
Bel sekolah berbunyi tanda waktu jam belajar hari ini telah selesai. Semua murid meninggalkan kelasnya masing-masing.
"Akhirnya terbebas juga dari ruang kelas yang buat pala gue puyeng." ucap Fero.
"Lah,lu pikir ruang kelas kita komedi ombak yang bisa buat kita puyeng." ucap Aldi.
"Tau lu Fer. Nggak usah ngadi-ngadi lu. Emang ge otak lu aja yang beku,key balok es." ledek Mia.
"Set,Maymunah klo ngomong asal ceplos bae ya." ucap Fero kesal.
*Dugg...*
"Aawww." Fero kesakitan karena kakinya baru saja di tendang oleh Mia.
"Sukurin. Makanya nama orang jangan di ganti-ganti." ledek Fani.
"Jahat banget lu. Pacarnya di aniaya bukannya di tolongin,ini mah malah di sukurin." ucap Fero cemberut. Fani hanya memasang wajah cuek.
"Lu ikutkan?" tanya Vina pada Jani.
"Hmmm,,,keynya gue nggak ikut deh." jawab Jani ragu.
"Kenapa?" tanya Revin cepat.
"Ayolah Jan. Klo nggak ada lu,nggak seru ah." ucap Fani.
"Iya. Ayolah pliisss,ikut ya!" ucap Mia dengan nada memohon pada Jani.
"Tau lu Prinju,ikut aja sih." ucap Aldi.
"Prinju apaan Al?" tanya Vino.
"Princess Salju." jawab Aldi. Mereka di buat geleng-geleng kepala oleh ucapan Aldi.
"Ckk,,sejak kapan gw ganti nama?" tanya Jani sinis.
"Sejak lu pacaran sama Revin." jawab Aldi. Seketika mendapatkan tatapan dingin dari Jani.
"Ikut aja ayo. Udah lama jugakan nggak main ke rumah. Mamah juga udah kangen banget katanya." ucap Revin pada Jani.
"Mamah,!!" seru mereka bersamaan.
"Jadi hubungan kalian udah sejauh mertua dan menantu." ceplos Aldi.
"Eh,Bambang sejak kapan si Revin sama Jani nikah." sungut Fani.
"Lah itu buktinya tadi,lu kaga denger." ucap Aldi.
"Denger apa by?" tanya Mia.
"Itu si Jani panggil tante Rista,Mamah. Berartikan hubungan mereka udah sejauh itu. Tinggal tentuin tanggalnya aja." jelas Aldi.
"Tanggal apa?" tanya Vina.
"Tanggal mereka nikah." celetuk Aldi. Mereka semua jadi tertawa. Revin yang mendengar ucapan Aldi,ia pun tersenyum tipis. Tapi tidak dengan Jani,ia hanya diam dan memasang wajah datar.
"Iya juga sih. Jangan-jangan di belakang kita. Kalian berdua udah menjalin hubungan. Ngaku kalian berdua!" ucap Fani meminta penjelasan pada Jani dan Revin.
"Apaan sih. Lu semua gak jelas deh." ucap Jani ketus.
"Di perjelas atuh. Jadi maunya apa nih. Pacaran dulu apa langsung nikah!" ledek Vino pada Jani dan Revin. Seketika mendapatkan tatapan tajam dari Jani.
"Biasa aja kali liatnya. Awas bae-bae ntar jatuh cinta loh sama si Vino." ledek Fani yang melihat tatapan tajam Jani. Jani memutar bola matanya malas.
"Kaga usah ngadi-ngadi lu." ucap Revin kesal. Entah mengapa mendengar ucapan Fani. Membuat hati Revin panas,walaupun ia tau Fani hanya bercanda.
"Cie,,cie,,cie. Keynya ada yang cemburu nih." cibir Fero.
"Ternyata si Rajes bisa cemburu juga." ledek Aldi di akhiri dengan ketawa.
"Apa lagi tuh Rajes?" tanya Fani.
"Raja Es." jawab Aldi.
"Bisa bae lu nama orang di ganti-ganti. Dasar kang cireng." celetuk Fero.
"S****n lu." ucap Aldi kesal. Mereka semua pun tertawa.
"Udah ayo pergi. Jadi pada bergosip bae lu." ucap Revin sambil menggandeng tangan Jani dan berjalan menuju parkiran sekolah. Jani yang secara tiba-tiba di gandeng oleh Revin pun hanya bisa diam dan mengikuti langkah Revin.
"Eh buset dah. Pengen ninggal-ninggalin bae. Woy,,tunggu kitalah." seru Aldi. Mereka pun menyusul Revin dan Jani.
Setelah tiga puluh lima menit menempuh perjalanan. Akhirnya mereka sampai di rumah Revin. Para perempuan mengamati rumah Revin.
