
Betapa terkejutnya Sarah saat melihat kalau yang membentaknya tadi adalah Revin.
"Maksud lo apa?" tanya Revin sinis.
Sarah nampak gelagapan "Rev,gw bi-bisa jelasin se..." ucap Sarah terpotong karena Revin menyela omongannya.
"Pergi!" ucap Revin dingin.
"Tapi Rev..."
"Pergi atau gw buat hal di luar batas." bentak Revin yang langsung membuat Sarah and The Gank beranjak dari tempatnya.
Sedangkan Jani saat ini sudah siap untuk melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Tentu ia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Revin. Baru ingin melangkah sebuah tangan kekar mencekal tangannya.
"Mau kemana?" tanya Revin datar.
"Kantin" jawab Jani sambil mencoba melepas cekalan dari Revin.
"Ikut gw" ucap Revin sambil menarik paksa tangan Jani.
"Lepas,gw mau ke kantin." Jani terus meronta minta di lepaskan.
Namun bukan Revin namanya jika apa yang ia ingin tidak terkabul. Revin terus berjalan mengabaikan teriakkan Jani. Langkahnya terhenti saat sudah memasuki ruang UKS.
"Mau ngapain sih ke sini?" tanya Jani kesal.
Revin tidak menjawab ia justru pergi meninggalkan Jani. Tak lama kemudian Revin kembali dengan baskom berisi air dan handuk kecil.
"Lo mau ngapain?" tanya Jani bingung saat melihat Revin mengarahkan handuk tadi ke wajahnya.
"Nggak ada cewek cantik yang pipinya bengkak." jawab Revin sambil mengngompres pipi Jani pelan.
Pipi Jani terlihat merah karena mendengar ucapan Revin. Revin tersenyum miring menyadari Jani yang nampak salah tingkah saat ini.
Selang beberapa menit akhirnya Revin meletakkan kembali handuk tadi dan beranjak meninggalkan Jani. Tapi sebelum ia melangkah tangannya sudah di cekal oleh Jani.
"Makasih" ucap Jani datar.
Revin hanya membalas dengan senyuman,lalu keluar meninggalkan Jani.
\* \* \*
Suasana kelas sangat tenang seperti biasanya. Karena pelajaran kali ini adalah ekonomi yang tentu gurunya killer. Kebanyakkan dari mereka sangat antusias memperhatikan penjelasan dari bu Tiwi.
"Buset dah,nih soal susah amat." keluh Fero yang tak kunjung selesai dengan tugasnya.
"Jangan banyak ngeluh jadi orang." ucap Fani seraya menoleh ke belakang sambil memperhatikan lembar soal milik kekasihnya itu yang masih utuh belum di kerjakan.
"Lah terus gw harus gimana say?" tanya Fero.
"Tuh contoh teman-teman lo. Diam tapi kerjaan kelar." jawab Fani.
"Yee,,kalo itu sih otak mereka encer kayak air." ucap Fero.
"La iya,emangnya otak lo beku kayak es batu." cibir Fani. Fero yang mendengar ucapan dari kekasihnya itu hanya diam tidak membalasnya.
Setelah di rasa sudah selesai,Revin dan Jani menyerahkan jawabannya ke arah Vino.
"Kalian udah selesai?" tanya Vino yang di angguki oleh Revin dan Jani.
"Pasangan yang kompak,ngumpulin tugas aja sampe barengan." cibir Aldi yang di balas dengan tatapan tajam oleh Jani. Kalo Revin sih seperti biasa tersenyum tipis.
"Vin,gw izin ke toilet." ucap Jani pada Vino dan di balas dengan anggukkan. Jani pun keluar dari kelasnya menuju toilet.
Saat sampai di belokkan,Jani di kejutkan dengan munculnya Revin di hadapannya. Langkahnya ia putar balik. Namun sebelum itu,Revin segera mencekal tangan Jani.
"Lepasin" pinta Jani dingin.
"Nggak" ucap Revin datar.
"Ish,,lepasin!" bentak Jani sambil membuang tangan Revin. Tanpa di sengaja,tangan Jani menghantam perut Revin.
