
Hari sudah sore dan Fero baru tiba di rumahnya.
"Assalamu'alaikum,,Mams." salam Fero seraya mencium punggung tangan Mamsky.
"Wa'alaikumsalam." balas Mamsky. "Baru pulang kamu.??" tanya Mamsky.
"Iya Mams,tadi masih ada urusan di sekolah." jawab Fero.
"Iya Mamsky juga sudah tau. Tadi Fani yang kasih tau."
"Fani.??"
"Iya. Tadi dia mampir ke sini sendiri dan dia titipin barang kamu yang tertinggal di dia."
"Barang apa.??"
"Mana Mamsky tau. Kamu yang punya masa tanya ke Mamsky."
"Ya kan Mamsky yang menerima."
"Ya Mamsky engga tau. Kamu lihat saja sana sendiri. Mamsky sudah taruh di meja belajar kamu."
"Yaudah aku ke kamar ya." pamit Fero.
"Tunggu Fer." cegah Mamsky.
"Ada apa lagi Mams.??" tanya Fero.
"kamu sering-sering lah bawa Fani main ke sini. Mamsky kan kangen sama dia."
"Tadi kan Mamsky udah ketemu sama orangnya."
"Iya sih.. Tapi kan Mamsky masih kangen banget sama dia. Kamu juga kenapa sih sudah jarang banget bawa dia main ke sini.. Hubungan kalian baik-baik saja kan.??" tanya Mamsky curiga.
"Hmmm baik." jawab Fero ragu.
"Kalau baik. Terus kenapa si Fani engga kamu ajak main ke sini lagi.??"
"Yaudah nanti aku bawa dia main ke sini."
"Oke.. Mamsky tunggu. Awas saja kalau kamu bohong.. Mamsky coret kamu dari kartu keluarga." ancam Mamsky.
"Ya Allah Mamsky sama anak sendiri kejam amat. Sebenarnya anak Mamsky itu Fero apa Fani sih.??"
"Bodo amat. Salah kamu sendiri engga mau dengar omongan Mamsky."
"Iya,,iya nanti Fero bawa Fani ke sini. Yaudah ah Fero mau mandi dulu."
"Ya sudah sana mandi. Dari tadi ge,,bau badan kamu tuh udah seperti rujak bebek rasanya campur aduk."
"Astaghfirullah.. Perasaan yang dari tadi ngajakin ngobrol dia deh. Sabar,,sabar orang sabar semakin ganteng." gumam Fero.
Fero pun menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setelah sudah sampai kamar. Ia melihat kotak yang ada di meja belajarnya.
"Kotak.. Barang apaan ya? Seingat gue engga ada barang gue yang tertinggal di dia." gumam Fero.
"Bodo amat ah. Engga penting." lanjut Fero yang langsung membersihkan diri.
Malam pun tiba. Seperti yang sudah mereka bicarakan tadi di sekolah. Malam ini mereka berkumpul di restoran yang dulu biasa mereka berkumpul.
"Akhirnya sudah sekian lama. Hari ini kita bisa nongkrong bareng lagi." ucap Mia senang.
"Iya beb." timpal Aldi.
"Fani kok belum sampai ya.!!" ucap Vina.
"Tau tuh bocah lama banget deh." kata Mia. "Bentar. Gue chat dia dulu." lanjut Mia sambil mengambil HP nya yang ada di dalam tas dan langsung mengechat Fani.
Mia :
Lu dimana? Jadi kesini kan?
^^^Fani :^^^
^^^Sorry ya. Gue gak bisa ke situ ^^^
Mia :
Lah kenapa sih? Ini kan hari perayaan kita. Klo lu gak datang,,gak asik dong
^^^Fani :^^^
"Fani enggak bisa ke sini." kata Mia.
"Kenapa.??" tanya Jani.
"Katanya ada urusan keluarga." jawab Mia.
"Yaudah kita langsung pesan makanan aja." kata Vino.
"Ternyata lu benar-benar ingin menghindari gue." batin Fero.
