Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
144 Merasa Terkucil


Dhea membuka matanya, melihat kota Jakarta yang sudah mulai terlihat. Lampu-lampu kota yang menerangi kota itu di malam hari, terlihat sangat indah.


Keluar dari pesawat, Dhea menghirup udara malam yang cukup segar.


"Kita makan malam dulu, setelah selesai ke rumah sakit."


Dhea memang tetap harus kembali di rawat di rumah sakit sampai waktu tertentu.


...💦💦💦...


"Kami pulang dulu ya, Dhea. Besok ke sini lagi," ucap Aila.


"Iya, kalian tidak perlu memaksakan diri. Istirahat lah, terima kasih sudah mendampingi aku selama di sana.


Dhea akhirnya kembali memejamkan matanya. Merasa lega karena sudah kembali ke Jakarta. Arya dan Vean masih ada di sana, tidak ada yang mau pulang karena ingin menemani gadis itu.


...💦💦💦...


Sinar matahari menembus sela-sela jendela. Sinarnya yang hangat menyentuh kulit Dhea yang sedang sibuk menggambar di buku sketsanya.


"Aku mau kerja dulu, ya. Sebentar saja, nanti aku cepat pulang."


Dhea mengerjapkan matanya, merasa ada yang aneh tapi apa? Vean mengangkat tangannya ke arah Dhea.


"Apa, Kak?"


"Salim."


"Salim?"


"Biasakan diri, Dhea. Nanti kan setiap hari kamu akan mencium punggung tanganku."


Sekali lagi, gadis itu mengerjapkan matanya, tapi dilakukannya juga.


"Aku pergi dulu, Sa ...."


"Ya ya ya, dah sana pergi!" celetuk Juna dan diangguki oleh Arya yang menguap. Vean mendengus, kenapa mereka suka sekali menggangu dirinya.


Setelah Vean pergi, Juna dan Arya tertawa, lalu melakukan tos. Dhea kembali melanjutkan kegiatannya. Tidak peduli apa yang akan kedua pria itu lakukan. Lagipula, keduanya bekerja di rumah sakit ini juga.


Menjelang siang, Clara, Aila dan Sheila datang.


"Ini pesanan kamu."


"Kamu sendiri di sini?"


"Iya, aku kan tidak harus selalu ditemani."


Dhea mengambil alat gambarnya yang dibawa oleh Clara. Mereka bekerja di kamar Dhea, sesekali mengobrol dan tertawa.


Mereka datang membawakan buah-buahan untuk Dhea.


"Gimana keadaan kamu hari ini, Dhea."


"Baik."


Dhea mengambil pisang yang dibawa oleh Felix.


Tidak ada kecanggungan antara mereka berenam, karena sudah bertahun-tahun saling mengenal. Di antara mereka, Dhea lah si bontot, tapi yang paling mandiri.


Dhea duduk di sofa, dan kini brankarnya ditiduri oleh Steven. Vean yang masuk dan melihat itu, merasa tidak suka—lebih tepatnya cemburu.


"Dhea, ayo periksa dulu," ucap dokter Bram yang masuk bersama dengan Juna dan Arya.


"Kapan saya boleh pulang, Dok?"


"Kalau semuanya baik-baik saja, mungkin tiga hari lagi kamu sudah boleh pulang."


Dhea sudah merindukan rumahnya. Rumah sederhana bercat putih dengan taman kecil di depannya.


...💦💦💦...


Hari ini Dhea Sidah diijinkan pulang ke rumah. Beberapa mobil berhenti di depan pagar rumahnya.


"Aku sudah membersihkan rumah kamu."


"Makasih, Clara."


"Kita bisa tinggal bareng lagi, Dhea."


Dhea memasuki rumah itu, terlihat sangat bersih dan tentu saja adem. Semua jendela di buka, baik jendela depan, maupun jendela yang menghadap halaman belakang.


Ibu kos, ibu panti dan adik-adik di panti juga sudah ada di sana. Mereka menyambut kedatangan Dhea dengan suka cita.


Arya juga sudah membeli rumah tepat di sebelah rumah Dhea, membuat Vean mendengus.


[Beli rumah di sebelah rumah Dhea. Jangan sampai enggak dapat!] perintah Vean pada Erza melalui pesan.


Arya juga tidak sendiri, bersamanya ada beberapa anak panti yang sudah dewasa, yang ikut tinggal di rumah itu.


"Kalau butuh pekerjaan, bisa hubungi salah satu dari kami," ucap Vean.


"Makasih, Bang."


Mereka sudah menyiapkan banyak makanan. Para perempuan ada di sudut kanan, para pria ada di sudut kiri. Fio merasa asing dengan keadaan ini. Semua orang terlihat akrab satu sama lain, hanya dirinya saja yang terkucil.