Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
194 Berdebar


[Aku baru sampai restoran, mau ketemu sama orang.]


[Nanti ke kantor aku, ya? Apa mau aku jemput saja?]


[Aku ke sana saja sendiri. Tapi apa gak ganggu pekerjaan Kak Vean?]


[Enggak. Aku tunggu di kantor. Kalau sudah sampai loby, kasih tahu aku.]


[Iya, Kak. Aku mau meeting dulu, ya.]


Vean tidak lagi membalas, karena tidak mau menggangu Dhea. Setelah menerima balasan dari Dhea, Vean sedikit tenang. Dia bisa lebih fokus lagi bekerja.


"Rapat hari ini selesai."


Vean berjalan terburu-buru ke ruang kerjanya. Dia menyuruh Erza untuk memesan makanan dan minuman untuk Dhea. Juga memeriksa ruang kerjanya, apa berantakan atau tidak.


"Menurut kamu, apa yang kurang dari ruangan ini?"


"Tidak ada, Tuan."


"Apa Dhea akan menyukai ruangan ini?"


Ini kan hanya ruangan kerja di kantor, bukan kamar pengantin!


Tentu saja Erza hanya bisa membatin, dia takut kalau sampai didengar lagi oleh Vean.


"Apa pewangi ruangannya terlalu menyengat? Aku tidak mau kalau sampai Dhea mual."


"Tidak, Tuan."


"Apa nona Dhea sedang hamil?" gumam Erza.


"Erza!"


"Ma ... maaf, Tuan."


Di lain tempat


Sejak melihat Bu Wati, dokter Bram terus memikirkan perempuan itu. Tidak tahu kenapa. Dia merasa pernah melihatnya di suatu tempat, tapi di mana?


Mengingat bu Wati, berarti mengingat Dhea.


Apa benar Dhea itu anaknya Bu Wati?


Dokter Bram juga mengingat saat dia masih menjadi koas dulu. Satu tahun praktek di sekitar desa itu.


"Dok, Dokter memanggil saya?" tanya seorang dokter di depan pintu ruangan dokter Bram.


"Oh, iya. Silahkan masuk."


...💦💦💦...


Kenapa Dhea lama sekali? Apa meeting-nya belum selesai juga?


Vean melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah dua jam lebih dia menunggu sejak dia keluar dari ruangan meeting.


Pekerjaan Vean sudah selesai. Dia memang cepat-cepat menyelesaikan semuanya agar nanti bisa menghabiskan waktu bersama dengan Dhea.


Pintu rumah kerjanya terbuka ....


"Sejak kapan kamu manggil papa dengan sebutan Sayang?"


"Aku kira Dhea."


"Oh, Dhea mau ke sini? Kamu memang harus sering-sering mengajak dia ke sini. Papa lihat Dhea itu punya bakat bisnis. Butiknya sudah berkembang sangat pesat."


"Papa benar. Tapi kadang aku sedih juga, Dhea gagal menjadi dokter."


"Memang sudah takdirnya seperti ini. Toh yang penting dia sukses dalam karirnya sekarang. Bahkan jika doa seorang pengangguran sekali pun, papa dan mama akan tetap bangga padanya."


"Benar. Vean juga begitu. Akan selalu bangga padanya."


"Jam berapa dia mau datang?"


"Nggak tau, belum ada kabar. Tadinya aku meminta dia untuk menghubungi aku kalau sudah ada di loby. Saat papa datang, aku kira dia ingin memberikan aku kejutan."


"Pekerjaan kamu sudah selesai?"


"Sudah."


Candra mengangguk. Dhea memang memberikan energi positif untuk Vean. Anaknya itu jadi semakin semangat dan giat bekerja. Bahkan semakin lama, perusahaan semakin berkembang pesat. Sangat jauh berbeda saat dia dipaksa menjalin hubungan dengan Fio dulu, mukanya cemberut terus. Ngomong susah, senyum ngirit, ketawa pelit.


Tapi sekarang Vean sudah berubah. Vean yang sekarang lebih mudah diajak komunikasi. Lebih ekspresif—kalau ada Dhea. Mereka beruntung memiliki menantu seperti Dhea, dan ingin segera memiliki banyak cucu, agar rumah mereka tidak lagi sepi.


Mereka hanya memiliki satu anak, namun berharap Vean dan Dhea bisa memiliki anak yang banyak, agar tidak merasa kesepian seperti Vean, Juna dan Fio.


"Dhea ke mana, sih? Kenapa belum sampai juga? Apa lupa?"


"Coba kamu hubungi."


Vean lalu mencoba menghubungi Dhea, tapi tidak diangkat-angkat.


"Nyambung, tapi enggak diangkat-angkat."


"Mungkin sudah di jalan menuju sini. Kenapa tidak menunggu di loby saja sekarang?"


"Ya sudah, Vean tunggu di loby saja. Papa mau di sini?"


"Papa juga ikut, mau menyambut calon menantu. Tapi papa ke toilet dulu."


"Aku kok deg-degan ya, Pa?"


"Hahaha, kamu ini. Sampai segitunya mau menyambut calon istri. Bagaimana nanti mengucapkan ijab kabul?"


"Kalau itu sudah hapal, Pa. Sejak Dhea masih SMP."


Candra langsung tertawa mendengarnya.


"Ada-ada saja kamu ini!"


"Dilatih sama Dhea, Pa."


Candra semakin tertawa.


"Hidup kamu semakin berwarna sejak mengenal Dhea, ya?"


"Iya, Papa benar." Vean tersenyum, sambil memegang dadanya yang berdebar, mau menyambut calon istri.