
"Masalahnya dia juga mempunyai masa lalu seperti gue. Klo gue pribadi mungkin bisa buka hati gue untuk dia. Karena setiap gue berada di dekat dia. Entah mengapa gue merasa nyaman. Seakan-akan gue sama dia tuh key udah kenal lama. Sedangkan dia,apa mungkin dia bisa buka hatinya untuk gue. Secara sampai saat ini pun dia masih suka menghindar setiap gue bahas soal perasaan gue ke dia." jelas Revin sambil melihat ke arah Jani.
Mendengar penjelasan Revin. Mereka hanya manggut-manggut kepala.
"Terakhir lu bahas soal perasaan lu sama dia kapan?" tanya Vino.
"Udah lama sih." jawab Revin.
"Nah udah lamakan. Kenapa nggak lu coba lagi. Siapa tau aja sekarang dia udah bisa terima lu." ucap Fero.
"Emang lu nggak cemburu Fer." ledek Aldi.
"Jangan mulai deh lu. Bisa-bisa nih daging melayang ke muka lu." ucap Fero kesal.
"Wkwkwk canda Fer. Tensin amat lu." ucap Aldi.
"Gimana Rev,lu mau coba lagi nggak? Siapa tau aja kali ini lu beruntung." ucap Fero.
"Klo kaga beruntung. MAAF ANDA KURANG BERUNTUNG." ledek Aldi menekankan setiap kata.
"Setres lu. Lu pikir key hadia yang ada di cikih." ucap Vino sambil tertawa dan mereka pun ikut tertawa.
πΉ Pembicaraan Para Perempuan πΉ
"Jan,!" panggil Fani.
"Hmm,," jawab Jani dengan menggumam.
"Ckk,Jani!" panggil Fani lagi dengan nada tinggi.
"Apa," jawab Jani cuek.
"Lu sama Revin udah jadian belum sih?" tanya Fani lagi.
"Belum," jawab Jani singkat,ia masih fokus dengan hp-nya.
"Tapi ko gue perhatiin,keynya hubungan kalian udah mulai dekat. Nggak key waktu itu." ucap Fani.
"Iya. Lu emang nggak mau terima dia jadi cowok lu gitu?" tanya Mia.
"Nggak," jawab Jani singkat.
"Jangan bilang lu masih mengharapkan dia!" tebak Vina.
"Tau lu Jan. Emangnya lu nggak bisa liat apa klo si Revin itu cinta banget sama lu. Harus pake cara apa lagi sih,biar lu bisa terima dia. Ingat penyesalan datangnya di akhir,klo di awal namanya pendaftaran." jelas Mia.
"Bener banget tuh." timpal Fani.
"Iya gue tau. Tapikan masalahnya dia aja nggak nembak gue. Gimana gue mau terima dia." ucap Jani yang melihat ke arah mereka.
"WHAT!!" seru Mia dengan suara cemprengnya itu. Dengan reflek mereka menutup telinganya masing-masing.
"Woy cabe rawit berisik lu." seru Fero yang mendengar suara cemprengnya Mia.
"Bacot lu gamon." seru Mia.
"Apaan tuh gamon?" tanya Aldi.
"GAGAL MOVE ON." jawab Mia dengan menekankan setiap kata.
Mereka semua pun jadi tertawa mendengar ucapan Mia. Sedangkan Fero hanya bisa memasang wajah kesal.
"Sekarang kita kembali ke laptop." celetuk Mia.
"Lah lu kira ini acara yang ada di tv." ucap Fani.
"Hehehe. Terus-terus tadi gimana kata lu. Jadi Revin belum nembak lu?" tanya Mia pada Jani. Jani hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Revin yang belum nembak lu. Apa lu yang nggak terima cintanya dia." ledek VINA pada Jani.
"Tau lu Jan." timpal Fani.
"Terserah kalian." ucap Jani datar dan kembali fokus ke hp-nya lagi.
"Oke klo begitu. Berarti klo Revin nembak lu lagi. Pokoknya lu harus terima dia." ucap Mia maksa.
"Lah bisa begitu." ucap Jani kaget mendengar ucapan Mia.
"Ya emang harus begitu." timpal Fani.
Vina hanya tersenyum mendengar pembicaraan sahabatnya itu. Sedangkan Jani memilih diam dan mengabaikan perkataan mereka semua.
π· π· π·
Sekitar tiga puluh menit mengendarai mobilnya. Jani sampai di area parkiran sekolah. Hari ini ia berangkat sekolah bareng dengan kembarannya.
"Widiihh tumben nih si kembar berangkat bareng." ledek Mia yang melihat kedatangan si kembar.
"Hehehe iya nih ka. Mobil gue lagi di bengkel. Makanya gue nebeng mobil ka Jani dulu." jelas Juna.
"Yaudah yuk kita ke kelas!" ajak Fani.
Mereka berjalan menuju kelas,saat Jani baru saja duduk. Ada notif chat masuk di hp-nya.
*Tiing...*
π© Revin :
Gue tunggu di roof top sekolah sekarang.
π© Jani :
"Guys gue ke toilet dulu ya!" izin Jani dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Set dah si Jani bener-bener dah. Kita belum juga jawab dia udah langsung pergi aja." ucap Fero yang melihat kepergian Jani.