"Wow,,rumah lu gede banget Rev." ucap Mia kagum karena ini pertama kalinya ia melihat rumah Revin.
"Iya. Pantesan aja pacar-pacar kita pada betah banget main ke rumah lu." timpal Fani.
"Ayo masuk." ucap Revin menpersilakan mereka. Mereka semua satu persatu masuk ke dalam rumah Revin.
"Silakan duduk. Anggap aja key rumah sendiri,oke!" ucap Fero berlaga seperti tuan rumah.
"Dih,tuan rumahnya aja diem bae. Napa jadi lu yang seakan-akan jadi tuan rumah." sungut Fani.
"Yaelah say,gue kan mewakili si Revin." ucap Fero.
"Kalian berdua bisa nggak,sehari aja nggak berdebat. Ntar ge gue nikahin juga nih ya." geram Vino pada Fero dan Fani.
"Boleh juga tuh. Lu yang ngeluarin biayanya ya buat kita!" ucap Fero pada Vino.
"Yeuuhhh,,,itu mah emang maunya lu. Dasar cowok nggak modal." ejek Mia pada Fero.
"Hehehe,,namanya juga usaha Mi." ucap Fero sambil nyengir.
Saat mereka lagi asik berbincang ada yang memencet bel.
*Ting nong,,,* (Anggap saja itu suara bel)
"Siapa tuh?" tanya Vina.
"Entah." jawab Vina.
"Bentar ya. Gue bukain dulu." ucap Revin.
"Biar bibi saja den yang bukain pintu." cegah bi Asih.
"Oh,makasih ya bi." ucap Revin. Bi Asih pun berjalan menuju pintu utama.
"Wah,ternyata banyak tamu." ucap mamah Revin yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam." ucap tante Rista sambil tersenyum.
"Loh,ada kamu juga. Kamu kemana aja cantik. Udah lama nggak main ke rumah mamah. Mamah kangen banget sama kamu." ucap tante Rista saat melihat Jani. Lalu memeluk Jani layaknya seorang ibu tidak bertemu begitu lama dengan anaknya.
Mereka yang ada di situ di buat terpaku oleh pemandangan di depannya. Di tambah lagi perkataan tante Rista pada Jani.
"Berasa lagi nonton sinetron ya!" ucap Fero berbisik pada Aldi.
"Iya. Yang judulnya Mantu Yang Di Rindukan." bisik Aldi juga pada Fero. Fero pun hanya menganggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Aldi.
"Ck,,nggak usah lebay deh mah. Baru juga nggak ketemu beberapa bulan." cibir Revin pada mamahnya.
"Baru beberapa bulan kata kamu? Hey,mamah nggak ketemu si cantik hampir satu tahun dan kamu bilang baru beberapa bulan." ucap mamah Rista memarahi Revin.
"Iya,iya. Yaudah sekarang mamah masuk sana ke kamar mamah." ucap Revin.
"Kamu ngusir mamah!" ucap mamah Rista kesal.
"Revin nggak bermaksud ngusir mamah. Tapi kita di sini mau ngerjain tugas. Jadi mamah jangan ganggu." jelas Revin pada mamahnya.
"Jadi maksud kamu keberadaan mamah di sini mengganggu tugas kalian,gitu!" geram mamah Rista marah.
Lagi-lagi Revin salah bicara dan semakin membuat mamahnya marah. Mereka semua hanya bisa diam menyaksikan perdebatan antara anak dan mamah.
"Tante..." ucapan Jani terpotong oleh seruan mamah Rista.
"Mamah." seru tante Rista pada Jani. Jani pun di buat kaget dengan seruan mamah Rista pada dirinya. Nggak cuma Jani tapi mereka yang berada di situ pun kaget.
"Eh,maaf sayang mamah nggak bermaksud bentak kamu." ucap mamah Rista merasa bersalah pada Jani.
"Ini semua gara-gara kamu." ucap mamah Rista sambil melirik tajam pada Revin. Revin hanya memutar bola matanya malas.
"Ini sebenarnya anak kandungnya gue apa dia sih? Jadi berasa anak tiri gue." cibir Revin. Teman-temannya berusaha menahan tawa,melihat perdebatan mereka bertiga.
"Abaikan dia ya cantik! Anak mamah memang seperti itu orangnya. Mamah mau,mulai saat ini kamu panggil tante,mamah. Kamu maukan cantik!" ucap mamah Rista lembut pada Jani.
Jani melirik ke arah Revin. Seakan tatapannya meminta izin pada Revin. Revin yang mengerti akan tatapan Jani. Ia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan izin dari Revin. "Iya,mamah." ucap Jani canggung dan tersenyum pada mamah Rista.
"Makasih sayang." ucap mamah Rista bahagia lalu memeluk Jani.
