
Pulang sekolah Fani langsung menuju rumah sakit. Hari ini Papahnya sudah di bolehkan pulang ke rumah. Fani sangat bahagia akhirnya keluarganya bisa berkumpul seperti dulu lagi.
"Assalamu'alaikum." salam Fani saat mesuk ke ruang rawat Papahnya.
"Wa'alaikumsalam."
Fani pun tidak lupa mencium tangan ke dua orang tuanya.
"Fano mana Mah?" tanya Fani yang tidak melihat Adiknya.
"Tadi dia bilang katanya mau mengerjakan tugas sekolah di rumah temannya." jawab Mamah.
"Owh,,"
"Fero masih sibuk Fan?" tanya Papah tiba-tiba.
Fani tersentak kaget mendengar pertanyaan dari sang Papah.
"I-Iya Pah. Dia sudah berpesan klo sudah tidak sibuk. Dia pasti menemui Papah." jawab Fani gugup.
"Dia tuh masih sekolah tapi sibuknya sudah seperti orang bekerja. Hubungan kalian baik-baik sajakan Fan? Entah mengapa Papah merasa klo dia sedang menjauhi keluarga kita." ucap Papah yang mulai curiga.
"Papah ngomong apa sih. Itu hanya perasaan Papah aja kok. Fero memang lagi sibuk makanya dia belum bisa ke sini. Sebagai permintaan maaf dia menitipkan ini untuk Papah." ucap Fani sambil memberikan kue ke sukaan Papahnya yang biasa Fero bawakan setiap berkunjung ke rumahnya.
Fani sudah menduga pasti Papahnya mulai curiga jika sampai saat ini Fero belum mengunjungi Papahnya. Makanya tadi di jalan Fani mampir dulu ke toko kue untuk membelikan kue. Dan beralasan kue itu pemberian Fero tanda permintaan maaf karena sampai saat ini ia belum bisa menjenguk Papahnya.
"Papah tidak berharap apa-apa dari dia. Papah hanya ingin dia menjenguk Papah. Dari sini Papah sudah bisa menilai bahwa dia memang nggak tulus sama kamu Fan. Apa salahnya jika dia meluangkan waktu sebentar saja untuk ke sini. Apa karena keluarga kita tidak seperti dulu lagi. Dia jadi tidak ingin punya hubungan dengan keluarga kita lagi." ucap Papah.
"Dia masih sibuk Pah." lirih Fani sambil menunduk tidak berani untuk menatap Papahnya.
"Papah tanya ke kamu. Apa dia kerja?" tanya Papah serius.
Fani hanya bisa menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Tinggalkan dia." ucap Papah tegas.
Fani tersentak kaget mendengar ucapan Papahnya. Bagaimana mungkin Papahnya bisa bicara seperti itu. Karena selama ini Papahnya lah yang sangat mendukung hubungan dirinya dengan Fero. Selama ini hubungan Papahnya dan Fero juga sudah dekat bangat. Bahkan Papahnya sudah menitipkan Fani sepenuhnya pada Fero.
"Sudahlah Pah. Mungkin Fani benar. Fero hanya lagi sibuk. Makanya dia tidak bisa ke sini. Papah jangan buat anak kita sedih dong. Tuh,Papah lihat. Anak kita jadi murung gitu karena ucapan Papah." kata Mamah.
"Selesai ujian Papah mau dia datang ke rumah. Tidak ada alasan sibuk-sibuk lagi. Kamu tahukan kita tidak akan lama tinggal di kota ini. Jadi sebelum kita pergi. Papah ingin meminta kepastian dari dia. Dia mau serius sama kamu atau hanya ingin mempermainkan kamu saja." jelas Papah.
Fani hanya bisa terdiam.
"Ya sudah ayo kita balik ke rumah. Rasanya Papah sudah tidak betah berlama-lama di dalam ruangan ini. Papah kangen suasana rumah kita." sambung Papah.
"Fani harus gimana Pah? Gimana mungkin Fani bisa membawa dia ke hadapan Papah. Sedangkan dia aja sudah sangat membenci Fani. Tapi Fani juga tidak ingin Papah membenci dia. Cukup dia yang membenci Fani. Tuhan,,aku harus berbuat apa? Aku sangat bingung dengan semua yang terjadi." gumam Fani sedih dalam hati.
🌹
🌹
🌹
Hari terus berlalu. Tidak terasa hari Senin besok sudah mulai ujian. Seperti yang sudah mereka sepakati mulai hari ini Fani dan teman-temannya akan belajar bersama di rumah Jani.
"Jujur nih ya. Gue tuh masih belum siap ujian. Apa lagi ujian kelulusan. Sumpah ulangan harian aja buat otak gue mumet. Ini malah gue di hadapi dengan ujian akhir." ucap Fero frustasi.
"Seharusnya lu senang dong karena ini ujian akhir. Jadi besok-besok lu nggak harus mikir lagi deh." kata Aldi.
"Pala lu nggak harus mikir lagi. Setelah lulus gue juga pengen kuliah seperti kalian. Ya kali gue langsung kerja." sungut Fero.
