
...Flashback Off...
Vean mengepalkan tangannya. Kenapa dia yang menjadi penyebab gagalnya cita-cita Dhea menjadi seorang dokter?
Begitu juga dengan Fio, yang merasa sangat bersalah.
Dhea yang selalu belajar siang malam meski tubuhnya sudah sangat lelah karena bekerja. Dhea yang selalu susah diajak jalan demi bisa belajar lebih banyak dari anak normal lainnya.
Mereka lalu melihat Clara dan sahabat-sahabatnya Dhea.
"Tidak ada satu pun dari kami yang pernah mengatakan kalau Dhea itu dokter. Itu pikiran kalian sendiri," ucap Clara.
Vean mengepalkan tangannya, hatinya kembali hancur. Menjadi penyebab gagalnya impian seseorang, bukan hal yang menyenangkan, apalagi itu orang yang dicintai.
Harus dengan cara apa, mereka menebus kesalahan mereka.
Mila menunduk. Dia merasa malu, karena sebelumnya pernah mengancam Dhea tidak bisa bekerja di rumah sakit mana pun lagi. Pernah ingin memberikan Dhea sogokan dengan membukakan klinik untuk gadis itu.
Seseorang yang sudah mengorbankan banyak hal untuk anak semata wayang, malah ingin dia hancurkan sedemikian rupa.
Pantas saja Bram dan Arya begitu muak padanya. Dia pun merasa malu pada diri sendiri.
Betapa beruntungnya kedua orang tua yang memiliki anak seperti kamu. Jika kamu dibuang oleh mereka, betapa bodohnya mereka, karena sudah menyia-nyiakan anak sebaik kamu.
"Dhea, maafkan aku," ucap Vean.
"Tidak perlu minta maaf, Kak. Lagipula, aku senang dengan jurusan yang aku pilih. Aku juga senang dengan pekerjaan aku saat ini." Dhea tersenyum, dia memang tidak menyesali keputusannya. Semua hak yang sudah dia pilih, tentu saja sudah dia pertimbangkan baik-baik. Toh dirinya tetap berkuliah, meski hanya berganti jurusan saja.
"Bukannya sudah kami bilang, Dhea itu seorang designer. Kalian juga sudah mendapatkan hadiah rancangan baju pernikahan dari Dhea, kan!" ucap Sheila, sedikit ketus.
Teman-temannya Dhea cukup kesal mendengar semua cerita itu. Dhea sudah mengorbankan banyak hal untuk mereka, tapi tetap saja dia diperlakukan buruk oleh Mila.
Meskipun Mila tidak tahu apa-apa, tapi tidak pantas juga baginya memperlakukan seseorang seperti itu.
"Jadi, apa nama merek design kamu?"
"Hmm ... bukan merek terkenal."
Dhea memberikan kode pada teman-temannya untuk diam, jangan banyak bicara dan mengatakan apa pun lagi.
...π¦π¦π¦...
Iya, maaf, iya, maaf, hanya itu kata-kata yang bisa dia katakan saat ini.
"Jadi, kapan kita bisa kembali ke Jakarta, Dok?"
"Nanti, setelah kondisi kamu lebih baik lagi. Kamu harus rajin kontrol. Tidak boleh lagi bolong check up. Mengerti?"
"Iya."
...π¦π¦π¦...
"Kalian tidak pulang ke Jakarta?" tanya Dhea pada Vean dan Fio.
"Aku akan selalu bersama kamu di mana pun kamu berada, Dhea," jawab Vean.
Ponsel Vean berbunyi, dan pria itu lalu ke luar untuk menjawab panggilan dari Erza.
"Fio ... aku ...."
"Kamu harus cepat sembuh, Dhea. Terima kasih karena sudah mendonorkan darah untuk aku."
"Kak Vean ...."
"Jangan banyak pikiran, ya."
Dhea merasa Fio menghindari pembicaraan tentang Vean.
Mungkin dia marah padaku.
Fio meremas tangannya. Dia juga mau bicara banyak pada Dhea, tapi ini bukan saat yang tepat.
Fio memalingkan muka saat Arya menatap tajam wajahnya.
Dia selau terlihat galak. Apa aku se-menyebalkan itu?
Vean kembali masuk ke dalam kamar Dhea. Terus memandangi wajah gadis itu.