Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
175 Siapa Pria Itu?


"Dhea, kenapa wajah kamu pucat begitu? Kamu sakit? Ayo aku periksa."


Juna segera mengirim kabar pada Vean dan Arya. Kalau tidak, bisa-bisa dia dikeroyok oleh kedua pria itu.


Arya yang mendapat kabar dari pesan, langsung berlari ke bawah. Sedangkan Vean yang ada di perusahaan, langsung pergi ke rumah sakit.


"Dhea, apanya yang sakit?" tanya Arya.


Dhea hanya menggeleng saja. Dia tidak sakit, hanya lemas saja karena kabar yang dia dengar dari seorang pria yang tadi datang ke butiknya.


Gadis itu menghela nafas berkali-kali, jelas sekali kalau dia sedang banyak pikiran, atau mungkin masalah berat?


Tidak lama kemudian Vean datang, bertanya tentang hal yang sama.


"Ada apa, Dhea? Apa kamu tidak ingin bercerita pada kami?"


"Tadi, ada seorang pria yang datang menemui aku."


"Apa? Apa dia menggoda kamu?"


"Tidak, dia hanya ingin membawaku pergi."


"Apa? Beraninya dia. Katakan, siapa pria itu?" tanya Vean. Dia mengepalkan tangannya, ingin membalas pria itu jika berbuat jahat pada Dhea.


"Me ... mereka datang ...."


"Siapa, Dhea?"


"Keluargaku, atau setidaknya, orang yang mengaku keluargaku."


"Apa?" Mereka bertiga saling menatap.


"Bagaimana bisa? Di mana kalian bertemu?"


"Di butik. Dia datang ke butik."


"Coba ceritakan pada kami, semuanya."


Dhea lalu menceritakan apa yang terjadi di butik.


"Ini nomor ponselnya."


"Jangan menghubungi dia, biar kami saja yang mengurusnya," ucap Arya, mencatat nomor itu di ponselnya dan memasukkan kertas ke kantongnya.


"Apa kamu percaya?" tanya Vean


"Hmmm, entahlah. Aku bingung. Dia bilang, ibuku sedang sakit dan sangat ingin bertemu. Apa ... apa aku harus bertemu dengan perempuan itu? Dulu, aku sangat ingin bertemu dengan keluargaku, tapi sekarang rasanya sangat aneh. Saat apa yang dulu sangat diinginkan, terjadi di depan mata."


"Kami paham. Tidak mudah memang. Kita bisa mencari tahu dulu kebenarannya. Jangan percaya begitu saja."


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, jalani saja semua. Masih ada kami."


"Kamu istirahat saja dulu di kamar ini."


Kamar itu adalah kamar perawatan. Tidak lama kemudian Dhea tertidur, karena memang kelelahan.


Vean mengusap kening Dhea, dan gadis itu semakin terlihat tenang dalam tidurnya. Lama kelamaan Vean ikut mengantuk, pria itu tertidur di samping brankar Dhea.


...💦💦💦...


Dhea terbangun dan hanya melihat ada Vean yang tidur sambil menjaganya.


"Kak, bangun!"


"Aku ketiduran."


"Makan yuk, Kak. Aku lapar."


Vean tersenyum mendengar perkataan Dhea. Gadis itu memang tidak pernah malu-malu dengan apa yang dia rasakan. Tidak berpura-pura kenyang—padahal lapar, demi menjaga image.


"Ayo, kita ke kafetaria."


Vean mengandeng tangan Dhea. Tangan gadis itu masih terasa dingin, dan Vean mengusapnya dengan pelan.


"Jangan sampai sakit, Dhea."


"Iya, Kak. Maafkan aku yang sudah membuat kalian menjadi khawatir."


Stress memang bisa membuat dampak buruk bagi organ tubuh. Apalagi Dhea yang pernah mendonorkan ginjalnya, jangan sampai sesuatu yang buruk kembali terjadi.


Vean takut. Dia tidak siap, dan tidak pernah siap kalau sampai kehilangan Dhea.


"Makan yang banyak."


Vean memesankan banyak makanan untuk gadis itu.


"Kakak juga makan."


"Woy, makan gak ajak-ajak!"


Vean tersedak saat Juna menepuk punggungnya.


"Sialan!"


Juna langsung ikut makan di situ.


"Kak Arya mana, Kak?"


"Gak tahu. Mungkin masih di atas."


Ketiganya makan dengan tenang. Dhea kembali memikirkan tentang ibu panti, juga ibu kandungnya, kalau memang perempuan itu ibu kandungnya.