, tapi kamu untuk sementara ini, tolong terima dulu ya, pertunangan kamu dengan Fio."
"Tapi ...."
"Papa mohon, Vean. Ini demi mama kamu. Papa tidak akan memaksa kamu bersama Fio. Kamu anak papa satu-satunya, papa ingin kamu bahagia. Demi mama, ya?"
Vean mengangguk.
"Tapi papa tidak sedang menipu aku, kan? Bukan hanya akal-akalan papa dan mama, kan?"
"Percaya pada papa. Apa pernah, papa mengecewakan kamu?"
"Baiklah, aku percaya pada papa. Yaoi kalau sampai kapa bohong, aku janji akan pergi dari rumah selamanya, papa dan mama tidak akan pernah melihat aku lagi."
Friska mendengar pembicaraan itu dari balik pintu. Entah kenapa, perasannya tidak enak, seperti akan ada kejadian buruk yang akan menimpa.
"Sebaiknya kama batalkan saja perjodohan itu."
"Membatalkan pun, tidak bisa seenak itu, Pa."
"Kalau setelah pertunangan itu Vean masih belum juga menerima Fio, papa sendiri yang akan membatalkannya. Sekarang mama istirahat, jangan banyak pikiran."
Friska menghela nafas. Perasaannya sungguh tidak enak. Dan semakin dipikirkan, semakin membuat dirinya sakit.
...π¦π¦π¦...
"Mama akan sehat kalau kamu tidak lagi terus membicarakan pembatalan perjodohan itu, Vean."
"Ya, mama akan tetap sehat kalau aku bersama Fio, tapi aku yang akan sakit."
"Mama lebih mementingkan persahabatan mama dibandingkan anak kandung sendiri. Padahal anak mama hanya satu. Aku harap setelah ini mama akan bahagia, meski tanpa aku."
Deg
Deg
Deg
Jantung Friska berdetak tak karuan.
Di luar sana, Vean menghela nafas berat. Bukannya dia ingin menjadi anak durhaka, tapi dia selalu saja kesal saat membicarakan soal perjodohan itu.
Apa jadinya kalau mamanya sampai masuk rumah sakit lagi gara-gara dia? Bisa-bisa dia dianggap sebagai pembunuh seorang ibu kandung.
...π¦π¦π¦...
Mereka hari ini akan pergi ke pantai. Vean melirik kesal pada Juna yang memberikan sate ke piring Dhea. Ya, setidaknya malam ini dan beberapa hari ke depan, dia masih bisa melihat Dhea.
Kenapa tidak Juna saja yang berpacaran dengan Fio?
Mereka tiba di vila sangat malam.
Tangan Vean dan Dhea bersentuhan saat mereka memegang handle pintu. Jantung Vean berdetak kencang, ingin tetap memegang tangan itu, dan tidak melepaskan untuk selamanya.