
"Rev,liat deh. Keynya ini cocok banget klo kamu yang pake." ucap Sarah sambil menunjukkan baju pada Revin.
"Biasa aja." ucap Revin cuek.
"Ka,menurut kk. Juna lebih cocok yang ini apa yang ini?" tanya puput sambil menunjukan dua baju yang beda model dan warna.
"Lu tanya siapa?" tanya Aldi pada Puput.
Mereka semua bingung,pada siapa yang Puput panggil Kakak.
"Ka Jani." jawab Puput santai.
Mereka yang ada di situ pun di buat menganga oleh ucapan Puput.
"Eh Put. Sejak kapan lu panggil 'dia' kk?" tanya Siska pada Puput sambil menunjuk Jani dengan dagunya.
"Hmm,,sejak Puput suka Juna." jawab Puput malu-malu.
"Whaaatt..!!" seru Siska,Sarah dan Mia bersamaan. Sedangkan Vino,Vina,Revin,Aldi dan Jani hanya memasang wajah cuek.
"Key nggak ada cowok lain aja deh lu. Ngapain juga sih lu suka sama si Juna." ucap Siska pada Puput.
"Eh,lu pikir si Juna suka sama temen lu yang satu ini." ucap Mia kesal pada Siska.
"Ya,makanya Puput mau beliin Juna baju. Siapa tau aja nanti Juna jadi suka juga sama Puput." ucap Puput pada Mia.
"Dih,lu pikir si Juna orang miskin yang di kasih baju key gitu langsung bisa suka sama lu." cibir Mia.
"Biasa aja dong lu." ucap Siska kesal tak terima sahabatnya di gituin.
"Apa,," ucap Mia tak kalah kesal.
"Ada apa sih ribut-ribut dari tadi gw denger dari sono keynya seru banget?" tanya Fani pada mereka.
"Biasalah ada yang suka sama si Juna." jawab Mia.
"Siapa?" tanya Fero kepo.
"Tuh,si Puput." jawab Aldi.
"Whaaatt..!!" seru Fani dan Fero bersamaan.
"Emang ada yang salah ya,klo Puput suka Juna?" tanya Puput dengan wajah sedih.
"Yaa,,kaga ada sih." jawab Fero yang tidak tega melihat wajah sedih Puput.
"Ka Jani,Juna masih jomblo kan. Belum punya pacar?" tanya Puput pada Jani.
"Hmm,," gumam Jani sambil menaikkan sebelah alisnya. Sebenarnya Jani bingung mau jawab apa. Karena selama ini dia nggak pernah ikut campur urusan kembarannya itu soal kehidupan asmaranya.
"Walaupun dia masih jomblo juga. Nggak mungkin dia mau sama lu." cibir Fani.
"Udah yuk kita pergi aja dari sini!" ajak Siska pada Sarah dan Puput.
"Ntar dulu dong. Puput kan lagi tanya sama ka Jani dulu." ucap Puput.
"Udah deh lu diem aja." geram Siska.
"Rev aku duluan ya!" pamit Sarah pada Revin.
"Hmm,," jawab Revin dengan gumaman.
"Yaudah sono jauh-jauh deh dari kita." usir Mia kesal.
"Tapi,,,"
" Udah ayo!" ajak Siska sambil menarik tangan Puput.
Sebelum mereka pergi. "Coba aja kasih yang itu,keynya Juna suka sama warna dan modelnya." ucap Jani sambil menunjuk baju sebelah kanan yang Puput pegang.
"Makasih ya ka." ucap Puput senang. Jani balas dengan tersenyum.
Setelah mereka pergi. "Lu ngapain sih Jan. Kasih tau si Puput soal baju itu." ucap Fani kesal.
"Emang kenapa?" tanya Jani bingung.
"Yaelah Jan. Dia kan temannya si Sarah. Emang lu mau apa ade lu pacaran sama tuh bocah. Secarakan dia berteman sama orang yang nggak bener." jawab Fani kesal.
"Betul banget tuh." timpal Mia.
Jani menaikkan kedua pundaknya. "Itu sih terserah si Juna nya. Gue mah nggak mau ikut campur." ucap Jani cuek.
"Tau nih. Lagian kenapa jadi kalian yang heboh sih. Jani aja sebagai kembarannya cuek aja. Lagian nih ya,gue perhatikan si Puput tuh bocahnya baik kok." ucap Vina.
"Sebaik apa pun dia,klo bergaul sama si Sarah suatu saat nanti pasti akan ketular jahatnya." ucap Fani.
"Betul." timpal Mia lagi.
"Lu lagi. Tal tul tal tul bae dari tadi." ucap Fani pada Mia.
