
Vean duduk di bangku taman. Tempat yang membuatnya merasa tenang. Sebenarnya Vean merasa tidak ada yang istimewa dari sebuah taman. Tapi sejak mengenal Dhea saat gadis itu SMP dulu, dia jadi sering duduk di taman. Dhea akan selalu memberikan dia cokelat di sana, mengajaknya mengobrol, atau bertanya tentang pelajaran. Modus saja, padahal gadis itu sudah tahu soal pelajarannya.
Duduk di taman juga salah satu hal yang akan selalu membuat dia teringat akan Dhea.
Vean menghela nafas. Teringat kalau gadis itu gagal menjadi seorang dokter, membuat hatinya sakit.
Seharusnya, aku yang membahagiakan dia. Bukan dia yang selalu mengorbankan banyak hal padaku.
Aku yang akan membahagiakan kamu, Dhea.
Fio datang dan langsung duduk di sebelah pria itu. Mereka tidak saling bicara. Dalam hati sama-sama merasa menyesali apa yang pernah terjadi.
Di sana, Dhea yang duduk di atas kursi roda, hanya bisa melihat dari tempatnya saat ini.
"Ayo, Kak, kita kembali ke kamar."
Arya mendengus melihat Vean dan Fio. Tadinya dia ingin mengajak Dhea ke taman, agar gadis itu tidak merasa bosan di dalam kamar terus. Bisa menikmati udara segar juga hangat matahari.
💦💦💦
"Dhea, aku mau bicara sama kamu."
"Ya, apa yang mau kakak bicarakan."
Vean mengusap kepala Dhea, membuat gadis itu merasa berdebar.
Kalau kak Vean seperti ini, kapan aku bisa benar-benar melupakan kamu, kak? Padahal aku sudah mencoba ikhlas sejak hari pertunangan itu.
"Dhea, bisakah kita memulainya lagi dari awal?"
"Memulai dari awal? Apanya?"
"Hubungan kita. Aku mencintai kamu, Dhea, sejak dulu. Maafkan aku yang ...."
Melihat itu, Dhea merasa tidak enak pada Fio.
"Kak, tidak perlu memaksakan diri. Jangan pura-pura menyukai aku."
"Aku tidak pura-pura, Dhea. Tak apa sekarang kamu menolak aku, tapi mungkin besok, Minggu depan, bukan depan, atau mungkin tahun depan, kamu akan menyukai aku."
Wajah Dhea memerah malu.
Itu kan kata-kata yang pernah aku katakan padanya dulu. Dia masih ingat? Batin Dhea.
Biarkan sekarang aku yang mengejar kamu, dan aku yang melakukan banyak hal untuk kamu. Kamu tinggal merasakan cinta yang aku berikan, batin Vean.
Kalau saja Dhea mendengar ini sebelum Vean dan Fio bertunangan, pasti dia akan merasa sangat senang. Tidak, seharusnya sebelum Vean dan Fio bersama. Tapi mendengarnya sekarang, mana mungkin Dhea percaya.
"Sekarang tidurlah." Vean menyelimuti Dhea, dan tetap duduk di sisi brankar gadis itu. Ditungguin seperti ini oleh Vean, mana bisa dia tidur. Yang ada dia merasa gelisah.
Dhea menghela nafas lega saat orang-orang mulai masuk ke dalam kamarnya. Dia merasa semua ini berlebihan. Dia tidak perlu ditunggui oleh mereka semua setiap hari.
"Kak, ayo kita kembali ke Jakarta saja," bisik Dhea pada Arya.
"Iya, kalau kamu sudah membaik."
Vean melihat Dhea yang bisik-bisik pada Arya, merasa tidak suka.
Rasakan tuh. Apa yang kamu rasakan saat ini, itulah yang adikku rasakan saat itu.
Tentu saja Arya tahu, kalau Vean sedang cemburu. Sebagai kakak, walaupun bukan Kakak kandung, Arya akan menjaga Dhea. Mereka besar bersama seperti kakak beradik kandung. Jadi, tidak akan lagi Arya membiarkan ada seorang pria yang menyakiti adiknya.
Arya lalu mendengus melihat Fio.
Kamu juga, awas nanti!