Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
174 Takut Mendengar


Pintu ruangan kerja Dhea diketuk oleh seseorang.


"Ya, masuk."


"Nona, anda yang mencari Anda."


"Suruh masuk."


"Baik, Nona. Silahkan, Tuan."


Seorang pria tua masuk ke dalam ruangan kerja Dhea.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


Dhea memperhatikan pria itu. Laki-laki itu terlihat lusuh. Dagunya sedikit berjambang dengan kumis tipis.


"Apa benar kamu yang bernama Dhea?"


"Benar. Ada apa ya, Pak?"


"Begini. Hampir dua puluh lima tahun yang lalu, kakak ipar saya pernah memiliki seorang bayi perempuan."


Deg


Mendengar itu saja, perasaan Dhea langsung tak karuan. Dia mengira-ngira apa yang akan dikatakan oleh pria ini. Apa seperti yang dia duga, atau tidak.


"Begini, saat itu, kakak ipar saya sedang memiliki masalah. Dan di saat itu juga, kakak ipar saya sedang hamil besar. Saat itu pikirannya sedang buntu, jadi tidak sadar dengan apa yang dia lakukan ...."


Pria itu diam sejenak.


"Lalu?"


"Saya sudah menemui ibu panti, beberapa waktu yang lalu di panti asuhan. Dan ternyata saat saya kembali ke sana, orang-orang bilang kalau beliau sedang dirawat di rumah sakit."


"Benar. Ibu memang sedang sakit."


"Saya ingin mengatakan, kalau kakak ipar saya sedang sakit parah dan ingin bertemu dengan anaknya, secepatnya."


"Tapi, maaf sebelumnya, saya tidak tahu anak mana yang Bapak maksud. Selain itu, kondisi ibu juga tidak memungkinkan untuk membicarakan masalah ini. Dokter mengatakan agar beliau tidak banyak pikiran atau terlalu stres. Jadi ...."


"Anak perempuan itu kamu!"


"Anak itu kamu. Kakak ipar saya memberikan ini pada saya sebagai bukti." Pria itu memberikan foto lama, seorang bayi perempuan yang terbungkus selimut lusuh.


"Dia bilang, di bagian telapak kaki bayi itu ada tanda lahirnya, juga di bagian leher. Tapi yang dileher lebih kecil."


Dhea menggigit bibir dalamnya. Matanya berkaca-kaca. Tanda lahir yang dikatakan tadi, memang ada pada dirinya.


Tapi Dhea sendiri tidak tahu harus mengatakan apa.


Dia bingung. Ingin percaya, tapi hatinya ragu. Ingin menyangkal, tapi otaknya menolak.


"Begini, bagaimana kalau juga bicarakan lagi nanti, saat kondisi keadaan ibu sudah membaik."


"Baiklah. Oya, ini nomor ponsel saya. Saya hanya ingin mengatakan, kalau kondisi ibu kandung kamu benar-benar tidak baik saat ini. Jangan sampai nanti kamu menyesal. Memang, apa yang dia lakukan dulu, bukan hal baik. Tapi apa yang dia lakukan dulu, ada alasannya. Om harap kamu mau memberikan kesempatan untuk ibu kamu, meski sulit untuk memaafkan."


Dhea hanya bisa berdehem. Begitu pria itu keluar, Dhea mengambil kertas kecil bertuliskan nomor ponsel pria itu.


Dhea lalu pergi ke rumah sakit. Mau bekerja pun, dia tidak akan konsentrasi. Kaki dan tangan Dhea bahkan gemetaran. Dia memilih memesan taksi online saja. Bisa-bisa nanti dia datang ke rumah sakit bukannya sebagai pengunjung, tapi sebagai pasien lagi!


Dhea menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Pikirannya terbagi, antara kesehatan ibu panti, juga kepada ibu kandungnya, yang katanya juga sedang tidak baik-baik saja.


Haruskah Dhea merasa senang, atau tidak? Dengan kabar ini. Kabar yang tidak disangka-sangka, kalau—akhirnya—ads juga seseorang yang datang mencarinya sebagai keluarganya.


Mengatakan kalau ibunya masih hidup, meski sekarang tidak sehat. Tapi kenapa pria tadi tidak menyebutkan tentang ayahnya?


Masalah apa yang terjadi di masa lalu, sampai ibunya membuangnya?


Benarkah dia anak haram?


Anak hasil hubungan gelap?


Anak hasil hubungan terlarang anak remaja?


Anak penjahat?


Anak pelacur?


Dhea mengusap tangannya.


Aku ... takut mendengar alasan yang sebenarnya!