Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
To.Episode 56


Setiap harinya sepulang sekolah mereka belajar bersama. Terkadang di rumah Revin dan terkadang juga di rumah Jani. Hanya dua rumah itulah yang menurut mereka nyaman.


Tidak terasa hari ini terakhir mereka melaksanakan ujian. Setelah itu mereka hanya menunggu hasilnya saja.


"Ada apa.?" tanya Fero yang baru tiba.


"Emm.. Pulang sekolah lu sibuk nggak?" tanya Fani ragu.


Tadi Fani mengirim pesan ke Fero untuk menemui dirinya di taman belakang sekolah.


"Kenapa?"


"Gue cuma minta waktu lu sebentar aja untuk menemui bokap gue."


"Nggak bisa." seru seseorang.


Seketika mereka pun melihat ke arah sumber suara.


"Dia mau pergi sama gue. Lagian lu ngapain sih masih ganggu dia. Lu tuh udah jadi mantan dan sekarang gue yang jadi ceweknya dia. Jadi lu nggak ada hak untuk ngajak cowok gue ke rumah lu. Apa lagi nemuin bokap lu." kata Sinta sambil bergelayut manja di lengan Fero.


Fero yang di perlakukan seperti itu hanya masang wajah cuek. Sedangkan Fani melihat itu rasanya ia ingin mendorong wanita centil di hadapannya saat ini. Entah mengapa hatinya masih tidak rela melihat Fero di sentuh seperti itu dengan wanita lain di depan matanya sendiri.


Tapi ia cukup sadar diri bahwa memang sekarang hubungannya dengan pria di hadapannya saat ini sudah tidak seperti dulu. Sekarang mereka sudah menjadi mantan.


"Gue lagi nggak ngomong sama lu. Jadi lu diem aja deh" ucap Fani jutek.


"Kok lu songong sih. Sadar dirilah lu itu bukan siapa-siapanya dia lagi. Lagian nggak tau malu banget sih. Udah selingkuh masih berani ngajakin cowok gue ke rumahnya. Kenapa nggak lu ajak aja selingkuhan lu itu." kata Sinta.


"Lu nggak tau tentang gue jadi nggak usah berkomentar." balas Fani menahan amarah. "Gue cuma minta tolong sekali ini aja. Gue juga nggak akan rebut dia dari lu." lanjut Fani.


"Mana ada maling ngaku." cibir Sinta.


"Oke klo gitu. Tapi ada syaratnya.!" kata Sinta.


"Apa?" tanya Fani.


"Tapi apa mungkin lu bisa janji dan nggak akan lu ingkari.?" tanya Sinta memastikan.


"Mmm.." balas Fani malas.


"Setelah itu lu harus jauhin cowok gue dan jangan pernah lu ganggu dia lagi. Gimana.!!"


Fero masih diam enggan untuk berkomentar. Sejujurnya dalam hati ia tidak rela jika harus di jauhkan dengan Fani. Karena tidak bisa di pungkiri jika sampai saat ini ia masih mencintai wanita di hadapannya saat ini. Tapi lagi-lagi hatinya di kalahkan oleh egonya.


Fani dan Fero saling menatap satu sama lain.


"Oke. Gue janji ini yang terakhir dan gue juga nggak akan pernah ganggu dia lagi." ucap Fani yakin.


*Deg*


Entah mengapa mendengar perkataan Fani seketika jantung Fero berdetak kencang.


"Gue pegang janji lu."


"Pulang sekolah gue tunggu di parkiran sekolah." ucap Fani.


"Ayo beb kita ke kantin." ajak Sinta sambil menggenggam tangan Fero.


Fani hanya menatap kepergian mereka.


"Tanpa lu pinta cepat atau lambat gue pun aku menghilang dari kehidupannya." gumam Fani lirih.


🌺  Di Dalam Mobil Fero  🌺


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Tidak lama kemudian mobil Fero sudah memasuki perkarangan rumah Fani.


Saat ingin keluar dari dalam mobil.


"Tunggu.." ucap Fani yang reflek memegang lengan Fero.


Sesaat mereka saling menatap satu sama lain. Sedetik kemudian Fani tersadar dengan apa yang dia lakukan.


"Maaf.." ucap Fani yang langsung menarik tangannya kembali.


Fero hanya memasang wajah cuek.


"Gue nggak sejahat itu. Sebenci-bencinya gue sama lu. Gue nggak akan mungkin menunjukkan di depan keluarga lu." ucap Fero cuek dan membuka pintu mobil.


Saat mereka memasuki rumah.


