Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
153 Jangan Rebut


Dhea ingin mendekati Fio, meminta maaf kepada sahabatnya itu, tapi ditahan oleh Vean. Vean tidak mau kalau sampai nanti Dia disakiti oleh Fio, atau Mila.


Pria itu masih ingat sampai saat ini, bagaimana Mila yang menyakiti Dhea di depan toilet hotel. Kalau bukan karena memandang kedua orang tuanya yang bersahabat dengan kedua orang tua Fio, pasti sudah dia usir Mila.


"Tidak perlu meminta maaf pada Fio, Dhea."


"Tapi Kak ...."


"Fio, jangan seperti itu. Kamu bisa bikin Dhea salah paham!" ucap Vean dengan ketus.


Fio mengangkat wajahnya yang sudah sangat sembab.


"Fio, aku minta maaf ...."


"Tidak, Dhea. Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu. Jangan membenci aku, jangan menjauhi aku. Sebenarnya, aku sudah lama tahu kalau kamu menyukai Vean, hanya saja ... aku pura-pura tidak tahu."


"Apa?"


Arya menatap tajam Fio, dia jadi semakin kesal dengan gadis itu. Seharusnya sudah sejak dulu saja dia jauhkan Dhea dari gadis seperti Fio itu.


Kalau saja Fio itu boneka, pasti sudah dia patahkan kaki, tangan dan lehernya.


Kesel!


"Aku sudah tahu sejak awal, kalau kamu menyukai Vean ...."


Vean mendelik kesal pada Fio.


Cewek sialan!


...Flashback On...


Begitu sampai di Jakarta lagi, hal pertama yang Fio lakukan adalah mencari Dhea.


"Mau ke mana? Bari juga sampai."


"Nyari Dhea, aku kangen banget sama dia, Ma."


"Baru juga sampai. Istirahat dulu."


"Nanti, nyari Dhea dulu."


Fio mencari Dhea di kosannya, karena Dhea pernah mengatakan kalau dia kost.


Mobil Fio berpasangan dengan motor merah, yang pemiliknya memakai helm putih.


"Dhea!" teriak Fio.


"Fio!"


Mereka berpelukan, lalu meloncat senang.


"Kamu kapan pulang?"


"Baru hari ini. Sekarang aku menetap di sini lagi. Kita satu sekolah, aku mau sekolah sama-sama kamu. Ini oleh-oleh untuk kamu."


"Di sekolah kita, banyak cowok gantengnya gak, Dhe?"


"Banyak."


"Ada, dia dulu sekolah di sana juga, tapi Sidah lulus."


"Siapa siapa siapa? Pasti ganteng?"


"Ganteng. Ganteng banget, Fio." Dhea tersenyum malu mengingat wajah Vean.


"Siapa namanya? Kenalin aku ke dia sekarang."


Dhea menatap Fio. Gadis cantik dan kaya. Siapa pun pasti akan menyukai Fio.


"Gak, gak mau. Nanti kamu juga suka sama dia. Kamu jangan rebut dia dari aku." Tentu saja Dhea jadi merasa minder. Gadis yatim piatu yang menyukai pria tampan dan kaya, hanya saja selalu ditolak.


Mungkin selera kak Vean yang seperti Fio. Modis, cantik, kaya. Apalah aku ini!


Bagaimana nanti kalau mereka bertemu dan jatuh cinta?


Dhea memegang dadanya yang berdetak kencang, karena terlalu cemas.


"Jangan suka sama dia," gumam Dhea, yang ternyata masih didengar oleh Fio.


"Enggak, aku janji gak akan suka sama dia."


"Jangan janji, janji, Fio. Nanti kalau kamu ingkar, aku sakit hati."


"Jadi, kamu enggak mau kenalin aku?"


"Aku kenalin, kalau kamu juga sudah punya pacar."


"Nanti malah kamu yang suka sama cowok yang aku suka."


"Gak, aku lebih suka kakak ganteng-ku. Sidah dari kelas satu SMP aku suka sama dia."


"Hah? Serius? Kok gak pernah cerita."


"Ini cerita."


Fio malah semakin penasaran, seperti apa cowok yang disukai Dhea?


Pasti yang enggak jauh-jauh dari Dhea.


Kutu buku!


Kalau mereka pacaran, yang dibahas pelajaran terus, tuh.


Fio meringis membayangkan itu, dia jadi senyum-senyum sendiri.


"Ingat, jangan suka sama cowok yang aku suka, Fio."


"Gak janji," goda Fio.


"Fio!"


Fio tertawa saja melihat Dhea.


Dhea jadi membayangkan wajah Vean. Vean yang tampan, bisa saja kan Fio juga suka. Apalagi selera Fio juga bagus.


Belum apa-apa, aku sudah takut duluan.