"Hehehe. Atuh gue bingung mau ngomong apa." ucap Mia sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal. Fani hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Udah deh. Ngapa jadi pada bahas ini sih. Mending kalian lanjut pilih-pilih lagi." ucap Vino menengahi mereka.
"Nah ini yang gue suka. Kuylah kita lanjut,kapan lagi bisa shopping barengan begini." ucap Mia senang.
"Dasar bocah." cibir Fani yang melihat kelakuan Mia.
Mereka pun melanjutkan acara pilih-pilihnya. Di sisi lain ada yang memperhatikan salah satu wanita di sana.
"Gue nggak nyangka,ternyata lu orangnya nggak pandang orang dari sebelah mata." ucap Revin dalam hati sambil tersenyum.
"Hayo,,ngapain lu senyum-senyum sendiri. Setres lu ya." ucap Aldi yang melihat ekspresi Revin.
"Setres karena cinta." celetuk Vino sambil tertawa. Mereka yang ada di situ ikut tertawa mendengar ucapan Vino.
"Lu berdua tuh yang setres." ucap Revin datar.
Akhirnya selesai juga sekian lama mereka memilih-milih pakaian yang di inginkan. Setelah itu mereka berjalan menuju parkiran Mall.
"Hey,Jan!" sapa Defan yang melihat Jani.
"Hey," ucap Jani datar.
"Eh,ada Defan. Mau kemana Def?" tanya Fani sambil tersenyum pada Defan.
"Nggak usah genit." ucap Fero sambil menutup mata Fani dengan tangan kanannya.
Melihat kedatangan Defan entah mengapa membuat Revin kesal. Vino yang melihat ekspresi Revin sedang menahan amarah. Entah mengapa membuat ia tersenyum misterius.
"Btw,gue boleh tanya sesuatu sama lu nggak Def?" tanya Vino pada Defan.
"Boleh aja." jawab Defan santai.
"Lu sama Jani pacaran ya?" tanya Vino sambil melirik ke arah Revin.
"Puufff. Lu kata siapa?" tanya Defan sambil menahan tawa.
"Nggak kata siapa-siapa sih. Gue cuma mau tanya aja." jawab Vino.
"Enggak. Gue sama Jani cuma berteman. Iya kan Jan?" tanya Defan pada Jani. Dan di jawab anggukan kepala oleh Jani.
"Udah deh nggak usah bohong. Kalian tuh bukan artis,yang klo punya hubungan di sembunyiin rapat-rapat. Biar apa coba? Biar yang lain semakin kepo sama hubungan kalian dan endingnya kalian jadi trending topic di sekolah kita." cibir Revin menahan kesal.
"Maksud lu apa ya?" tanya Jani pada Revin.
"Pikir aja sendiri." jawab Revin cuek.
"Iya. Setelah gue pikir-pikir omongan lu semakin nggak bener tau nggak." celetuk Jani.
"Lu nggak sadar. Apa perlu gue kasih tau tentang hubungan kalian di depan mereka." geram Revin kesal.
"Nggak perlu. Di sini yang harusnya sadar,ya lu." ucap Jani sambil menunjuk Revin.
"Sabar Jan." ucap Vina yang berada di samping Jani.
"Nggak bisa. Selama ini gue udah sabar Na. Tapi lu liat sendirikan,semakin gue diemin dia tuh semakin jadi." ucap Jani kesal sambil melirik ke Revin sinis.
"Maksud lu apa?" tanya Revin marah mendengar ucapan Jani.
"Ada juga gue yang tanya sama lu. Maksud lu apa ngomong key gitu? Waktu itukan gue juga udah jelasin ke lu tapi lu lebih percaya sama gosip murahan itu." ucap Jani menahan amarah.
"Karena yang lu bilang gosip murahan itu ada buktinya." ucap Revin dengan nada tinggi.
"Bukti apa?" seru Jani yang mulai emosi,bahkan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Mereka yang ada di situ di buat kaget oleh seruan Jani. Karena baru kali ini seorang Jani bisa marah key gini. Di sekolah Jani memang terkenal dinginnya tapi ia tak pernah marah sama orang key sekarang ini. Bahkan setiap ada yang buat dia kesal,dia hanya diam tak pernah meladeninya.
"Harus berapa kali gue bilang ke lu. Klo gue sama Defan nggak ada hubungan apa-apa. Bahkan jawaban Defan sendiri pun sama key gue. Gue juga udah mau jelasin ke lu tapi lu lebih percaya sama gosip murahan dan foto itu." jelas Jani dengan nada tinggi dan tak sanggup lagi menahan air matanya.
"Foto,!!!" seru mereka bersamaan.
Defan melihat ke arah Jani. "Foto apa Jan?" tanya Defan serius.
