
Yuki tertidur dalam gendongan Vean. Balita yang selalu aktif itu akhirnya merasa lelah juga setelah berlarian sana-sini.
Yuki terlihat begitu senang saat diajak ke JANG ENTERTAINTMENT. Apalagi melihat studio indoor untuk proses syuting tadi, yang terdapat banyak boneka dan permainan.
"Kita ke mana sekarang?"
"Ke kafe saja dulu. Di sana kita bisa membicarakan hal ini dengan santai."
Tidak membutuhkan waktu lama, kini mereka tiba di kafe dan langsung menuju tempat yang biasa mereka gunakan. Semilir angin yang sejuk membuat mata Yuki terbuka perlahan.
"Tintin, ain."
Faustin langsung menggenggam tangan Yuki dan mengajaknya ke kandang kelinci yang ada di sana.
Yuki berjalan dengan sempoyongan, dengan badan gembul megal-megol. Mereka terkekeh melihat dia balita itu.
"Duh, gemoy banget sih, gemes deh!"
Yuki memang seperti boneka salju yang disinari cahaya matahari. Balita itu benar-benar menggemaskan, mulai dari rambut sampai ujung kakinya.
π¦π¦π¦
"Pipipipi ...." Yuki bergumam pelan dalam tidurnya, membuat Vean dan Dhea terkekeh geli karena anak itu mengigau, masih saja ingin masuk TV.
Dhea sudah menyiapkan semua kebutuhan Yuki untuk syuting nanti. Ya meskipun semua kebutuhan Yuki sudah dijamin oleh pihak JANG ENTERTAINTMENT, tapi tetap saja, sebagai ibu, Dhea ingin mengurus dan memilihkan sendiri.
Mata Dhea berkaca-kaca, entah kenapa dia jadi melow.
"Sayang, kamu kenapa nangis?"
"Aku cuma ingat saat masih kecil. Ingin sekali memakai baju-baju yang banyak rendanya seperti ini, yang dipilihkan oleh ibu aku. Makanya saat Yuki lahir, aku selalu memberikan Yuki sesuatu yang dulu sangat aku inginkan. Apalagi sesuatu yang sangat aku inginkan diberikan oleh kedua orang tua aku."
Ya ampun, hati Vean jadi merasa ngilu.
Meskipun sekarang Dhea sudah mendapatkan kebahagiaan, tapi tetap saja masa lalu itu tidak bisa dihilangkan dari ingatan.
Dhea mengangguk mendengar perkataan Vean.
π¦π¦π¦
Dhea meletakkan makanan di atas meja kecil, agar Yuki bisa makan sendiri. Faustin juga begitu, hanya saja anak laki-laki itu lebih rapih karena lebih dewasa daripada Yuki.
Hari ini ada syuting pertama Yuki dan Faustin. Mereka akan melihat syuting pertama, yang akan dilakukan jam sembilan nanti.
"Apa nanti berjalan lancar, ya?"
Dhea hanya membayangkan nanti Yuki malah tidur saat acara berlangsung. Namanya juga balita, apa saja bisa terjadi. Bisa saja. anti Yuki menangis, atau tidur.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."
Selesai semuanya bersiap, mereka langsung menuju ke studio. Syuting pertama ini akan dilakukan secara langsung, karena melihat antusias para penonton saat iklan perdana diluncurkan.
"Mom, apa kami akan masuk TV hari ini?" tanya Faustin pada dokter Stevie.
"Iya. Jangan cemas. Kalian berdua masih anak-anak. Jangan berpikir akan melakukan kesalahan atau tidak, ya. Ini hanya hiburan, bukan sekolah yang mengharapkan nilai bagus."
"Yeyoyah?"
"Iya, sekolah. Sebentar lagi Faustin mau masuk sekolah."
Dokter Stevie memang berencana memasukkan Faustin ke play group.
"Mau yeyoyah."
"Iya, nanti Yuki sekolah sama Faustin, ya."
Merasa masuk ke dalam studio yang sudah didesign sangat pas untuk anak-anak. Banyak wahana bermain mini, juga mainan-mainan yang membuat Yuki melonjak kegirangan.
Balita itu langsung melepaskan tangan Dhea dan berlari sana sini, tidak peduli dengan orang-orang asing yang baru saja dia lihat.