
Kepergiannya Jani,ada sebuah mobil Sport merah memasuki halaman rumah Tante Rista. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi Revin keluar mobil dan berjalan menghampiri Mamahnya.
"Tadi siapa Mah?" tanya Revin sambil mencium punggung tangan Mamahnya.
"Yah kamu sih baru sampe. Mamah kan mau ngenalin penolong Mamah ke kamu." ucap Mamah Revin.
"Penolong Mamah?" tanya Revin bingung.
"Iya penolong Mamah,yang kemaren Mamah ceritain ke kamu. Tadi dia nolongin Mamah lagi." jelas Mamah Revin.
"Emang Mamah kenapa? Mamah sakit lagi?" tanya Revin khawatir.
"Nggak kok. Tadi hampir aja Mamah ketabrak sama mobil dan un..." ucapan Mamah Revin terpotong karena Revin menyela omongannya.
"Apa? Mamah ketabrak mobil? Terus mana yang luka? Ayo kita ke rumah sakit untuk priksa ke adaan Mamah!" ucap Revin bertubi-tubi sambil memeperhatikan Mamahnya dari ujung kepala dan ujung kaki .
"Kamu tenang dulu dong sayang. Mamah nggak kenapa-napa kok." ucap Mamah Revin seraya tertawa karena mendengar ocehan anaknya itu.
"Nggak kenapa-napa gimana Mah?" tanya Revin bingung.
"Iya,Mamah nggak kenapa-napa karena tadi itu Mamah di tolong sama wanita yang menolong Mamah waktu itu dan karena menolong Mamah. Kaki dia jadi terluka dan Mamah ajak dia ke sini untuk mengobati lukanya. Baru aja dia pulang,tadinya Mamah ingin kamu yang nganterin dia pulang,tapi kamunya baru sampe rumah. Asal kamu tau ya,wanita itu cantik banget dan baik pula. Pengen deh Mamah punya mantu seperti dia" jelas Mamah Revin seraya tersenyum senang.
"Apaan sih Mah. Revin aja masih sekolah,Mamah udah pengen punya mantu aja." ucap Revin males.
"Ya nggak papa dong. Toh sebentar lagi juga kamu lulus sekolah,jadi Mamah harus sudah menyiapkan pasangan hidup untuk kamu." ucap Mamah Revin seraya tersenyum.
"Terserah apa kata Mamah aja deh. Revin capek,mau istirahat." ucap Revin dan melangkah masuk ke dalam rumah,meninggalkan Mamahnya.
"Revin,,Mamah kasih tau ya. Kamu itu jadi laki-laki jangan dingin-dingin banget. Nanti kamu nggak laku baru tau rasa." seru Mamah Revin dari luar rumah dan Revin yang mendengar ucapan Mamahnya itu,ia lebih memilih mengabaikannya.
"Bener-bener deh tuh anak. Liat aja ntar aku jodohin dia sama gadis cantik itu." -gumam Mamah Revin yang melangkah masuk ke dalam rumahnya.
\* \* \*
Jani yang saat ini masih di dalam mobil,ia terus menggerutu karena jalanan yang begitu macet pagi ini. Ini sudah jam setengah tujuh lewat dan itu artinya sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi.
Jani berdecak kesal, "Kenapa harus macet sih. Bisa telat nih gw." gerutu Jani di dalam mobilnya.
Tepat saat bel sekolah berbunyi,mobil Jani memasuki area parkiran. Jani sedikit lega karena suasana parkiran yang sudah sepi.
Ia langsung turun dari mobilnya dan berjalan menuju kelasnya. Sebelum ia memasuki kelasnya,langkahnya ia buat senormal mungkin. Ia sangat benci jika ada orang yang mengatakannya lemah,apa lagi karena luka di kakinya.
Saat sudah sampai di depan ruang kelasnya. Jani melangkah menuju pada bangku yang biasa ia tempati. Untungnya Guru yang akan mengajar kelasnya belum dateng,jadi ia aman dan terbebas dari hukuman.
"Baru dateng Jan?" tanya Fani.
"Mmm,," jawab Jani dengan gumaman.
"Sekolah juga tuh anak. Kirain gw,dia nggak sekolah." -batin Revin seraya tersenyum tipis.
"Anjiirr... Pusing gw sama nih soal." gumam Fero frustasi.
