Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
85 Sama-sama


Vean menatap wajah Dhea, dia seperti Putri Tidur yang masih saja betah memejamkan matanya.


Bangunlah Dhea, ayo bangun! Sampai kapan kamu mau memejamkan matamu? Maafkan aku yang telah banyak melukai hatimu.


Vean lalu mendekati bibirnya ke telinga Dhea.


"Kalau kamu tidak mau bangun, aku akan meminta om Bram untuk mengeluarkan lagi ginjal ini dari tubuhku. Aku akan memejamkan mata sama seperti dirimu. Aku rasa, mungkin dunia itu memang lebih baik. Kita berdoa tidak perlu merasakan sakit apa pun lagi. Benar, aku juga tidak mau merasakan kesakitan ini lagi," bisik Vean.


"Ini bukan ancaman, aku hanya memberi tahu kamu saja."


Vean kembali menghela nafas, merasa sedikit lebih lega telah mengatakan itu.


Benar, apa gunanya hidup dengan kesakitan ini.


Bukan sakit secara fisik, tapi hati yang terluka. Vean menepuk-nepuk dadanya, merasa sesak dan tidak tahu bagaimana cara untuk bernafas dengan baik.


"Seharusnya aku memang tidak ada di sini, kan? Maafkan aku yang sudah membuat kamu seperti ini."


Vean kembali ke ruang tunggu, duduk di dekat Arya yang memejamkan matanya. Dia dan Arya tidak banyak bicara. Mungkin saja karena Arya masih marah padanya. Marah karena dirinya, Dhea sampai mengorbankan ginjalnya. Marah karena dia memiliki kekasih dan calon ibu mertua yang menyebalkan.


Vean bisa menerima itu. Bahkan dia pun, menyalahkan dirinya sendiri.


Vean tidak bisa duduk dengan tenang, dia sering kali menoleh ke pintu ICU, berharap kalau seseorang yang sedang berbaring di dalam sana akan segera sadar.


...💦💦💦...


Vean duduk di bangku samping brankar, meraih menatap mata dengan bulu mata lentik itu.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau bangun?"


Tidak ada, nyatanya tidak ada yang bisa Vean lakukan.


Dia hanya bisa menunggu dengan ketidak pastian.


Berharap akan keajaiban.


Menanti dalam kekalutan.


Dan itu sangat tidak menyenangkan.


Dhea tidak bisa melihat siapa orang itu, tapi dia sangat hapal dengan gestur tubuhnya.


Apa aku bermimpi? Ya, pasti aku bermimpi. Vean tidak mungkin ada di sisiku.


Dhea tidak bergerak sedikit pun. Dia takut, kalau dia bergerak, maka bayangan Vean akan menghilang. Biarkan dia menikmati saat-saat seperti ini, meski ini hanya mimpi.


Setidaknya, di saat seperti ini, tidak ada Fio di antara kita. Biarkan hari ini menjadi milikku.


Dhea ingin menatap Vean sepuasnya. Meski yang dia tatap hanya punggung yang menunduk. Dia ingin membelai rambut Vean, tapi sekali lagi, dia sangat takut.


Takut akan kehilangan. Takut untuk tidak bisa menerima kenyataan kalau ini hanya mimpi.


Vean mulai bergerak dalam tidurnya. Dilihatnya mata redup itu sedang menatap dirinya.


Mata mereka saling menatap.


Mereka ....


Sama-sama berpikir kalau itu hanya mimpi.


Keduanya sama-sama diam.


Yang satu takut kalau bayangan itu akan pergi kalau dia bicara atau bergerak.


Yang lain takut kalau mata itu kembali terpejam kalau dia memalingkan wajahnya dan pergi.


Apa mungkin seperti ini yang dimaksud dengan waktu seolah berhenti?


Karena bagi mereka, mereka sama-sama ingin menghentikan waktu. Tidak ingin semua ini cepat berlalu, dan mereka kembali ke alam nyata.


Vean berharap Dhea benar-benar sadar.


Dhea berharap Vean benar-benar ada di sisinya, meski dia harus terus tidur sepanjang hidupnya.


Jangan bangunkan aku, batin Dhea.


Jangan tutup lagi matamu, batin Vean.