Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.41


๐ŸŒท ๐ŸŒท ๐ŸŒท


Sudah beberapa hari,Jani belum juga kembali. Sedangkan Revin,ia kembali menjadi pria dingin karena menjalankan hari-harinya tanpa Jani. Sebenarnya bisa saja Revin menyusul Jani ke Prancis. Tapi ia tak bisa mengabaikan sekolahnya. Apa lagi ia mempunyai tanggung jawab besar di sekolahnya.


*Bughh...*


"Sorry,sorry." ucap siswa yang baru saja menabrak Revin.


"Lo punya mata nggak. Klo jalan pake mata." ucap Revin marah. Vino memberi isyarat pada siswa itu agar ia segera pergi.


"Santai bro." ucap Fero sambil menepuk pundak Revin. Seketika Fero pun mendapatkan tatapan tajam dari Revin.


Saat mereka baru saja melangkahkan kakinya. "Hey,Rev!" sapa Sarah. Yang di sapa hanya diam memasang wajah dingin.


"Kamu mau ke kantin ya. Bareng yuk!" ajak Sarah sambil berglendot manja di lengan Revin.


"Lepas." ucap Revin dingin.


"Kenapa sih. Aku kan cuma mau makan bareng kamu." ucap Sarah yang masih berglendot manja di lengan Revin.


"Klo gue bilang lepas,ya lepas." bentak Revin sambil melepaskan lengannya dan mendorong tubuh Sarah. Lalu pergi meninggalkan mereka.


"Makanya jadi cewek jangan kegatelan." ucap Aldi dan berlalu pergi menyusul Revin. Mereka berempat pun pergi ke kantin untuk sarapan.


"Gue nggak akan pernah menyerah untuk dapetin lu,Rev." gumam Sarah kesal sambil mengepalkan kedua tangannya.


Sesampainya di kantin mereka memesan makanan dan minuman seperti biasa.


Di sana banyak yang membicarakan tentang perubahan Revin akhir-akhir ini.


"Liat deh. Semenjak beberapa hari ini Jani nggak masuk sekolah,si Revin jadi kembali key dulu. Bahkan lebih nyeremin yang sekarang."


"Iya. Kira-kira ada masalah apa ya sama mereka. Sampai-sampai si Jani nggak masuk sekolah."


"Gue denger-denger si waktu itu mereka bertengkar gitu di roof top sekolah. Apa mungkin karena itu si Jani jadi nggak masuk sekolah."


"Entahlah. Yang pasti gue berharap klo si Jani bisa masuk sekolah lagi. Karena cuma dia yang bisa mencairkan kerasnya si Raja Es itu."


"Betul banget. Bahkan si Sarah yang udah lama kenal dan ngejar-ngejar Revin aja. Dia nggak bisa mencairkan si Raja Es. Jangankan mencairkan,berdekatan sama Revin aja dia nggak bisa."


Begitulah yang mereka obrolkan dan sebagainya.


Saat Revin sedang menikmati sarapannya. Ia tak sengaja melihat seseorang di ujung sana.


"Dia," ucap Revin dalam hati.


"Hayo,,ngelamunin apa lu." ucap Aldi sambil menepuk punggung Revin.


Seketika Revin tersadar dan saat ia kembali melihat ke arah dimana seseorang itu berada. Ternyata di sana sudah tak ada siapa-siapa. Revin berniat untuk mencari keberadaan orang itu. Tapi saat ia ingin pergi.


"Lu mau kemana?" tanya Vino sambil memegang tangan Revin.


"Gu,,,gue..." ucap Revin gagap.


"Abisin dulu tuh sarapan lu. Setelah ini kita langsung ke ruang Osis. Lu nggak lupakan hari ini kita ada rapat buat acara ultah sekolah." jelas Vino.


"Tapi gue..."


"Udah cepetan kita nggak ada banyak waktu. Udah mepet banget nih." ucap Vino menyela omongan Revin.