"Lu key nggak tau si Jani aja. Namanya juga princess salju,ya begitu." ucap Aldi.
"Vin!" panggil Fero.
"Apa." jawab Vino dan Vina bersamaan.
"Eh buset. Bisa kompak begitu lu berdua." ucap Aldi.
"Namanya juga jodoh,ya begitu by." ucap Mia.
Sedangkan Vino dan Vina memasang wajah cuek mendengar perkataan mereka.
"Gue panggil Vino bukan Vina." jelas Fero.
"Owh," ucap Vina datar.
"Lah,lu lagian klo panggil orang itu yang lengkap jangan ujungnya doang." jelas Fani.
"Iya sorry. Galak amat si bini gue." celetuk Fero.
"Eh Bambang,sejak kapan si Fani jadi bini lu. Klo ngomong kaga di filter dulu." ucap Mia.
"Iya sorry Maymunah." ucap Fero yang langsung di timpuk pake pulpen oleh Mia dan mengenai lengannya.
"Sialan lu. Gue yang imut begini,namanya di ganti jadi Maymunah." ucap Mia tak terima.
"Tau lu parah bet dah. Dia tuh nggak cocok di panggil Maymunah." ucap Fani.
"Terus cocoknya di panggil apa?" tanya Vino.
Sebelum menjawab,Fani sudah bersiap-siap untuk kabur dari amukan Mia.
"Markona," seru Fani yang langsung lari meninggalkan mereka.
"Fani sialaaann." teriak Mia dengan suara cemprengnya.
Mereka yang ada di sana menutup telinganya masing-masing dan tertawa. Melihat kepergian pacarnya. Fero pun meninggalkan kelas untuk menyusul Fani.
"Dasar bucin." seru Aldi.
"By,mereka jahat sama aku." adu Mia dengan suara manja pada Aldi.
"Sini-sini aku peluk." ucap Aldi sambil merentangkan kedua tangannya.
"Ini sekolahan woy. Pengen peluk-peluk aja." cegah Vina.
"Hehehe sorry khilaf." ucap Aldi sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
πΉ Di Roof Top Sekolah πΉ
"Ada apa?" tanya Jani yang baru tiba di sana.
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu. Tapi kamu jawab dengan jujur pertanyaan aku." ucap Revin serius.
"Soal apa?" tanya Jani.
"Apa benar kamu jadian sama Defan?" tanya Revin to the poin langsung pada Jani.
"Nggak. Kamu dengar gosip dari mana sih?" tanya Jani yang bingung dengan pertanyaan Revin.
Sedikit info : Jika mereka lagi berdua,panggilannya menjadi AKU-KAMU. Beda halnya jika mereka lagi bersama yang lain,panggilannya masih GUE-LU.
"Udah deh kamu jujur aja sama aku. Nggak usah bohong." ucap Revin yang mulai kesal.
"Aku nggak bohong sama kamu." ucap Jani meyakini Revin.
"Terus apa maksud dari foto ini?" tanya Revin sambil menunjukkan foto yang ada di hp-nya ke Jani.
*Degg...*
"Bagaimana mungkin dia punya foto itu." ucap Jani dalam hati.
"Kenapa diam? Bingung ya kenapa aku bisa punya foto kamu yang lagi pelukan sama pacar baru kamu itu?" ucap Revin dengan nada sinis.
"Kamu salah faham Vin." ucap Jani sambil menatap Revin lekat-lekat.
"Dari mananya gue salah faham. Gue kecewa sama lu. Gue pikir lu beda dengan yang lain. Tapi ternyata sama aja. Kini gue tau,masa lalu lu cuma di jadikan alasan lu untuk nolak gue ajakan. Klo lu nggak suka sama gue kenapa lu nggak jujur sama gue. Kenapa lu harus pake alasan orang yang ada di masa lalu lu. Kenapa Jan?" bentak Revin pada Jani.
*Plakk...*
Jani menampar Revin karena ia tak suka dengan ucapan Revin pada dirinya. Menurutnya tuduhan Revin pada dirinya sudah sangat keterlaluan.
"Terserah lu mau percaya sama gue atau nggak. Tapi satu hal yang harus lu tau. Gue nggak pernah bohong soal orang yang ada di masa lalu gue." ucap Jani dengan nada tinggi .
Saat Jani sudah melangkahkan kakinya. Sejenak ia menghentikan langkahnya.
"Di sini bukan cuma lu yang kecewa,tapi gue pun sangat kecewa sama lu. Gue pikir lu udah mengerti tentang gue,tapi kenyataannya gue salah. Sampai kapan pun lu nggak akan pernah bisa mengerti tentang kehidupan gue. Sama halnya dengan mereka." ucap Jani tanpa berbalik ke belakang.
Setelah mengucapkan itu,Jani pergi meninggalkan Revin di roof top sekolah sendiri.
"Aaaaahhhhhhh,," teriak Revin frustasi.
Sejujurnya Revin bingung harus percaya ke siapa. Karena saat ini ia sedang di kuasai oleh rasa cemburunya pada Jani.