
Yuki segera masuk ke dalam rumah, membawakan beberapa botol minuman untuk Vean dan Dhea.
"Num," ucapnya sambil mengusap-usap kepala Vean. Dia juga memberikan jus apel untuk Faustin.
Setelah satu botol habis, balita itu memberikannya pada Juna.
"Li lagi ana!"
"Ck, kecil-kecil sudah dzolim."
"Ga unya uit, ya?"
"Sembarangan, Papi Juna punya banyak uang, ya!"
"Jam lulu celatus."
Vean, Arya, Juna, Felix, Steve dan dokter Petter sampai tersedak bakso yang mereka makan.
Ya ampun, dari mana anak sekecil itu bisa tahu kalimat itu?
Tapi, jadi tambah gemes, deh.
Yuki memperlihatkan gigi putihnya yang utuh, dengan pipi chubby seperti bakpao besar. Juna lalu menyodorkan potongan bakso ke mulut Yuki.
"Lah, masih mau, toh. Gimana gak bulat ini pipi dan badan."
"Yuki masih mau makan?" tanya Vean.
Balita itu manggut-manggut.
"Gak apa kan, ya?" tanya Vean pada Juna dan dokter Petter.
"Gak apa. Yang penting Yuki gak susah makan seperti anak lainnya. Dia kan juga aktif, jadi jangan khawatir akan obesitas. Berat badannya juga masih normal, kok."
"Di poli anak, banyak orang tua yang mencemaskan anaknya yang susah makan. Beruntung Yuki dan Faustin tidak seperti itu. Mereka juga mau makan sayur dan buah."
Yuki memang suka makan apa saja, mungkin karena melihat orang-orang di sekitarnya yang juga tidak pilih-pilih makanan meskipun mereka orang kaya.
Dhea dan Vean juga sering melakukan pemeriksaan untuk Yuki.
"Faustin mau apa?"
"Mau comay."
"Siomay belum datang."
Kedua anak itu memang suka makanan berbumbu kacang.
Bruk
💦💦💦
Vean berlari di koridor rumah sakit, menuju ruang UGD. Setelah pintu ruang UGD ditutup, Vean berjalan mondar-mandir.
Cukup lama rasanya mereka menunggu, kemudian dokter keluar.
"Bagaimana, Dok?"
"Nyonya Dhea mengalami kelelahan. Saya akan memberikan vitamin. Kondisi janinnya baik-baik saja."
"Hah? Maksudnya istri saya hamil?"
"Iya, apa Anda tidak tahu?"
"Jangan bohong, Dok!"
"Mana mungkin saya berbohong."
Vean lalu menatap Juna.
"Kan tadi aku sudah bilang, kamu malah gak percaya."
"Gimana mau percaya, kalau kamu malah meledek aku."
Si tersangka hanya cengar-cengir saja.
"Sudah berapa minggu, Dok?"
"Menurut perkiraan saya, sudah sepuluh minggu. Untuk lebih memastikan lagi, bisa diperiksa oleh dokter kandungan."
"Hah? Sepuluh minggu?"
Selama ini, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan Dhea hamil. Istrinya tidak muntah-muntah, juga tidak bersikap aneh seperti ngidam atau apa pun itu.
Bisa dibilang, ini kehamilan yang tidak direncanakan dan diprediksi juga. Apa akan baik untuk Dhea?
"Tapi, apa akan ada masalah?"
"Bicarakan dengan dokter kandungan, Vean," ucap Juna.
Mereka mengerti dengan kekhawatiran Vean, mengingat Dhea hanya memiliki satu ginjal, apalagi di kehamilan pertama, Dhea mengalami masalah pada kehamilannya.
Dengan menggunakan kursi roda, Dhea dibawa ke ruang dokter kandungan setelah perempuan itu sadar. Perasaan Vean saat ini campur aduk, antara senang tapi takut.
Dhea segera mendapatkan pemeriksaan, mengingat dia adalah istri dari Vean dan anak dari dokter Bram, juga adik dari Juna dan Arya.
Di sini, Vean lah yang keringat dingin dan gugup. Juna ikut masuk untuk menenangkan. Bukan menenangkan Dhea, tapi menenangkan Vean. Arya dan yang lain menunggu di luar, apalagi Yuki juga ikut gelisah.