"Lu tanya aja sama dia. Gue udah males berurusan sama cowok keras kepala." ucap Jani sambil melirik ke Revin sinis dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Jan,!" panggil Vina yang ingin menyusul Jani. Tapi di cegah oleh Vino.
"Kasih Jani waktu untuk menenangkan dirinya dulu." ucap Vino. Vina pun hanya menganggukan kepalanya.
Revin hanya bisa diam sambil melihat kepergian Jani. "Ada apa ini? Kenapa dada gue merasa sesak dan sakit melihat dia menangis." ucap Revin dalam hati.
"Coba siniin hp lu!" pinta Vino pada Revin. Tapi Revin hanya diam.
"Vin,,!" panggil Vino dan lagi-lagi Revin hanya diam.
"Revin,!!!" gretak Vino yang langsung menyadarkan lamunan Revin.
"Ah," ucap Revin tersadar.
"Hp lu mana. Siniin gue mau liat!" geram Vino yang melihat kelakuan Revin. Dengan reflek Revin menyerahkan hp-nya pada Vino.
"Tuh,lu liat deh. Revin si pangeran es aja bisa ciut gitu cuma di gretak sama si Vino. Apa lagi si Vino ngamuk." bisik Fero pada Aldi.
"Iya,ih serem." bisik Aldi juga.
Vino yang mendengar pembicaraan 2 sahabatnya itu. Seketika melirik tajam ke arah 2 cowok tukang gosip itu.
"Bukan gue. Dia nih." tunjuk Fero ke Aldi,karena ia menyadari tatapan tajam Vino.
"Dih, jadi gue. Lu *****." ucap Aldi yang tak terima di salahkan oleh Fero.
"Mendingan lu diem klo mau selamat." geram Fero berbisik pada Aldi. Ia pun langsung tersenyum paksa ke Vino. Sedangkan Vino diam tak menghiraukan kelakuan dari 2 sahabatnya itu.
Ya,begitulah Vino jika sudah marah dan Revin pun hanya bisa diam jika Vino marah. Sebenarnya di antara mereka berempat yang paling di takuti di saat marah adalah Vino. Mungkin karena usia Vino yang lebih tua dari mereka. Meski hanya beda bulan tak bisa di pungkiri jika mereka harus menghormati dan menghargai Vino yang lebih tua dari mereka.
Tapi di sekolah teman-temannya lebih takut pada Revin dari pada Vino. Mungkin dikarenakan sikap Vino yang hangat dan sikap Revin yang dingin. Sehingga membuat mereka takut pada Revin.
Vino mengambil hp Revin dan mencari foto yang di maksud Jani. Setelah menemukannya,seketika ekspresi Vino berubah dan melihat ke arah Revin.
"Coba gue liat." ucap Defan sambil merampas hp yang Vino pegang.
"Lu dapet foto ini dari siapa?" tanya Defan pada Revin.
"Nggak penting gue dapet foto itu dari siapa." jawab Revin dingin.
"Jelas ini penting. Karena di foto itu ada gue juga." ucap Defan.
"Emang apaan sih? Coba gue liat!" pinta Fero dan Defan pun memberikan hp Revin pada Fero. Mereka pun melihat bersama.
"Njiirr,,kerjaan siapa nih." umpat Fero kesal setelah melihat foto yang ada di hp Revin.
"Jadi selama ini,lu jauhin Jani karena foto ini Rev?" tanya Fani pada Revin.
Revin tak menjawab pertanyaan Fani. "Gue mau balik." ucap Revin sambil mengambil hp-nya di tangan Aldi.
"Tunggu Rev! Keynya lu salah faham." ucap Defan sambil memegang tangan Revin.
"Gue nggak perduli." ucap Revin dingin sambil menghempaskan pegangan Defan di tangannya.
"Oke,klo lu nggak perduli. Tapi setidaknya lu dengerin dulu penjelasan gue tentang foto itu." ucap Defan serius.
"Viiin,,!!" panggil Vino geram sambil memberikan tatapan yang tak bisa di artikan oleh mereka yang ada di sana. Hanya Revinlah yang tau arti tatapan Vino.
"Jelasin sekarang! " pinta Revin pada Defan.
"Jadi gini,,,,,"
π° Hayo,,,kira-kira apa ya yang Defan jelaskan pada Revin dan teman-temannya itu. Akankah setelah mendengar penjelasan Defan. Membuat Revin tersadar akan kesalahannya yang tak mempercayai Jani. Karena ia lebih percaya gosip murahan yang di ucapkan oleh Jani. π°
π° Ikuti terus ya cerita dari novel aku ini. Dan ku ucapkan terima kasih banyak untuk kalian yang udah meluangkan waktunya untuk membaca novel aku. Tolong tinggalkan likenya ya agar aku bisa lebih semangat melanjutkan cerita novel ini.π°ππππ