Mau tak mau Revin menuruti apa kata Vino. Ia kembali duduk dan melanjutkan makannya. Sesekali ia melihat ke arah tersebut. Tapi tetap saja tak ada siapa-siapa di sana.


"Apa mungkin gue salah liat." ucap Revin dalam hati.


๐ŸŒน Di Ruang Osis ๐ŸŒน


"Gimana klo di acara nanti giliran Aldi dan Mia yang berduet bernyanyi di atas panggung." saran salah satu anggota Osis.


"Setujuu,!!" seru mereka bersamaan.


"Kalian berdua setuju?" tanya Vina pada Aldi dan Mia.


"Kita mah ikut aja. Iya nggak beb?" tanya Aldi pada Mia.


"Betul banget by." jawab Mia.


"Udah nih,nggak ada masukan lagi?" tanya Vino pada anggota Osis yang lainnya.


"Gue,!" seru salah satu anggota Osis.


"Apa?" tanya Fero.


"Gue dan yang lain sangat berharap jika Ketua Osis dan Sekretaris Osis juga membawakan sebuah lagu di atas panggung."


"Bagus juga sih masukannya." ucap Fero.


"Lu setuju nggak Rev?" tanya Vino pada Revin. Tapi yang di tanya hanya diam melamun.


Revin masih memikirkan yang ia lihat tadi di kantin. Dirinya begitu hanyut dalam pikirannya. Sampai ia tak fokus dalam rapat tersebut. Bahkan ia tak sadar sedang di ajak bicara dengan Vino.


"Revin!" panggil Vina yang melihat Revin melamun.


"Ah," Revin tersadar dari lamunannya.


"Tau lu Rev. Kaga profesional banget jadi KETOS." cibir Mia.


"Sorry!" ucap Revin datar.


"Jadi gimana?" tanya Revin.


"Ada juga lu yang gimana? Lu setujukan di acara nanti nyanyi berduet sama Jani?" tanya Aldi.


Saat Revin ingin menjawab. "Gue nggak setuju." seru seseorang menolak keputusan mereka. Revin sangat familiar dengan suara itu. Ia mencari arah sumber suara tersebut.


*Degg...*


"Jani,!" ucap Revin dalam hati.


Ia begitu kaget melihat orang yang selama ini ia rindukan dan ia nantikan kehadirannya. Sekarang sedang berada di hadapannya. Sejak kapan wanita itu ada di sana. Kenapa ia tak menyadari kehadiran Jani.


Revin melangkah mendekati Jani. "Ikut gue,!" ucap Revin sambil menarik tangan Jani paksa untuk keluar meninggalkan ruangan itu. Ia tak memperdulikan mereka yang ada di ruangan itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah membawa pergi Jani dari ruangan tersebut. Agar ia lebih leluasa berbicara dengan Jani.


"Rev,! Mau kemana lu?" tanya Fero yang melihat kepergian mereka. Tapi tak di jawab oleh Revin.


"Untuk rapat kita kali ini cukup di sini dulu. Nanti kita bicarakan lagi." ucap Vino pada anggota Osis. Mereka pun kembali ke kelasnya masing-masing.


"Apaan sih lu. Lepasin gue nggak." ucap Jani sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Revin.


"Revin lepas." seru Jani masih berusaha melepaskan genggaman Revin,tapi tenaganya tak sebanding dengan tenaga Revin.


Revin masih menggenggam kuat tangan Jani. Ia membawa Jani ke roof top sekolah.


"Lu ngapain bawa gue ke sini?" tanya Jani yang berada di belakang Revin. Revin masih diam tak menjawab pertanyaan Jani. Ia juga masih setia menggenggam tangan Jani.


"Revin lep..."


*Grepp...*


"Jangan pergi." ucap Revin.


Seakan waktu berhenti berputar. Pelukan Revin yang secara tiba-tiba membuat tubuh Jani kaku dan tak bisa mengeluarkan kata-kata.


"Jangan tinggalin gue." ucap Revin lirih.