Mereka pun memesan makanan dan membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menitan. Pesanan mereka datang.
"OMG HELOW..!!!" seru Mia heboh.
"Berisik." sinis Jani dengan melemparkan stik kentang ke arah Mia.
"Set dah gue di lempar beginian. Lu kata gue tong sampah." sungut Mia kesal.
"Lagian lu berisik banget. Malu tuh di liatin sama orang." kata Vina dengan melirik ke kanannya.
Mia pun ikut melirik ke arah lirikan Vina dan kembali menatap Vina. "Hehehe sorry,,gue keceplosan." ucap Mia dengan tersenyum canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ada info trending nih." lanjut Mia.
"Info apaan sih. Palingan juga info engga penting." kata Fero.
"Mana pernah gue kasih info engga penting. Ini tuh penting banget yang harus kalian tahu."
"Emang info apaan sih beb.??" tanya Aldi.
"Kalian tau Defan yang mantannya si Jani kan.??" tanya Mia tanpa menghiraukan pertanyaan Aldi.
"Mana ada. Engga usah ngadi-ngadi deh lu." sarkas Jani seraya memukul lengannya Mia.
"Keren ya. Belum jadi pacar tapi udah jadi mantan." kata Vino dengan terkekeh.
"Bukan begitu konsepnya Markonah. Masa ujuk-ujuk langsung jadi mantan aja." ucap Fero.
"Sialan lu." umpat Mia kesal. "Itu hanya berlaku pada Jani aja bukan untuk orang lain hahaha." lanjut Mia tergelak dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Jani.
"Defan yang ketua basket di sekolah kita.??" tanya Revin yang sedari tadi hanya diam.
"Iya.. Dia baru buat status di IG nya. Dia mengundang teman-teman sekolah kita untuk datang di acara pernikahannya sabtu besok." jelas Mia.
Uhuukk...uhuukk...uhuukk...
Fero yang lagi minum pun jadi tersedak mendengar ucapan Mia.
"What.!!" seru Aldi kaget.
"Sumpah ya. Lama-lama telinga gue bisa bermasalah klo berada di dekat kalian berdua." kata Jani jutek.
"Hehehe.. Sumpel pake ini Jan." ucap Mia seraya memberikan tisu pada Jani.
"Kok bisa? Nikah sama siapa dia.??" tanya Vina.
"Engga tau. Di sini dia enggak tulis namanya sama ceweknya." jawab Mia yang masih fokus melihat layar HP nya.
"Mungkin sengaja kali. Supaya kita pada penasaran dan akhirnya hadir ke pernikahan dia untuk melihat langsung pasangan perempuannya." kata Aldi.
"Kira-kira sama siapa ya? Gue jadi penasaran nih." kata Vina.
"Gue balik duluan guys." pamit Fero yang langsung pergi meninggalkan mereka.
"Woy,,Fer. Lu mau kemana.??" tanya Aldi dengan nada tinggi.
"Kenapa dia.??" tanya Revin bingung.
"Key lu engga tau aja. Dia kan mulai aneh.. Yaudah kita lanjut makan lagi. Sayang tuh makanannya sudah mulai dingin." kata Vino.
"Key pasangan dua ini ya." kata Mia seraya melirik ke arah Revin dan Jani.
"Lama-lama di telen lu Mi sama mereka berdua." kata Vina.
Setelah lama berbincang-bincang mereka pun melanjutkan acara makan-makannya.
Maaf ya kalau aku jarang update di karena kan di sibukan dengan dunia nyata. Tapi sebisa mungkin aku usahakan untuk mentamatkan cerita ini. Tidak akan aku gantung karena di gantung itu rasanya 'Ah Mantap' apa lagi pas lagi sayang-sayangnya. π π
Guys,,,hari ini tepat 29 Juli aku ULTAH loh. Kali ada yg mau ucapin buat aku. π Aku sayang kalian semua πππ₯°π₯° semoga kita selalu di beri kesehatan dan kelancaran dalam segala urusan 'Amiin' ππ