"Ternyata lu punya pikiran untuk kuliah juga Fer?" tanya Vino.
Yang di sindir melirik sesaat ke arah Fero dan kembali fokus ke buku pelajaran.
"Anggap aja itu karma yang harus lu terima. Karena sebelum lu sama si Fani. Lu kan suka bohongin dan selingkuhin cewek-cewek." cibir Mia.
"Ya,,ya,,ya. Tapi nggak seperti itu juga caranya." balas Fero tidak terima.
"Terus lu mau yang seperti apa? Yang selingkuh terang-terangan di depan mata. Seperti yang sering lu lakukan begitu?" tanya Mia yang mulai tersulutemosi.
"Kalian kenapa jadi pada ribut sih. Kita di sini mau belajar. Bukan mau dengar pertengkaran kalian." ucap Vina menengahi.
"Dia tuh yg mulai." ucap Mia sambil menunjuk dengan dagunya.
"Lah ngapa jadi gue dah. Lu yang cari masalah duluan." balas Fero.
Vino berdecik. "Ckk. Kalian berdua tuh ya. Setiap hari selalu aja ribut. Sehari aja kalian nggak ribut bisa nggak.?"
"Enggak.!!" seru Mia dan Fero bersamaan.
"Sakarepmu." seru Vina dan Vino bersamaan.
"Lah ini kalian ngapa jadi pada paduan suara. Emang kalian pikir ini lagi di kontes nyanyi." kata Aldi.
"DIAM.!!!" seru Mia,Fero,Vina dan Vino bersamaan.
"Buset dah budek nih kuping." kata Aldi yang berada di tengah-tengah mereka.
"Gue ke kamar mandi dulu ya.!" izin Fani.
Setelah Fani pergi ke kamar mandi. Tidak lama Fero pun izin ke kamar mandi.
"Astaghfirullah." ucap Fani kaget melihat Fero yang berdiri bersender ke tembok sebelah pintu kamar mandi. Fero hanya memasang wajah datar.
Saat Fani baru melangkah maju.
"Puas lu.!" ucap Fero. Seketika Fani menghentikan langkahnya.
"Apa maksud lu.?" tanya Fani tanpa berbalik badan.
"Jelas-jelas di sini yang bersalah itu lu. Tapi mereka selalu menyalahkan gue yang menjadi korban lu." sinis Fero.
"Karena mereka tahu siapa yang salah dan siapa yang benar."
Fero berdecik. "Ckk,,,lu masih nggak sadar juga? Yang bohong dan selingkuh itu kan lu. Tapi di sini kenapa seakan-akan gue yang bersalah."
Mendengar tuduhan itu. Rasanya Fani ingin marah. Tapi sebisa mungkin dia meredam amarahnya.
"Karena keegoisan lu yang salah."
"Apa lu bilang. Gue yang egois? Lu nggak salah ngomong. Udah jelas-jelas lu yang egois. Gue udah berubah demi lu. Tapi apa balasan lu ke gue. Lu justru selingkuh di belakang gue." ucap Fero yang mulai tersulut emosi.
Fani memberanikan diri untuk menatap Fero. Begitu pun dengan Fero yang menatap dirinya dengan wajah penuh amarah.
"Sekarang gue tanya sama lu? Apa selama ini lu mengizinkan gue untuk menjelaskan yang terjadi? Seandainya gue bilang klo gue nggak pernah berniat untuk bohongin lu dan gue juga nggak pernah ada niatan sedikitpun untuk selingkuh dari lu. Apa lu percaya? Nggak. Lu nggak akan percaya karena lu terlalu percaya dengan apa yang lu lihat dan lu dengar. Tapi satu hal yang harus lu tahu. Terkadang apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar bukanlah kebenarannya. Terkadang seseorang yang kita anggap salah belum tentu bersalah." jelas Fani yang berusaha tegar. Meskipun rasanya ia sangat ingin menangis. Tapi sebisa mungkin ia tahan. Agar tidak terlihat lemah di hadapan pria yang sampai saat ini masih sangat ia cintai.
Fero hanya diam sambil menatap lekat mata Fani yang sudah Berkaca-kaca. Dia sangat tahu bahwa tatapan itu menggambarkan betapa terluka dan kecewanya wanita di hadapannya saat ini. Rasanya ia sangat ingin memeluk Fani. Tapi ia tepis semua itu karena ia masih kalah dengan egonya.
Fero membuang pandangannya. "Lu benar. Sampai kapan pun gue nggak akan pernah percaya dengan semua penjelasan lu." ucap Fero dan berlalu pergi meninggalkan Fani.
Di detik itu pun Fani sudah tidak bisa menahan air matanya.
"Sebenci itu kah lu sama gue. Kenapa lu nggak pernah mengizinkan gue untuk menjelaskan kesalah pahaman ini. Apa sudah tidak ada rasa sedikitpun di hati lu untuk gue. Kenapa lu harus seperti ini. Dimana Fero yang gue kenal dulu. Gue kangen lu Fer. Kangen kebersamaan kita dulu." ucap Fani lirih dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.