Seakan tersadar karena Jani merasakan pundaknya basah. Apa mungkin itu air matanya Revin. Seorang Revin menangis di pelukan wanita.


"Lu kenapa? Lepas Rev." ucap Jani yang ingin melepaskan diri dari dekapan Revin.


"Nggak akan. Gue nggak akan biarkan lu pergi lagi." ucap Revin yang semakin mempererat pelukannya.


"Revin,lepas." seru Jani.


"Nggak. Gue nggak mau kehilangan lu lagi. Tolong jangan tinggalkan gue." seru Revin balik.


Jani semakin di buat bingung oleh sikap Revin. Sebenarnya apa yang terjadi saat ia pergi. Mengapa sekarang Revin bisa seperti ini. Sesaat Jani memejamkan matanya dan mengatur nafas.


"Aku janji nggak akan pergi dan tinggalkan kamu." ucap Jani dengan nada lembut. "Sekarang kamu bisakan lepasin aku." lanjut Jani.


Setelah mendengar perkataan Jani. Perlahan Revin melepaskan dekapannya. Ia meraih tangan Jani dan di genggamnya.


"Maafin aku. Maaf,klo selama ini aku udah salah faham sama kamu." ucap Revin tulus sambil menatap mata Jani lekat-lekat.


Jani tersenyum hangat ke Revin. "Aku udah maafin kamu,sebelum kamu minta maaf ke aku. Jadi mulai sekarang,kita lupain aja masalah yang sudah lewat. Yang lalu biarlah berlalu,nggak usah di bahas lagi." jelas Jani.


Revin kembali memeluk tubuh Jani. "Makasi Jan. Aku janji nggak akan buat kamu kecewa lagi." ucap Revin.


"Iya. Yaudah sekarang kita balik ke kelas yuk.!" ajak Jani. Revin melepaskan dekapannya. Setelah itu mereka berdua kembali ke kelasnya.


๐ŸŒน Di Rumah Jani ๐ŸŒน


Pulang sekolah mereka main ke rumah Jani dulu. Untuk mengobati rindu mereka pada Jani yang baru berjumpa. Padahal mereka tidak berjumpa cuma beberapa hari saja. Tapi Seakan-akan mereka tidak berjumpa beberapa tahun.


Ya,begitulah persahabatan yang mereka jalin. Karena selama ini mereka selalu bersama. Bahkan hari libur pun mereka habiskan waktu bersama. Jadi akan ada rasa kangen jika mereka tidak berjumpa walaupun cuma beberapa hari.


"Pulang sekolah langsung ke rumah gue,udah pada bilang belum ke ortu kalian.?" tanya Jani pada sahabat-sahabatnya.


"Udah dong." jawab mereka bersamaan.


"Kenapa nggak nanti aja sih pas hari libur main ke rumah gue nya.?" tanya Jani lagi.


"Ya,gimana ya. Abisnya kita kangen sama lu. Lu nya juga sih,pergi nggak bilang-bilang dulu sama kita. Tiba-tiba Juna bilang klo lu pergi ke luar negeri. Kitakan jadi syok tau dengernya." jawab Fani.


"Tau lu. Gue pikir lu pergi ke luar negeri karena frustasi." timpal Mia.


"Frustasi kenapa?" tanya Jani.


"Frustasi karena bertengkar sama Revin beberapa hari yang lalu di parkiran Mall waktu itu." jawab Vina meledek Jani.


"Mana ada. Nggak usah pada ngadi-ngadi lu." elak Jani cuek.


Sesaat Jani mengingat sesuatu yang harus di pertanyakan pada sahabat-sahabatnya itu.


"Btw,pas gue pergi beberapa hari yang lalu. Sebenarnya ada kejadian apa yang buat Revin berubah?" tanya Jani serius.


Sesaat mereka menatap Jani sebentar. Lalu mereka bertiga saling bertatap muka. Seakan tatapan mereka memberi kode satu sama lain.