"Eheem.." Revin berdehem. "Udahkan acara kangen-kangenannya?" tanya Revin.
"Ckk,,kamu ini mengganggu saja." ucap mamah Rista kesal pada anaknya itu.
"Yaudah kalian belajar yang benar." ucap mamah Rista pada mereka semua.
"Mamah ke kamar dulu ya cantik. Kamu sering-sering main ke sini." ucap mamah Rista pada Jani. Jani hanya membalasnya dengan tersenyum. Mamah Rista pun meninggalkan mereka semua.
"Yah,sinetronnya tamat. Padahal lagi seru-serunya." ucap Fero.
"Mata lu sinetron." celetuk Revin kesal.
"Btw,ini kaga ada jamuannya untuk kita?" tanya Aldi.
"Ett dah,lu mah belum mulai ge udah makanan bae yang di cari. Heran gue mah sama lu." jawab Fani kesal.
"Lah bagen. Napa jadi lu yang sewot. Tuan rumahnya aja selow." ucap Aldi.
"Terah apa kata lu aja deh." ucap Fani malas. Aldi hanya memutar bola matanya malas.
"Udah-udah. Kalian tuh ya,kaga dimana-dimana selalu aja ribut. Ntar ge gue suruh buaya gigit lu berdua." ucap Vina.
"Coba aja klo bisa. Lagian mana ada buaya di sini." tantang Fani.
"Ada." ucap Vina.
"Dimana?" tanya Mia.
"Di sini." jawab Vina santai.
Seketika mereka semua memperhatikan seluruh ruangan di sana. Seakan mereka sedang mencari yang Vina katakan tadi.
"Ya kali rumah semewah ini ada buayanya. Lu pikir rumahnya si Revin Kebun Binatang. Kaga usah ngadi-ngadi deh lu." ucap Aldi yang sedang memperhatikan ruang itu.
"Jadi kalian nggak ada yang liat nih?" tanya Vina pada mereka semua. Serentak mereka menggelengkan kepala bersamaan.
Vina melihat ke arah Fero. "Fer,gigit mereka." ucap Vina sambil menunjuk Aldi dan Fani.
"Sialan lu." celetuk Fero. "Wajah gue ganteng begini di bilang buaya." sungut Fero kesal. Mereka semua pun tertawa melihat ekspresi Fero yang tidak terima di katain sebagai buaya.
"Hahahaha,,,si Vina klo ngomong suka bener." celetuk Aldi yang menertawakan Fero.
"Diem lu. Klo gue buaya lu kadal." sungut Fero tak terima di tertawakan oleh Aldi.
"Sebenarnya kita di sini mau ngerjain tugas. Apa mau pada ngadu mulut sih!" ucap Jani yang mulai jengah oleh perdebatan mereka semua. Yang menurutnya nggak penting itu.
"Nah loh. Si Prinju marahkan. Lu pada berisik sih." ucap Aldi menyalahkan mereka.
"Lu juga berisik Malih." ucap Fani pada Aldi.
"Dih,dari tadi yang mulai duluan siapa?" tanya Aldi.
"Lu lah,," jawab Fero santai.
"Lu ogeb." sungut Aldi.
"Ckk,,gue balik aja deh." ucap Jani yang mulai kesal. Sebelum ia pergi,tangannya sudah di cekal duluan oleh Revin. Revin menatap Jani dan menggelengkan kepalanya. Menandakan bahwa ia tidak mengizinkan Jani untuk pergi.
"Apa sih Rev. Lepas,gue mau balik." ucap Jani yang berusaha melepaskan genggaman Revin. Namun Revin tak melepaskan genggamannya.
Revin mengalihkan pandangannya dan beralih ke teman-temannya. "Kalian bisa pada diam nggak. Kalian ingatkan acara ultah sekolah itu sebentar lagi. Jadi gue minta ke kalian untuk lebih serius. Gue sangat berharap acara nanti berjalan dengan lancar seperti acara yang lalu. Jadi gue minta kerja samanya ke kalian." tegas Revin pada mereka dengan serius.
"Sorry." ucap Fero dan Aldi bersamaan.
Mereka pun mulai serius. Tidak lagi memperdebatkan hal yang tidak penting. Tidak lama kemudian bi Asih datang membawakan minuman serta cemilan untuk mereka.
"Makasih bi." ucap Revin.
"Sama-sama den." balas bi Asih. Setelah itu bi Asih berpamitan untuk kembali ke dapur.
"Kalian berempat udah nentuin mau bawa lagu apa buat nanti?" tanya Vino pada Revin,Jani,Aldi dan Mia.
"Belum tau. Makanya gue suruh ngumpul di sini. Biar kalian bisa bantu cari lagu yang akan kita nyanyikan nanti." jawab Aldi. Mereka pun menganggukan kepala.