Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
166 Kami Datang


"Apa? Kamu ... kamu mau ninggalin aku? Kamu tega?"


"Aku cuma mau ke Swiss, Kak."


"Sama aja, itu namanya ninggalin!" Vean lalu berlari ke rumahnya.


"Kak, jangan marah. Aku cuma sebentar, kok!" teriak Dhea.


"Aku gak marah. Aku mau nyiapin baju, mau ikut! Kamu sih, bilangnya dadakan. Bilang kek dari tadi malam!" teriak Vean.


"Ngintilin mulu!" teriak Juna.


Tiga jam kemudian, Vean dan Dhea sudah tiba di bandara. Mereka duduk di ruang tunggu. Tadinya Vean ingin mengajak Dhea naik jet pribadi, tapi gadis itu tidak mau.


"Yuhuuu, Dhea!" teriak Fio.


"Kalian lagi, kalian lagi!" ucap Vean. Tidak bisakah dia menikmati waktu berdua saja bersama Dhea?


"Apa? Jangan melihat kami seperti itu. Aku, Sheila, Felix Steve dan Clara memang akan ke Swiss bersama Dhea. Kami kan mau ngurusin kerjaan kami di sana. Ya kan, Dhe?"


"Iya, Kak. Memang kami berenam ada kerjaan di sana."


"Jangan lihat aku, aku diutus oleh dokter Bram untuk memantau rumah sakit di sana," ucap Arya.


Lalu Vean melihat Juna dan Fio.


"Ngintilin mulu!" ucap Vean membalas ucapan Juna tadi pagi. Juna dan Fio pura-pura tidak mendengar.


Dhea dan kawan-kawannya memang ada kerjaan di Swiss, tidak tahu sampai berapa lama.


"Sepertinya Fio memang tidak akan membiarkan Dhea menikah cepat-cepat sebelum dia memiliki pasangan," bisik Arya di telinga Vean, menakut-nakuti pria itu.


Vean memicingkan matanya pada Fio.


"Arya, Juna, pokoknya salah satu dari kalian harus jadi tumbalnya Fio!"


Kedua pria itu langsung kabur.


"Tumbal? Apa maksud kamu mengatai aku tumbal?"


"Tanyakan pada rumput yang bergoyang!"


Mereka lalu masuk ke dalam pesawat.


"Jangan rusuh."


"Ngantri, woy!"


Pramugari tersenyum melihat para penumpang yang heboh itu. Kelihatannya orang kaya, tapi kok norak? Pikirnya.


Belum tahu saja orang-orang, kalau memang seperti itu kelakuan mereka.


"Aku dulu yang naik."


"Yang pendek belakangan."


"Minggir!"


Vean menghela nafas. Dia malu punya teman-teman seperti mereka.


"Duduk, Yang."


Dhea duduk di pinggir jendela, yang menjadi tempat duduk favoritnya.


"Wah, akhirnya kita bisa jalan bareng-bareng. Ke luar negeri, lagi."


"Jangan norak!"


Vean terus menatap Dhea dari samping. Menikmati kecantikan alami gadis itu. Bersyukur dia bisa melewati masa-masa sulit itu. Vean tersenyum, senyuman yang sangat merekah.


"Vean, Vean, kok senyum mulu, baru pertama kali ke luar negeri, ya?"


Dhea langsung tertawa mendengar perkataan Fio. Sedangkan Juna ikut menertawakan pria itu.


"Awas, cewek rese jodohnya sempit."


"Kan ada Ju ...."


"Aku bukan jodohmu, jangan ngarep."


"Biasanya yang sok jual malah begitu, malah jadi ngejar-ngejar."


Mereka duduk dengan tenang, menunggu pesawat lepas landas. Dhea menatap ke luar jendela. Sudah beberapa kali dia meninggalkan negara ini, tapi pada akhirnya dia kembali.


Ya, mungkin karena ini tempat dia pulang.


Seperti apa pun jauhnya dan lamanya kamu pergi, pada akhirnya kamu akan pulang juga.


Ke rumah yang ada seseorang, atau mungkin beberapa orang yang menunggu kamu. Rasa lelah setelah perjalanan itu, akan hilang saat kamu bisa pulang dan melihat senyum orang-orang yang menyayangi kamu.


Seperti itu juga Dhea.


Dulu, dia takut untuk kembali ke negara ini, ke kota ini. Takut untuk bertemu orang-orang di masa lalunya. Takut untuk kembali terluka dan gagal move on.


Tapi kini Dhea tidak rajut lagi.


Tidak ragu untuk pergi.


Dan tidak takut untuk kembali.


Pesawat mulai lepas landas.


Vean dan Dhea tersenyum.


Swiss, kami datang