
🌹 Di Rumah Mia 🌹
Di sinilah mereka berada,seperti yang sudah Mia katakan. Malam minggu ini mereka berkumpul di rumah Mia.
"HBD ya. Maaf gue datangnya telat." ucap Fani yang baru tiba.
"Iya nggak apa-apa. Key sama siapa aja lu." kata Mia.
"Kenapa lu nggak bareng sama Fero?" tanya Vina.
"Emm. Iya soalnya tadi gue ada urusan dulu. Jadi gue suruh dia untuk berangkat duluan." jawab Fani gugup.
"Yaudah ayo beb kita mulai BBQ-an." ajak Aldi pada Mia.
Mereka pun memulai BBQ-an. Seperti biasa yang cowok-cowok memanggang. Sedangkan yang cewek-cewek menyediakan minuman.
"Btw. Nggak ada yang mau nyumbang lagu buat gue gitu." ucap Mia.
"Fani tuh." celetuk Jani.
Uhuk...uhuk...uhuk...
Fani yang sedang menikmati minumannya. Seketika ia tersedak mendengar ucapan Jani.
"Njiirrr. Lu tuh ya,klo ngomong suka nggak di filter dulu. Untung gue kaga mati tersedak." ucap Fani kesal.
"Mati tinggal di kubur." celetuk Vina.
"Dasar sahabat nggak ada akhlak." cibir Fani.
"Ayolah. Lu mau ya,Fan.!" bujuk Mia sambil menarik-narik tangan Fani.
"Kaga ah. Kenapa musti gue sih,yang lain aja ge." kata Fani menolak.
"Tapi gue maunya lu,Fan. Mau ya pliiiss." ucap Mia memohon.
"Berani bayar gue berapa.?" tanya Fani santai.
"Ish,lu tuh ya. Nyebelin banget deh." kata Mia mengkrucutkan bibirnya.
"Udah sana. Sama adik sendiri nggak boleh begitu." ledek Vina.
"Idiih. Sejak kapan dia jadi adik gue? Jadi teman aja buat telinga gue sakit. Apa lagi jadi adik." ucap Fani.
"Makanya cepetan. Emang lu mau,dia mengeluarkan suara cemprengnya itu.?" tanya Jani.
"Kampret lu,Jan. Suara gue merdu begini di bilang cempreng." sungut Mia tak terima.
"Iya,iya. Bawel banget sih kalian." ucap Fani dengan wajah kesal.
Biarpun ia enggan untuk bernyanyi tapi dirinya merasa tidak enak melihat wajah Mia yang seperti itu. Dengan terpaksa ia menyanyikan sebuah lagu untuk sahabatnya yang sedang berulang tahun.
Fani mulai memainkan gitar. Seketika yang sedang memanggang melihat ke sumber suara.
*Deg*
Pandangan Fero dan Fani terkunci untuk beberapa saat.
"Lagu ini khusus buat lu,Fer." kata Fani dalam hati. Fero lebih dulu memutuskan pandangannya.
SAUQY_CINTA STADIUM AKHIR.
Tuhan,perubahannya
Semakin terlihat dimataku
Salah apa diriku
Ku semakin merasa jauh
Mungkinkah rasa sayangku tak lagiÂ
Berarti untuknya
Tuhan,ku sangat menyanginya
REFF :
Aku di sini kan slalu menunggumu
Sampai kapanpun ku kan menuggumu
Walau hati ini slalu kau sakiti
Karna yang kuinginkan hanya kamu
Kembalilah duhai kekasihku
Teruskan kisah yang sempat terhenti
Walau ku tau ini berat bagimu
Selama Fani bernyanyi pandangannya tak lepas menatap Fero. Sampai lagu pun selesai.
Prok...prok...prok...
Mereka memberi tepuk tangan. Tidak terkecuali Fero,ia hanya memasang wajah cuek dan berusaha tidak tersenyum.
"Keynya lagunya dari hati banget nih." cibir Vino.
"Iya. Si Fani nyanyinya pake perasaan banget." tambah Aldi.
"Tapi sayang yang di nyanyiin hatinya ngga tersentuh." timpal Revin.
