
Dhea merenung di dalam kamarnya. Di saat seperti ini, dia butuh kesendirian. Dia ingin bertemu dengan perempuan itu, tapi ragu.
Ini kamu sedang sakit sekarang, dan ingin bertemu.
Dhea kembali teringat perkataan itu. Dia juga teringat bagaimana saat dia sakit dulu.
"Dhea!" teriak Fio dari jalanan.
"Apa?" teriak Dhea dari dalam kamarnya.
Suara teriakan mereka berdua yang begitu nyaring seperti toa, membuat Vean segera keluar.
"Berisik, Fio!"
"Bukan hanya aku yang teriak, tapi juga Dhea. Kenapa hanya aku yang disalahkan?"
"Karena hidupmu penuh dengan masalah," jawab Juna.
"Dhea, Dhea, makan bakso, yuk!" teriak Fio. Malas dia meladeni orang-orang tidak jelas begitu.
"Kalian jangan bertengkar terus," ucap Dhea di depan pintu rumahnya.
"Biarkan, Dhe. Cewek cantik yang sering di-bully, jodohnya ganteng."
"Mana abang Bakso?"
"Itu," jawab Fio.
"Bang, beli sate kambing!" teriak Dhea.
Vean dan Juna menertawakan Fio.
Malam-malam begini, para pedagang memang paling suka mangkal di situ. Para penghuni rumahnya pada doyan jajan.
Bakso, sate, nasi goreng.
Sibuk menyiapkan dagangan mereka.
"Bagas, ajak yang lain makan. Pilih saja yang kalian mau. Ajak Micel juga!"
"Iya, Kak."
"Erza, nih makan."
"Iya, Nona."
Erza memang sudah tinggal di situ. Diperintahkan oleh Vean untuk ikut membantu Bagas saat tiba-tiba dibutuhkan. Maklum, sekarang banyak anak-anak kecil di sana.
Mengurus surat-surat ke pejabat setempat juga dilakukan oleh Erza. Mana mungkin menampung banyak anak-anak tanpa menimbulkan kecurigaan, kan?
Micel langsung betah tinggal di negara itu. Baginya, orangnya ramah-ramah.
"Pakai lontong tiga ya, Bang. Satenya tiga puluh."
"Lapar apa doga, Dhea?" tanya Juna. Tak habis pikir dengan gadis itu.
"Kan mau makan sepiring berdua sama Kak Vean? Yang iri mingkem!"
Wajah Vean memerah.
"Jangan ngayal suap-suapan, Vean. Yang ada nanti bibir kamu kecolok tusukan sate," ucap Arya.
Mereka memang perusak suasana.
"Ini Neng, satenya."
"Si Dhea, belakangnya bolong gak, itu?"
"Juna kamvret! Jangan nakut-nakutin!"
Tidak perlu keliling ke mana-mana. Cukup mangkal di sini dagangan mereka bisa habis.
"Udah kaya restoran berjalan, ya. Yang beli, kita lagi, kita lagi."
Bahkan pedagang sate Padang dan roti bakar juga ada pembeliannya.
"Ini, Kak." Dhea menyuapi Vean sate dan lontong.
Mereka saling suap-suapan. Juna yang melihat itu jadi pengen juga.
"Aku juga pengen."
"Sini, aku suapin," ucap Fio.
"Pengen satenya. Bukan pengen disuapin."
"Bang, sate kambing sepuluh, sate ayam sepuluh."
"Tadi ngatain aku, sekarang malah makan lebih banyak," ucap Dhea.
"Hehehe. Ngeliat kalian bikin napsu."
Plak
"Duh."
"Kata-katamu, tolong dikondisikan. Jangan sampai rumah kita digerebek gara-gara omonganmu yang rancu."
Juna cekikikan saja.
"Roti bakar, Bang. Sama martabak. Buat ngemil nanti malam."
"Ya ampun, makanan yang satu juga belum habis."
Bagas membagi-bagikan makanan itu untuk adik-adiknya. Mereka makan bersama. Membeli minuman di minimarket yang dibangun oleh Vean tidak jauh dari situ.
Sekuriti yang berjaga di lingkungan itu juga diajak makan.
Vean mengusap sudut bibir Dhea yang terkena bumbu sate.
"Kamu mau makan apa lagi?"
"Minta martabak, Kak."
"Sejak tinggal di sini, berat badanku nambah," ucap Felix.
Mereka lalu melihat ke tubuh masing-masing.
Butuh fitness, nih!