
πΉ Di Rumah Revin πΉ
Seperti biasa setiap pulang sekolah mereka main ke rumah Revin. Ya,karena hanya di rumah Revin lah tempat ternyaman untuk mereka berkumpul.
*Pletak*
"Aww,,cari mati lu ya.!" seru Revin yang baru saja di timpuk remot oleh Fero.
"Lah,lu lagian dari tadi senyum-senyum bae. Belum minum obat lu ya.!" ucap Fero.
"Dia tuh bukannya belum minum obat Fer. Tapi dia udah operdosis." ucap Aldi.
"Nggak usah ngadi-ngadi lu." ucap Revin dingin.
"Jadi,tadi gimana?" tanya Vino pada Revin.
"Gimana apanya?" tanya Revin balik.
"Ckk,,kelanjutan hubungan lu sama Jani." jawab Vino. "Udah ada kemajuan belum?" lanjut Vino bertanya.
"Nggak gimana-gimana. Yang pasti gue udah minta maaf sama dia dan dia udah maafin gue." jawab Revin santai.
"Ckk,,key nya si Raja Es ini mulai lemot otaknya." cibir Aldi.
"Sembarangan klo ngomong. Lu kira gue Fero." ucap Revin sambil melirik ke Fero.
"Lah,jadi gue." ucap Fero tak terima di bilang lemot oleh Revin.
"Sekarang gue minta,kalian jelaskan semuanya sama gue!" ucap Revin serius pada sahabat-sahabatnya.
Mendengar perkataan Revin,mereka saling bertatap muka.
"Oke,jadi gini..."
π Flashback On π
"*Oh,ka Jani. Hari ini dia pergi ke luar negeri ka." ucap Juna.
"Apa!!!" seru mereka bersamaan.
Mendengar itu Revin langsung lari meninggalkan mereka semua.
"Bang Revin mau kemana?" seru Juna yang melihat kepergian Revin. Tapi tak di jawab oleh Revin,karena jarak Revin sudah berada jauh dari mereka.
"Kapan Jani pergi?" tanya Mia.
"Dia balik ke sini lagikan?" tanya Fani.
"Dia nggak akan pindah sekolah ke luar negerikan?" tanya Fero.
Berbagai pertanyaan mereka lontarkan ke pada Juna. Juna yang mendapatkan serangan pertanyaan begitu banyak dari mereka. Ia memasang wajah bingung sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal.
"Ya ampun,gimana nih klo sampe si Princess Salju pindah sekolah. Bisa-bisa sekolah kita ini menjadi gurun pasir." ucap Aldi.
Mendengar perkataan Aldi,seketika mereka memberikan tatapan tajam ke Aldi.
"Kalian ngapain liatin gue? Ganteng ya gue!" ucap Aldi dengan wajah tak berdosa*.
π° Ya ampun Aldi. Lu kok pintar banget sih. Yang lain lagi pada serius tapi lu malah ngomong yang nggak penting π€¦ lobang mana lobang,rasanya author pengen ngilang aja klo begini mah. Turun drastis ini mah harga martabak gue sebagai author. π°
"*Jangan sampe nih kuah bakso nyungsep ke atas kepala lu." ucap Fero menahan amarah.
"Gue tendang mati lu." ucap Fani kesal.
"Sabar Mi sabar. Untung sayang." ucap Mia dalam hati sambil mengelus dadanya.
"Kalian pada ngapa sih? Jangan pada emosian napa. Bahaya tau,nanti kalian bisa punya riwayat darah rendah." ucap Aldi.
"DARAH TINGGIII.!!!" seru mereka bersamaan.
Juna,Vino dan Vina hanya diam sambil tersenyum dan geleng-gelengkan kepalanya*.
"*Kalian..."
"Ngomong lagi,gue kubur hidup-hidup lu." ancam Fero kesal. Seketika Aldi pun mengurungkan niatnya untuk berbicara.
"Belum pernah gue bagel sih lu." ucap Fani.
"Kenapa tiba-tiba Jani pergi ke luar negeri?" tanya Vino pada akhirnya.
"Ada urusan yang harus dia selesaikan di sana." jawab Juna.
"Dia nggak lamakan di sono! Kapan dia balik?" tanya Vina.