Fero hanya diam mendengar perkataan sahabat-sahabatnya.
🌹 Di Kantin Sekolah 🌹
Jani dan ke tiga sahabatnya baru tiba di kantin sekolah.
"Kita gabung sama mereka aja yuk!"ajak Mia sambil menunjuk ke arah Revin dan ke tiga sahabatnya.
"Terserah,," ucap Jani singkat.
"Emang harus banget ya kita gabung sama mereka?" tanya Fani jutek.
"Ya,ngga juga sih. Tapikan klo rame lebih seru." jawab Mia.
"Yaudah ayo keburu bel istirahat selesai." ajak Vina.
Mereka pun berjalan menuju meja yang di tempati oleh ke empat cowok itu. Sebelum mereka menyapa ke empat cowok itu. Mereka mendengar percakapan ke empat cowok itu.
"Eh,Fer. Gue perhatiin beberapa hari ini hubungan lu sama si Fani nggak seperti dulu. Lu juga mulai mau di deketin sama cewek-cewek di sini. Emang lu nggak takut apa nanti di amuk sama si Fani?" tanya Aldi.
"Ngapain gue harus takut. Emang dia siapa.!" kata Fero cuek.
"Kaliankan pacaran." ucap Vino.
"Males banget gue pacaran sama cewek key gitu." celetuk Fero.
*Deg*
"Sebenci itukah lu sama gue,Fer. Setelah lu tau gue yang sekarang." kata Fani dalam hati. Tanpa disadari air matanya mengalir di kedua pipinya.
"Jangan gitu. Nanti di tinggalin baru tau rasa." kata Revin.
"Betul banget tuh. Key lagunya Raja Dangdut Indonesia yang judulnya Kehilangan. Kalau sudah tiada baru terasa. Bahwa kehadirannya sungguh berharga." timpal Aldi sambil bernyanyi.
"Iya deh tau yg pecinta dangdut mah." cibir Fero. Mereka pun tertawa bersama. Tapi tidak dengan Revin,ia hanya tersenyum.
Fani tidak ingin mendengar pembicaraan mereka lagi. Ia pun berbalik badan dan berlari menjauh dari tempat itu.
"Fanii..!!" panggil Mia kencang. Fani menghiraukan panggilan Mia,ia terus saja berlari.
*Deg*
"Fani.." kata Fero di dalam hati.
"Ayo,Mi." ajak Vina untuk mengejar Fani.
Seketika mereka melihat ke sumber suara itu. Mereka melihat kepergian Fani,yang di susul oleh Mia dan Vina. Tidak jauh dari situ ada Jani yang sedang berdiri menatap mereka.
"Mampus." celetuk Aldi.
Jani melangkah mendekati mereka dengan tatapan tajam. Jani berhenti tepat di depan Fero.
*Plak...*
Jani menampar pipi Fero sangat kencang. Sampai murid yang ada di kantin itu pun yang tadinya ramai berbincang-bincang. Seketika mereka menjadi diam karena mendengar tamparan Jani. Nampak begitu jelas amarah di wajah Jani.
"Klo lu nggak mencintai dia lagi. Setidaknya lu akhiri hubungan kalian dulu. Klo cara lu key gini,itu sama aja menunjukan klo lu bukan seorang LAKI-LAKI tapi BANCI." ucap Jani pelan menahan amarahnya. Tapi Fero dan ke tiga cowok itu masih mendengar ucapan Jani. Jani meninggalkan tempat itu dan menyusul para sahabatnya.
"Alamat akan ada perang besar nih." celetuk Aldi.
"Gue sih nggak ikut-ikutan." kata Vino.
"Ingat kata pepatah. Omonganmu adalah harimaumu. Semoga penyesalan nggak hadir di hidup lu." ucap Revin sambil menepuk pundak Fero.
"Apa maksud lu?" tanya Fero.
Revin mengangkat sebelah pundaknya. "Lu pikir aja sendiri. Gue duluan ya!!" pamit Revin dan meninggalkan ke tiga sahabatnya.
"Woy,,Ref tungguin kita-kitalah." seru Aldi.
Mereka pun menyusul Revin. Tidak lama kemudian bel istirahat selesai.