Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
221 Memilih Itu Berat


Vean tiba-tiba saja teringat dengan mimpinya dulu. Mimpi tentang anak perempuan—anaknya—yang dia beri nama Dhea. Apa semua itu pertanda untuk saat ini?


Apa Dhea hanya ingin memberikan titipan terakhir ini untuknya? Sebagai salam perpisahan, sebagai kenang-kenangan terakhir?


Sungguh, Vean tidak sanggup memikirkan semuanya.


Pintu terbuka, dan dokter kandungan Dhea segera menatap Vean. Dokter itu menghela nafas.


"Tuan Vean, keadaan ini dan calon anak tidak baik-baik saja. Jika harus memilih, siapa yang akan Anda pilih?"


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja kalian harus menyelamatkan keduanya!" Vean begitu emosi mendengarnya.


"Kami tentunya akan berusaha semaksimal mungkin, tapi ...."


"Selamatkan keduanya!"


"Tuan, tolong jangan mengulur waktu."


"Selamatkan istriku!"


"Kalau begitu, segera tanda tangani surat perjanjian!" Dokter langsung masuk kembali ke ruang operasi.


Tubuh Vean luruh seketika. Dipaksa untuk memilih seperti ini, tentu saja membuat hatinya sakit. Harapan untuk memiliki anak yang akan membuat hubungan dia dan Dhea semakin erat, seakan sirna. Dia tidak sanggup untuk kehilangan istirnya, meski bukan berarti dia lebih rela kehilangan anaknya.


Untuk memiliki anak lain pun, Vean sepertinya akan trauma. Tidak mau lagi melihat Dhea yang harus menderita selama masa kehamilan.


Apa takdirnya tidak memiliki seorang anak?


Vean tidak akan merasa keberatan, tapi bagaimana dengan Dhea? Yang namanya seorang istri, pasti ingin memberikan keturunan untuk suaminya, dan tidak mau mendengar gunjingan orang atau celotehan mertua.


Vean menggelengkan kepalanya, dia sangat yakin keputusan dia sudah sangat benar. Tidak masalah tidak memiliki anak kandung, mereka masih bisa mengadopsi banyak anak. Bukankah di panti ada banyak anak yang bisa mereka asuh?


Lagipula, ini bukan salah Dhea. Vean sendiri yang mengambil keputusan ini di depan semua keluarga, terutama keluarganya.


Tidak ada yang menentang keputusan Vean. Entah karena ikut setuju atau karena tidak berani menentang. Kedua orang tua Vean akan mendukung apa pun keputusan anaknya itu, karena mereka sangat tahu bagaimana dalamnya rasa cinta Vean untuk Dhea.


Vean menutup mulutnya rapat-rapat, meski air matanya masih mengalir. Kembali teringat akan sosok anak perempuan yang hadir dalam mimpinya saat Dhea kritis dulu.


Jujur saja, dalam hati, sejak dulu Vean memang sangat ingin memiliki anak perempuan bersama Dhea. Anak perempuan yang wajahnya sangat dia harapkan mirip dengan Dhea.


Dhea-ku lebih berharga daripada apa pun. Aku tidak mau anakku besar tanpa kasih sayang seorang ibu kandung, meski akan ada banyak orang yang menyayangi dirinya.


Vean duduk selonjoran di lantai dengan keadaan kacau. Baju basah karena keringat dan wajah kuyu.


Dhea


Dhea


Dhea


Tuhan, selamatkan Dhea-ku.


Selamatkan Dhea-ku, aku mohon.


Vean menyugar rambutnya ke belakang dengan kuat.


Suasana di situ sangat hening, bahkan untuk menghela nafas saja, mereka tidak berani. Seolah dengan bersikap seperti itu, akan mematik kemarahan Vean yang sedang kacau.


Tidak ada yang menyangka kalau malam ini, mereka akan merasakan ketegangan ini.


Bertahanlah Sayang, jangan tinggalkan aku sendiri di sini ....


Dan tepat saat itu, terdengar suara yang membuat nafas mereka tercekat. Antara bahagia, panik, takut, dan segala macam perasaan ....


"Suara bayi, kan? Kalau itu suara bayi, bagaimana dengan anakku?"