"Woyy... Gw minta contekkan!" seru Fero.
Saat ini kelasnya sedang di hebohkan dengan adanya tugas Ekonomi. Bu Tiwi selaku Guru Ekonomi sedang tidak masuk karena sakit dan sebagai gantinya. Kelas di beri tugas mengerjakan sepuluh soal Ekonomi.
"Set dah,pada anteng-anteng amat sih. Pada nggak pusing apa ngitung uang yang nggak jelas keberadaannya!" teriak Fero.
"Fero kampret,,bisa diem nggak!" bentak Mia yang merasa terganggu dengan suara teriakkan Fero.
"Mulut lo gatel ya,kalo diem!" Vina ikut berbicara.
Fero yang merasa terpojokkan,ia hanya mengacungkan dua jarinya menjadi huruf V dan sambil nyengir tanpa dosa.
"Tanya pacar lo tuh." jawab Vino sambil melirik ke arah Fani.
"Fan..." ucap Fero terpotong karena mendapatkan tatapan tajam dari pacarnya dan ia pun mengurungkan niatnya yang ingin mencontek ke pacarnya itu.
"Vin,kasih contekkanlah." pinta Fero memohon.
"Tuh Revin udah kelar." ucap Vino sambil menunjuk ke arah Revin yang sudah selesai mengerjakan dan sekarang berjalan ke depan membawa kertas jawabannya.
"Eh Rev,jangan kumpulin dulu dong. Gw mau nyontek bentar." teriak Fero.
Revin tidak menanggapi,ia langsung kembali ke tempat duduknya di sebelah Vino.
"Punya otak buat mikir." ucap Revin sambil memainkan ponselnya,seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
"Nyesel gw tanya sama lo." ucap Fero dengan tampang kesal.
Seperti itulah Revin,ia tidak bermaksud tak ingin berbagi. Ia hanya ingin temannya sekolah juga,benar-benar untuk belajar. Bukan hanya untuk main-main saja. Revin kembali memainkan handphonenya.
"Woy,,Anjani Savira gw nyontek punya lo dong!" pinta Fero.
Pletak,,
Jani yang mendengar ucapan Fero,ia langsung melempar pulpen ke arah Fero.
"Nama panjangan gw SYAVIRA bukan SAVIRA." jelas Jani kesal sambil menekankan kata namanya.
"Ett dah,cuma kurang Y doang." ucap Fero dan mendapatkan tatapan tajam dari Jani.
"Selow dong mukanya,udah kayak mau nelen orang aja." seru Fero.
"Telen aja Jan." celetuk Aldi.
"Diem lo Bambang." ucap Fero kesel dan teman-temannya yang mendengar ucapan Fero pun jadi tertawa.
"ANJANI SYAVIRA yang Cantik dan Baik Hati,kasih gw contekkan dong!" ucap Fero dengan wajah di buat seimut mungkin.
"Ogah" ucap Jani singkat dengan wajah dinginnya.
"Set dah,tega amat. Gw udah mohon-mohon juga." ucap Fero dramatis.
"Mampus lo" ucap Aldi menertawakan temannya itu.
"Makanya Fer,jangan asal panggil nama orang. Apa lagi si Jani,dia itu paling nggak suka namanya di ganti-ganti." jelas Vino.
Fero yang mendengar ucapan Vino pun,ia lebih memilih diam tak ingin melanjutkan aksinya untuk mencontek.
"Nih buruan. Tiga menit nggak selesai. Gw ambil." ucap Fani yang menyerahkan kertas jawabannya pada Fero.
"Thank's bebz." ucap Fero senang. Ia pun langsung menyalin kertas jawaban pacarnya ke kertas jawaban miliknya.
Sedangkan Revin masih setia melihat Jani. Setelah mendengar perdebatan wanita itu dengan temannya. Membuat ia mengingatkan pada seseorang.
"Nggak mungkin. Itu pasti bukan dia." -batin Revin.
Revin pun kembali memainkan ponselnya.
Hemmm... Kira-kira Revin lagi mengingat siapa ya?? Apakah KEKASIHNYA atau MUSUHNYA...???
Ingin tau kelanjutannya. Nantikan terus cerita ini dan di jadikan cerita favorite anda. Jangan lupa juga tinggalkan likenya untuk cerita novel ini. TERIMAKASIH ππππ