
Salju pertama turun, Dhea langsung berlari ke tengah-tengah pekarangan rumah dokter Petter.
Gadis itu mengusap air matanya yang mengalir di sudut matanya.
Ternyata aku benar-benar bisa melihat semua ini lagi. Dan ini nyata, bukan hanya angan tak bersambut.
Dhea menengadahkan wajahnya ke atas. Merasakan bulir salju di kulit wajahnya. Vean menghampiri gadis itu. Menggenggam tangan Dhea, merasakan jemarinya yang ditutup oleh sarung tangan.
Keduanya sama-sama teringat saat Dhea SMP dulu.
Kita benar-benar mewujudkan perkataan itu. Perkataan dan keinginan seorang bocah SMP.
Tuhan benar-benar mengabulkannya, mengabulkan impian seorang gadis remaja yang berjuang seorang diri untuk memperoleh keinginannya.
Salju pertama di tahun ini, aku bisa melihat dan merasakannya bersama kak Vean. Dulu, aku tidak pernah menyangka kalau semua perkataan aku itu, benar-benar bisa terwujud. Kebahagiaan ini mungkin tidak bisa aku rasakan tanpa melalui proses yang panjang.
Tuhan, terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk tetap bertahan.
Vean mengeratkan pegangannya di tangan Dhea.
Aku sempat berpikir kalau aku dan Dhea tidak akan pernah ke sini bersama. Pernah merasa gagal mewujudkan impian yang sudah aku tanam sejak aku mengenal bocah kecil itu.
Terima kasih Tuhan, sudah membuatnya tetap bertahan. Sudah memberikan aku kesempatan untuk mewujudkan semua ini bersama dengan seseorang yang sangat aku cintai.
...π¦π¦π¦...
Meskipun ada di Swiss, mereka tetap menjalankan pekerjaan mereka. Vean jadi bisa memantau perusahaan yang ada di sini, sedangkan perusahaan yang ada di Jakarta dijalankan oleh papanya dan Erza.
"Aku mau memindahkan kantor pusat butikku ke Jakarta." Dhea memeriksa laporan keuangan butiknya.
Setiap bulan omsetnya semakin bertambah, semakin banyak juga orang-orang yang mengunakan hasil rancangan miliknya.
"Aila bilang, dia sudah mencarikan tempat yang cocok di Singapura, kalau kamu mau membuka butik di sana."
"Iya, tapi aku masih pikir-pikir dulu."
"Jangan kelamaan mikirnya."
...π¦π¦π¦...
Vean sedang melihat-lihat foto beberapa perhiasan di laptopnya. Lalu dia melirik kelingkingnya yang masih terdapat cincin yang seharusnya dia berikan untuk Dhea.
Udah pewe, begitu mungkin dipikirannya.
Vean lalu memilih sepaket perhiasan dengan batu mulia yang langka.
[Tuan, proses renovasi panti asuhan sudah berjalan.]
[Bagus, lakukan dengan cepat. Semuanya harus selesai begitu kami kembali ke Jakarta.]
[Baik, Tuan.]
Vean ingin memberikan kejutan untuk Dhea. Bukan hanya untuk gadis itu, tapi juga untuk Arya. Arya juga sudah dia anggap saudara, Meksi tetap saja ada rasa iri dan cemburu pada pria untuk Arya, karena Arya sudah mengenal Dhea sejak masih bayi. Tumbuh besar bersama, bermain bersama, belajar bersama.
Jangan dipikirkan, jangan dipikirkan!
...π¦π¦π¦...
"Apa yang kamu pikirkan?"
Arya tidak langsung menjawab pertanyaan Juna. Pria itu hanya menghela nafas berkali-kali. Vean hanya melirik Arya, yang terlihat kelelahan, mungkin juga karena efek cuaca yang terlalu dingin, padahal penghangat ruangan sudah dinyalakan.
"Kalau nanti Dhea bertemu dengan keluarganya, bagaimana?"
"Ya bagus, dong. Dia jadi tidak akan sedih lagi, apalagi mendengar perkataan orang-orang yang suka menyudutkan dan menghinanya."
Arya menghela nafas kembali.
"Kalau nanti Dhea dibawa pergi oleh keluarganya, bagaimana?"
Vean dan Juna langsung menatap Arya. Mereka bertiga langsung memikirkan hal yang sama.
Kalau begitu, lebih baik Dhea tidak bertemu dengan keluarganya saja.
Aku harus segera menikahi Dhea.
Dhea itu adikku. Kenapa setelah sekian lama, setelah Dhea menjadi orang sukses dan menjadi designer ternama, baru ada yang datang?
Berbagai pikiran buruk datang. Bukan karena mereka jahat, atau tidak ingin Dhea bertemu dengan keluarganya. Tapi sebagai orang yang menyayangi Dhea, mereka hanya terlalu khawatir saja. Khawatir yang berlebihan.
Kalau Dhea bertemu dengan keluarganya, aku harus menyelidiki mereka. Jangan sampai Dhea disakiti dan dimanfaatkan saja oleh mereka, batin mereka bertiga.