Membuat Revin meringis "Aakh,,"
Jani nampak panik saat melihat hal itu,ia langsung mendekat ke arah Revin.
Revin tersenyum mendengar celotehan Jani. Ia tak menyangka jika wanita di hadapannya ini perduli terhadapnya.
"Terusin ngomongnya!" pinta Revin.
"Nggak" ketus Jani.
"Khawatir banget ya kalo gw sakit?" tanya Revin menggoda.
"Nggak" jawab Jani datar.
"Terus barusan?" tanya Revin menatap Jani pekat.
"Ish,,tadi itu cu-cuma refleks." jawab Jani gelagapan.
"Kok gw nggak percaya ya!" ucap Revin.
"Terserah lo" ucap Jani seraya membuang muka,ia sudah ke habisan kata-kata.
Revin berjalan mendekati Jani dan sedikit membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jani.
"Kalo suka bilang!" bisik Revin tepat di telinga Jani.
"Siapa juga yang suka" ketus Jani. "Udah ah,gw mau balik ke kelas." Jani mendorong kuat tubuh Revin dan langsung berlari meninggalkan cowok itu.
Sepeninggalan Jani,Revin terus tersenyum mengingat ekspresi wajah panik yang di tunjukkan Jani.
"Gw akan buat lo suka sama gw dan akan menjadi milik gw selamanya." -gumam Revin seraya tersenyum.
\* \* \*
Hari ini sekolah libur dan Jani masih bersantai-santai di kamarnya. Ia tidak ada janji untuk bepergian dengan teman-temannya.
Sampai malam tiba,ia masih nyaman di kamarnya. Entah apa yang sedang wanita itu lakukan. Dari luar terdengar suara bel rumahnya tapi ia males untuk beranjak dari posisi nyamannya.
"Juna.. Ada tamu di depan,lo liat sono siapa yang dateng!" teriak Jani dari dalam kamarnya.
"Lo aja sono kak,gw lagi pake baju nih." balas Juna teriak dari dalam kamarnya.
"Ckk,,siapa sih malam-malam gini yang dateng. Nggak tau apa gw lagi menikmati hari libur." -gumam Jani kesal.
Jani pun keluar kamar dan menuruni tangga menuju pintu rumahnya. Saat ia buka pintunya,ia sudah di sajikan dengan pemandangan yang sangat indah.
Kali ini Jani tidak bisa untuk tidak memuji ke tampanan Revin. Cowok di hadapannya ini sangat tampan. Dengan susah payah Jani menelan salivanya saat mendapati Revin yang sudah tepat di hadapannya.
"Udah puas liatinnya?" tanya Revin menggoda.
Pertanyaan yang lebih tepatnya di sebut sindiran dari Revin yang membuat lamunan Jani buyar. Segera Jani membuang muka.
"Siapa juga yang liatin." sanggah Jani.
Revin memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan sedikit berbungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jani.
"Gw ganteng banget ya? Sampai lo nggak bisa berkedip!" ucap Revin.
Sontak ke dua bola mata Jani membulat sempurna. "Nggak usah ke pedean." ucap Jani sambil mendorong wajah Revin dari hadapannya.
"Gw nggak ke pedean tapi faktanya emang begitu." ucap Revin santai.
"Woyy,,kita nggak di persilakkan masuk nih." seru Mia.
"Tau nih jadi pada ngobrol di depan pintu. Pamali tau." timpal Vina.
Jani bingung dengan ke datangan teman-temannya ke rumahnya. Padahal seingatnya,ia tidak buat janji.
"Kalian ke sini juga?" tanya Jani bingung.
"Ya iyalah. Kitakan juga mau ikut ngumpul di rumah lo." jawab Fani.
"Tapi kalian nggak bilang dulu ke gw,kalo kalian mau ke sini?" tanya Jani.
"Iya mereka gw yang ngajakin ke sini. Soalnya tadi Vino ngajakin gw ke sini." jawab Vina.
Mendengar ucapan Vina,Jani pun menatap Vino. Tatapannya seperti ingin meminta penjelasan. Vino hanya tersenyum melihat Jani.