"Assalamu'alaikum" ucap mereka bersamaan.


"Wa'alaikumsalam." balas Papah Fani yang lagi menonton tv.


"Sore om." ucap Fero dan tidak lupa salam pada Papah Fani. Dan di persilahkan duduk.


"Akhirnya kamu datang juga."


"Fani ke atas dulu Pah." izin Fani dan berlalu pergi meninggalkan kedua pria itu.


"Dari mana saja kamu? Fani bilang kamu sangat sibuk. Memangnya kamu sibuk apa sampai tidak bisa menjenguk om di rumah sakit."


"Rumah sakit?" tanya Fero bingung.


"Iya rumah sakit. Sering sekali om suruh Fani untuk ajak kamu menjenguk om. Tapi Fani selalu bilang bahwa kamu sedang sibuk. Sampai om keluar dari rumah sakit pun kamu belum ke sini juga. Sempat om menyuruh Fani untuk meninggalkan kamu. Om mengira kamu menjauhi Fani karena keluarga kami yang sudah tidak seperti dulu lagi. Di sebabkan karena om mengalami kecelakaan dan koma cukup lama." jelas om Faris.


*Deg*


Betapa kagetnya Fero mendengar penjelasan om Faris. Kenapa selama ini dia tidak tahu bahwa papah Fani mengalami kecelakaan dan koma.


"Om sengaja suruh Fani ajak kamu ke sini karena ingin membahas hal penting."


"Om ingin meminta kepastian dari kamu. Apa kamu masih ingin melanjutkan hubungan kamu dengan anak om atau kamu ingin akhiri hubungan kalian? Om bertanya seperti ini karena om tahu berhubungan jarak jauh itu pasti sangat sulit untuk bertahan. Apa lagi di zaman sekarang."


"Maksud om gimana.?" tanya Fero yang semakin bingung dengan ucapan om Faris.


"Loh,memangnya Fani belum cerita ke kamu?" tanya om Faris. Fero hanya membalas dengan menggelengkan kepala dengan tatapan penuh tanya.


"Huft.. Mungkin Fani lupa. Memang rencana om ini sangat mendadak. Jadi kami sekeluarga berniat ingin--"


Belum sempat om Faris melanjutkan ucapannya. Fani sudah lebih dulu datang di tengah-tengah mereka.


"Papah." panggil Fani yang baru datang. "Sepertinya udah sore. Fero masih ada urusan. Jadi dia nggak bisa lama-lama di sini." kata Fani menyela omongan Papahnya.


"Benarkah itu nak Fero?" tanya om Faris.


"Iya,Pah." jawab Fani tidak membiarkan Fero untuk menjawab. "Ayo gue anter lu ke depan rumah." ajak Fani.


"Tapi Fan--"


"Udah ayo cepetan nggak usah banyak omong" kata Fani sambil menarik lengan Fero agar cepat-cepat pergi dari rumahnya.


"Yaudah klo gitu Fero pamit ya om. Semoga om cepat sehat dan bisa beraktivitas kembali." kata Fero.


"Makasih ya karena kamu meluangkan waktu ke sini." ucap om Faris.


"Sama-sama om. Assalamu'alaikum,," salam Fero pada om Faris. Setelah itu tangannya di tarik paksa oleh Fani.


"Wa'alaikumsalam." "Hati-hati di jalan." seru om Faris sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan dua remaja itu.


"Cepetan. Lamban banget sih lu jalannya." ketus Fani.


"Tadi aja mohon-mohon minta gue ke sini. Giliran gue udah ke sini malah di usir." cibir Fero kesal.


"Seharusnya lu senang dong nggak gue suruh lama-lama di sini. Lu kan jadi bisa malam mingguan tuh sama cewek baru lu. Baikkan gue sebagai mantan lu." ketus Fani.


"Baik apaan? Baru juga sampe udah langsung di usir. Jangankan di tawarin makan. Di kasih minum juga nggak."


Fani di buat kaget dengan perkataan Fero.


"Sorry gue lupa. Benar deh nggak bohong." ucap Fani menahan tawa sambil mengangkat tangan kanannya dan di bentuk huruf V.


"Kebiasaan lama klo nggak di pinta nggak bakalan peka." cibir Fero.


"Dan kebiasaan buruk membenci tanpa mau mendengar penjelasan." balas Fani. Seketika mendapatkan tatapan tajam dari Fero.


"Apa?" tanya Fani menantang. Mereka bertatap muka lama. Sampai ada suara yang membuat mereka tersadar dan memutus pandangan mereka.