"Enggak. Katanya sih klo urusannya selesai,secepatnya dia balik ke sini." jawab Juna.
"Owh,," ucap mereka bersamaan*.
π Flashback Off π
"Itu sih salah lu sendiri." jawab Aldi santai.
"Maksudnya?" tanya Revin dengan wajah bingung.
"Salah lu karena selama ini kan,lu nggak ada bertanya sama kita." jelas Fero.
"Njiiirrr,,sejak kapan gue punya temen key kalian semua. Nggak guna." sungut Revin kesal.
"Lu nya aja yang bucin. Orang belum selesai ngomong udah pengen pergi aja." ledek Vino.
"Mana ada. Gue cuma mau minta maaf aja sama dia." elak Revin malu-malu.
"Klo cuma minta maafkan bisa lewat chat atau telphone." ucap Fero.
"Yaa,itukan karena gue..."
"Mulai BUCIN.!!" seru mereka bersamaan.
"Sialan kalian." umpat Revin kesal.
Melihat ekspresi Revin,membuat mereka tertawa puas.
π· π· π·
Suasana sekolah hari ini sangat ramai. Bahkan sudah memasuki waktu jam belajar di mulai. Masih ada sebagian murid yang berada di luar kelas. Di karena hari ini semua Guru sedang mengadakan rapat.
"Btw,kita latihannya kapan nih?" tanya Mia.
"Latihan apa?" tanya Jani bingung.
"Ckk,,latihan nyanyi buat acara ultah sekolah kita nanti." jawab Mia kesal.
"Lah,itu sih terserah kalian. Kan tugas kalian yang bakalan nyanyi. Klo tugas kita giliran jadi penonton. Iya nggak Na.!" ucap Fani pada Vina.
"Betul." ucap Vina.
"Kira-kira nanti kita mau bawain lagu apa ya beb?" tanya Aldi pada Mia.
"Belum tau by." jawab Mia.
"Butuh masukan nggak nih dari gue?" tanya Fero pada Mia dan Aldi.
"Boleh. Apa tuh?" tanya Aldi.
"Mendingan nanti lu bawain lagu. SIKSA DALAM KUBUR." ucap Fero di akhiri dengan ketawa. Mereka yang ada di situ ikut tertawa mendengar ucapan Fero.
"Sialan lu." umpat Mia kesal sambil memukul pundak Fero.
"Kalian berdua santai banget. Kalian udah dapet lagu yang mau di bawakan nanti ya?" tanya Vino pada Jani dan Revin.
"Emangnya siapa yang mau nyanyi?" tanya Jani.
"Kalian berdualah. Lu sama Revin." jawab Vina sambil menunjuk Jani dan Revin.
"Waktu itu kan gue udah bilang. Klo gue..."
"Kita udah nemuin lagu yang mau kita bawakan nanti." sela Revin.
"Lu apaan sih. Gue..."
"Bagus dong klo gitu. Tinggal kalian cari waktu untuk latihan aja. Biar nanti pas di hari H nya,kalian nggak malu-maluin gue." ucap Fero.
"Dih,apa hubungannya sama lu Malih?" tanya Aldi.
"Ada dong. Karena kan yang ngajarin mereka nyanyi gue." jawab Fero dengan begitu pedenya.
"Setres lu ya. Fan,keynya laki lu mulai setres nih." ucap Mia.
"Emang udah lama." celetuk Fani.
"Yaampun,tega banget sih ay. Pacar sendiri di bilang setres." ucap Fero drama. Fani hanya memasang wajah cuek.
"Btw,gimana pulang sekolah nanti kita berkumpul di rumah Revin aja." saran Aldi.
"Ngapain di rumah gue? " tanya Revin.
"Kita bicarakan soal acara nanti." jawab Aldi.
"Gue setuju." ucap Fero.
"Kenapa nggak di rumah Jani aja?" tanya Mia.
"Yaelah,sekali-sekali kalian pada maen ke rumah si Raja Es ini." ucap Fero sambil melirik ke arah Revin.
"Boleh juga. Lu ikutan Jan?" tanya Vina pada Jani.
"Nggak tau. Liat nanti aja deh." jawab Jani cuek.