Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
250 Cuci Mobil


"Maaf, boleh kami minta foto bersama."


"Foto?"


"Iya, bersama anak-anak ini."


"Yuki dan Faustin? Memangnya kalian mengenal mereka?"


Tapi rasanya tidak mungkin juga, pikir mereka.


"Ini mereka, kan?"


Salah satu dari orang itu menunjukkan ponselnya. Di ponsel itu menunjukkan video Yuki dan Faustin tadi siang di restoran.


"Loh, ini kan mereka. Kenapa bisa ada di sini?"


"Ini saat aku dan Erza rapat tadi siang."


Bisa dilihat berapa banyak orang-orang yang sudah menonton video itu. Yuki dan Faustin mendadak menjadi artis cilik. Bahkan kini ada orang lain lagi yang sedang merekam mereka berdua.


💦💦💦


"Lelahnyaaa ... aku waktu masih kecil, gak ada yang pernah ngajak foto bareng. Padahal aku ganteng," ucap Juna.


Vean mendengus mendengar perkataan Juna yang terlalu percaya diri.


Mereka memang kelelahan menahan fans dadakan Yuki dan Faustin.


"Siapkan manager untuk mereka, mungkin sebentar lagi mereka akan menjadi artis," lanjutannya.


Hari-hari berikutnya berjalan dengan damai. Mereka sekarang lebih berhati-hati saat mengajak Yuki dan Faustin. Bisa-bisa nanti Yuki dan Faustin dimintai tanda tangan. Bukannya tanda, malah cap jempol yang dikasih.


Di Sabtu pagi yang cerah ini, di mana para penghuni gang CEO sedang bersantai-santai di bawah pohon rambutan yang mulai berkembang, Vean sedang merenggangkan otot-ototnya.


Pria itu lalu mengambil selang, dan menyiapkan air sabun. Faustin datang dengan wajah polosnya, baru saja selesai sarapan.


"Eh, calon mantu, pagi-pagi udah mau ngajak ngapel aja. Sini, bantuin cuci mobil biar dapat restu."


Dokter Petter dan dokter Stevie langsung melirik Vean. Entah karena geli dibilang calon mantu dan ngajak ngapel. Atau karena kesal anaknya disuruh cuci mobil.


Faustin terlihat berpikir.


"What is lonlon tutu?"


"Lolon tutu is balon dihitung satu-satu."


Mereka tertawa mendengar jawaban Vean.


"Alon, mau alon. Li alon," sahut Yuki. Balita itu meloncat-loncat ingin dibelikan balon.


"Minta sama uncle Juna dan Arya."


"Ayo Faustin, bantu Daddy mertua cuci mobil."


Faustin lalu mengambil kain lap, dan menepuk-nepuk ke mobil Vean. Yuki langsung ikut mereka. Mengambil ember lalu nyemplung ke dalamnya.


"Ya ampun, Yuki," ucap Dhea.


Vean tertawa saja. Faustin yang tadinya berniat menyabuni mobil Vean, lalu berlari ke rumahnya. Tidak lama kemudian Faustin datang membawa ban renang, sabun dan sampo.


Yuki kembali meloncat-loncat kegirangan, hampir saja jatuh kalau tidak ditangkap oleh dokter Petter.


"Ck, calon mantu yang tidak bertanggung jawab."


Bagas dan Erza akhirnya membawa kolam renang karet yang berukuran sangat besar. Meletakkan di depan rumah dan mengisinya dengan air. Anak-anak lain mulai berdatangan.


"Geser ke sana. Nanti tanaman Dhea bisa mati!" ucap Vean. Tentu saja Vean tidak akan membiarkan tanaman yang ditanam oleh Dhea itu mati.


Seperti biasa, otak bisnis kembali berjalan di pikiran mereka.


Bukan hanya anak-anak, bahkan sekarang para perempuan itu juga ikut-ikutan main air.


"Ya ampun, kalian kaya anak kecil saja!" ucap Steve.


"Nanti kapan-kapan kita ke pantai, ya. Cari liburan panjang, biar bisa menginap beberapa hari di sana."


"Liburan ke pegunungan juga enak."


Para pria itu saling tatap. Menyenangkan pasangan mereka adalah kewajiban, jadi habis ini mereka harus meeting.


Namun ada yang terlupakan ....


Mobil Vean masih berlumuran sabun.


"Daddy tak tanggung jawab. Mobilnya masih banyak sabun," celetuk Faustin.


"Eh, eh, eh, menyenangkan pasangan itu yang utama, Faustin. You know?" tanya Vean.


Faustin lagi-lagi diam, terlihat berpikir. Lalu dilihatnya Yuki yang sedang bermain tanah basah, dan menempelkan di mobil Vean. Yuki mengajak Faustin.


"Yes, I know." Anak laki-laki itu lalu ikut mencetak telapak tangannya yang penuh lumpur di mobil Vean.


Vean mengajak nafas berat sambil mengelus dada.


"Faustin, Daddy akan menyeleksi kamu dengan ketat untuk menjadi calon menantu."


Faustin menoleh sekilas pada Vean, lalu kembali mengolesi mobil itu dengan tanah.


"Sakitnya tuh, di sini ...," ucap Juna sambil tertawa bersama yang lain.