Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
201 Teman Curhat


"Dhea, apa yang kamu suka dari Vean?" tanya teman sekolah Vean.


"Kalau ditanya apa, pasti jawabannya banyak. Tapi kata-kata yang selalu aku ingat, Kak Vean selalu bilang begini, 'Heh, bocil, belajar sana.' Padahal saat itu aku sudah belajar. Belajar menerima takdir kalau kamu adalah jodohku." Dhea mengedipkan matanya pada Vean, lagi-lagi menggombali pria yang kini menjadi suaminya itu.


"Balas, balas, balas ...."


Disuruh membalas gombalan Dhea, Vean malah bingung.


"Hah?"


"Hah heh hah heh. Balas, Vean."


"Ternyata mereka berdua tidak ada yang berubah, ya?"


Mereka menertawakan tingkah Vean yang terlihat malu-malu itu.


"Anakmu tuh, Pa."


"Anakmu juga, Ma."


"Kalau Kak Vean duri, aku adalah dagingnya."


"Itu mah duri dalam daging, Dhea!" teriak teman Vean.


"Ya, seperti kak Vean yang selalu ada dalam hatiku."


"Aciee, Vean. Digombalin."


"Juna, kalau kamu ...."


"Gak, gak mau aku dengar gombalan kamu."


"Kalau Kak Vean madu, aku adalah sarangnya."


"Sarang madu, sarang madu!"


Teman-teman sekolah mereka semakin tertawa. Kedua orang tua Vean sampai geleng-geleng kepala melihat anak mereka yang wajahnya merah itu.


"Stop, jangan lanjutkan lagi, Dhea."


Tapi mana mau Dhea berhenti begitu saja. Rasanya sangat menyenangkan menggoda pria yang kini menjadi suaminya itu.


Acara pernikahan ini seperti acara reuni, yang lebih didominasi oleh teman-teman sekolah Vean dan Dhea. Bahkan teman-teman kuliah Vean, tidak ada yang tahu tentang masa lalu itu. Begitu juga dengan rekan bisnis dan karyawan yang bekerja di perusahaan.


Kisah yang dimulai sejak masa putih biru dan putih abu-abu, kini ada di atas pelaminan.


Tapi tidak ada yang tahu, kalau bukan masa berpacaran yang begitu lama.


Bukan juga hubungan yang putus sambung putus sambung.


Bahkan dibilang sebelumnya mereka berpacaran pun, tidak.


Vean yang langsung melamar Dhea, lalu menunggu waktu yang tepat untuk menikahi gadis itu. Juga hampir gagal menikah karena keraguan Dhea akibat masa lalunya. Tapi Vean selalu meyakinkan gadis itu, kalau semuanya akan baik-baik saja dan dia tidak peduli dengan apa pun, yang penting ada Dhea di sisinya.


Kini tiba waktunya pelemparan bunga.


Dhea dan Vean melamar bunga itu.


"Haris aku, harus aku yang dapat!" ucap Fio.


"Ada."


"Ada yang nolak? Hehehe."


"Minggir. Cowok gak laku, enggak usah banyak tingkah!"


Juna lalu mengangkat bahunya.


Bunga jatuh ke tangan Aila, dan Fio langsung cemberut. Juna tertawa paling keras.


"Syukur!"


Arya akhirnya ikut tertawa, dan dia melihat Mila yang juga melihatnya. Arya melengos, sampai sekarang dia masih kesal dengan perempuan tua itu, karena dulu sudah terlalu sering menyakiti Dhea. Walau Mila sudah meminta maaf, tapi tetap saja Arya masih kesal.


Semakin malam, acara semakin meriah. Ini benar-benar seperti acara reuni. Bercerita tentang masa lalu, bahkan ada yang CLBK. Ada juga yang akhirnya jadian karena sudah lama memendam perasaan, dsn bertemu lagi, menumbuhkan rasa yang telah lama dipendam namun tak berani diungkapkan.


"Pesta ini jadi seperti acara penemuan jodoh."


Vean dan Dhea juga berbaur dengan teman-teman mereka.


"Dhea, sampai sekarang aku gak nyangka, akhirnya kamu benar-benar bersama dengan Kak Vean."


"Aku saja tidak menyangka."


"Kalian benar-benar serasi. Ingat, jangan biarkan ada orang ketiga hadir dalam rumah tangga kalian!"


"Benar. Kami akan selalu mendukung kamu dsn Kak Vean."


"Ngomong-ngomong, senior kita masih banyak yang jomblo, kan?"


"Dhea, gaun kamu bagus sekali. Di mana kamu membuatnya?"


"Aku buat sendiri."


"Hah? Serius?"


"Oya, aku seorang designer. Ya walau masih harus banyak belajar lagi dari orang-orang yang lebih bagus rancangannya."


"Kamu enggak jadi dokter?"


Vean yang mengenal itu, merasa sedih.


"Enggak. Aku saat itu berencana mengubah alur. Aku mau bikin baju pernikahan aku dan Kak Vean sendiri. Ingin membuat baju pernikahan impian aku."


"Akhirnya terwujud, ya. Aku salut. Semua yang kamu impikan sudah terwujud. Aku malah gagal. Gagal dalam pernikahan, direbut pelakor."


"Gak usah berkecil hati. Setiap orang punya masalah hidup masing-masing. Kamu mungkin pernah gagal, tapi aku yakin, akan ada ganti yang lebih baik. Aku juga begitu. Gagal jadi dokter, tapi bisa jadi seorang designer."


"Iya, kamu benar. Pasti ada pria yang lebih baik dari si pria brengsek itu."


Mereka akhirnya bercerita banyak hal pada Dhea. Dhea memang teman curhat yang enak.


Karena itulah, Fio, Clara, Aila dan Sheila bisa sangat akrab dengannya, bahkan sekarang menjadi tetangga mereka.


"Kalau nanti aku menikah, aku kesan gaun sama kamu ya, Dhea."


"Oke, siap. Tinggal bilang saja, tapi jauh-jauh bulan, jangan dadakan."