
Sudah dua hari Dhea belum juga membuka matanya. Dia masih nyaman dengan dunianya saat ini.
Teman-teman Dhea bergantian menginap di rumah sakit, karena mereka juga punya pekerjaan yang harus mereka urus.
Saat ini Vean sedang duduk di taman rumah sakit. Hujan rintik-rintik tak mengganggunya sama sekali. Pria itu menengadahkan wajahnya ke atas, menatap langit yang sedikit mendung.
Pria itu berkali-kali menghela nafas. Masih saja dia merasa sesak di hatinya, dan selalu bertanya kenapa? Kenapa Dhea harus mendonorkan ginjal itu padanya.
Vean memejamkan matanya, ingin menikmati suasana ini dalam ketenangan, meski dia tidak bisa mendapatkan ketenangan itu.
"Dhea?"
Gadis yang dipanggil Dhea itu diam saja. Wajahnya terlihat pucat tapi masih saja menampilkan senyum indahnya.
"Dhea?"
Dhea diam saja, membuat Vean menghela nafas. Apa seperti ini rasanya diabaikan?
"Dhea, tolong jangan diam saja."
Dhea mengarahkan telunjuknya ke bibir, tanda untuk meminta Vean diam.
Mereka kini ada di tengah bukit salju.
Salju?
Tapi kenapa rasanya sangat aneh?
Salju ini terasa hangat, tidak dingin sama sekali.
Vean memegang salju itu, dan salju itu langsung menghilang bagai asap yang tertiup angin.
"Dhe?"
Vean mendekati Dhea, tapi gadis itu malah mundur, semakin menjauhi dirinya. Hembusan angin semakin kencang, salju semakin turun dengan lebat, dan Dhea melambaikan tangannya pada Vean.
"Dhea! Dhea!"
"Vean! Vean!"
Ternyata dia masih berada di taman. Mungkin tadi dia ketiduran karena terlalu lelah. Lelah fisik juga lelah pikiran.
Juna ikut duduk di sebelah Vean, menghirup dalam-dalam udara sore yang terasa sejuk, ditambah angin yang berhembus sepoi-sepoi. Suasana seperti ini sebenarnya sangat menyenangkan, kalau saja keadaan mendukung. Nyatanya, perasaan dan pikiran mereka sama-sama kelabu, seperti langit sore ini.
Mendung
Mereka sama-sama diam, tidak tahu harus bicara apa. Kata-kata penghiburan rasanya tak berguna. Siapa di sini yang seharusnya dihibur?
Vean?
Dia seperti korban, tapi juga pelaku kejahatan.
"Yang sudah terjadi, tidak bisa dicegah lagi. Menyesal juga tidak ada gunanya. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Aku yakin, Dhea melakukan semua ini sudah dengan pertimbangan yang matang. Jangan pernah memasang wajah kecewa, tidak suka atau pun marah."
Bicara memang gampang, tapi bagaimana kalau kalian yang menjadi aku?
Ternyata rasanya berbeda. Saat aku tahu kalau Arya yang mendonorkan ginjal itu, aku memang merasa bersalah, tapi tidak seperti ini rasanya. Kalau tahu akan seperti ini jadinya, lebih baik sejak awal aku menolak saja pendonor itu.
Mereka pikir, mereka tahu bagaimana perasaan aku. Tidak, mereka tidak tahu. Tidak ada yang pernah tahu bagaimana perasaan aku saat ini.
"Ayo kita masuk, jangan sampai kamu kesambet karena terlalu lama melamun di taman ini."
Juna menepuk punggung Vean. Mereka jalan di sepanjang koridor rumah sakit. Para perawat dan dokter yang berpapasan dengan mereka menyapa, tapi Vean diam saja.
Mereka masuk ke dalam kamar Dhea.
"Om, apa para dokter di rumah sakit ini tahu, kalau Dhea yang mendonorkan ginjal itu untuk aku?"
"Ya, tentu saja. Beberapa orang dokter dan perawat tentu saja tahu. Tapi Om sudah meminta mereka untuk diam. Dan bila mereka melihat Dhea di rumah sakit ini, maka Dhea harus diutamakan apa pun yang terjadi."
Pantas saja saat pertama mereka membawa Dhea malam itu, seorang perawat langsung meminta rekannya untuk memanggil dokter Bram. Kalau dipikir-pikir, kenapa harus dokter Bram yang mengurus pasien di ruang UGD?
Vean juga jadi teringat saat Dhea pingsan di jalan, dokter Bram juga terlihat cemas dan langsung mewanti-wanti tentang kesehatan Dhea.
Seharusnya ... seharusnya aku sudah sadar sejak saat itu ....