
"Loh, Dokter di sini?" tanya Dhea pada dokter Petter.
Saat ini Dhea sedang berada di rumah sakit untuk melakukan medical check up. Vean selalu mengingatkan dirinya agar rutin kontrol, entah sedang sakit atau memang sehat. Vean tidak mau kalau sampai kecolongan, dan akhirnya menanggung penyesalan.
"Iya, kami sedang mengurus berkas-berkas kepindahan."
"Maksudnya, Dokter Petter dan dokter Stevie mau kerja di rumah sakit ini?"
"Tepat sekali, My Sis."
Dhea langsung meloncat-loncat senang. Kebiasaannya yang tidak pernah hilang, yang selalu membuat hati Vean juga ikut melonjak senang dengan tingkah Dhea sejak SMP dulu.
"Kalian akan tinggal di mana?"
"Saat ini masih di hotel, tapi ...."
"Jadi tetangga aku saja. Ya ya ya?"
"Memangnya, ada yang kosong?"
"Ada," ucap Vean cepat.
Tanpa Dhea ketahui, perumahan di sana sudah dia beli dari pihak developer, dan rencananya akan dia kembangkan. Sejak Dhea membuka rumah panti di sana, tentu saja jadi banyak anak-anak, yang tentunya keamanannya harus dijaga dengan baik. Apalagi sekarang Vean sudah memiliki anak perempuan. Dia takut kalau ada orang jahat yang mencelakai keluarganya.
Dia mau lingkungan di sana, menjadi lingkungan yang bersahabat dan ramah anak.
"Kalian tinggal membawa badan dan pakaian saja, biar anak buahku yang mengurus semuanya."
"Wah, terima kasih banyak, ya. Faustin juga pasti senang karena akan banyak temannya di sana."
"Dokter Stevie di mana?"
"Lagi di toilet."
Tidak lama kemudian, dokter Stevie datang, dan langsung memeluk dan mencium pipi Dhea.
"Ada di tempat penitipan anak."
Di rumah sakit ini, juga ada tempat penitipan anak dengan fasilitas lengkap dan nyaman.
"Kalau sudah tinggal di sana, kalian tidak perlu cemas dengan Faustin. Ada yang akan menjaganya. Yuki juga begitu, kalau aku dan Kak Vean kerja. Ada mama Vean dan mamaku juga yang akan mengawasi anak-anak, juga ibu panti."
"Syukurlah, kami benar-benar tertolong."
Dari wajah sepasang dokter itu, mereka memang benar-benar terlihat lega. Maklum saja, mereka adalah orang asing yang baru saja akan bekerja di kota ini, dan tidak memiliki sanak keluarga.
"Kalau ada apa-apa, bilang saja pada salah satu dari kami. Jangan merasa sungkan."
"Ngomong-ngomong, kalian mau apa ke sini?"
"Mau kontrol. Kalian bisa tunggu sebentar, nanti kita bisa makan bersama, lalu langsung pulang. Kita akan melihat rumah untuk kalian."
Setelah selesai kelakuan medical check up pada keduanya, Vean dan Dhea langsung menghampiri dokter Petter di kafe depan rumah sakit.
Mereka langsung memesan makanan. Mereka lalu pulang ke rumah Dhea. Vean sudah meminta Erza untuk menyiapkan satu unit yang akan ditempati oleh dokter Petter. Rumah dokter Petter akan berhadapan dengan rumah Erza.
"Ini rumah untuk kalian."
Dokter Petter dan dokter Stevie berdecak kagum dengan tempat yang akan mereka tinggali. Memang tidak mewah sekali, karena sebenarnya ini bukanlah lingkungan konglomerat. Tapi mereka menyukai rumah sederhana yang asri ini. Di halaman depannya, ada ayunan dan bunga-bunga. Tidak ada tanaman berduri. Tembok pagar pembatas juga hanya sebatas pinggang saja. Meski rumah yang lain, tembok pagar pembatas sudah dihancurkan, karena para tetangga rusuh itu bisa sekalian gelindingan jika ingin ke rumah tetangga.
"Kalau ada yang kurang, kalian bisa mengubahnya sesuai selera kalian."
"Berapa kami harus membayar rumah ini?"
"Tidak, ini untuk kalian."
"Apa? Untuk kami?"
"Ini sebagai rasa terima kasihku, karena selama di Swiss, kalianlah yang telah menjaga Dhea dan menemaninya."