Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
193 Bosan


Masih tiga bulan lagi mereka akan menikah, tali rasanya Vean sudah sangat tidak sabar. Dia ingin segera mengikat Dhea dalam pernikahan, punya anak yang banyak agar rumah mereka terasa ramai. Vean tidak akan pernah khawatir dengan anak-anak, karena dia yakin Dhea bisa membesarkan anak-anaknya dengan baik.


Karir Dhea yang semakin meningkat, membuat Vean bangga. Meski rasa bersalah itu masih tetap ada, dan mungkin tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Jadi Vean tidak akan pernah melarang, apalagi menghalangi karir gadis itu.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Vean dan Dhea sedang liburan ke pantai. Pagi-pagi sekali pria itu mengajak Dhea, biar tidak diikuti oleh si dedemit Fio, pikir Vean.


"Tuan Vean," sapa seseorang.


"Halo, nona Sandra."


"Nona Fio, mana? Kapan saya menerima undangan pernikahan kalian?"


"Saya akan mengirimkan undangan pernikahan saya dengan Dhea. Ini calon istri saya."


Wajah perempuan itu langsung berubah. Antara tidak enak hati, bingung, tapi juga sedikit mencela Dhea.


"Ayo, Yang." Vean langsung mengajak Dhea pergi.


Tidak mau ada yang menghina Dhea.


"Benar apa kata Fio, seharusnya kami melakukan konferensi pers."


Dhea tertawa dan berkata, " Enggak perlu, Kak. Mau konferensi kaya apa pun, kalau mereka tidak suka, ya tetap saja tidak suka. Gak akan ada habisnya mendengarkan perkataan orang-orang."


"Ya, kamu benar."


"Dulu, waktu aku pakai baju yang biasa-biasa saja, orang-orang menatap aneh padaku. Saat aku memakai baju bagus, orang-orang juga menatap aneh padaku. Jadi, kalau pada dasarnya tidak suka, mau seperti apa pun kita, tetap saja dia tidak suka."


"Aku akan membahagiakan kamu. Tidak akan aku biarkan mereka merendahkan kamu. Kamu lebih hebat dari mereka."


"Kak, ayo kapan-kapan kita liburan bersama yang lain. Aku mau bikin api unggun."


"Iya."


"Oya, kaya ibu, ada calon orang tua asuh yang mau mengadopsi anak."


"Baguslah kalau begitu, semoga saja semaunya lancar, ya."


Tapi aku akan menyuruh Erza untuk mencari tahu dulu tentang mereka. Jangan sampai anak-anak itu jatuh ke tangan yang salah.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Di lain tempat, Vean terus melihat jam di pergelangan tangannya. Dia sangat ingin bertemu dengan Dhea. Tadi dia pergi pagi-pagi sekali, dan tidak sempat sarapan bersama dengan gadis itu.


"Bisakah kalian melakukan dengan cepat?" ucap Vean.


Vean mengambil ponselnya, mengirim pesan untuk Dhea. Dia ingin mengajak Dhea ke kantornya, agar orang-orang di sini tahu siapa calon istrinya.


[Yang, lagi di mana?]


Tidak ada balasan dari gadis itu, membuat Vean gelisah.


"Dhea, aku kangen," ucap Vean dengan pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Erza.


"Tinggal sebelahan juga, apa gak bosan?" ucap Erza pelan, tapi juga masih bisa didengar oleh bosnya itu.


Vean mendelik kesal pada Erza.


"Kalau sekarang saja sudah bosan, bagaimana jika sudah menikah nanti, Erza! Setiap hari kami akan bersama! Apa nanti kamu akan bosan dengan istrimu karena setiap hari bersama, hah?"


"Maaf, Bos."


"Makanya punya pacar. Sama Micel sana!"


Erza meringis saja. Micel adalah karyawan Dhea yang diajak dari Swiss.


Bos sama bos, anak buah sama anak buah, gitu?


"Sana, cari calon istri. Nanti anak-anak kita akan besar bersama. Saya yang modalin kamu nikah. Uang kamu, kamu simpan untuk kebutuhan yang lain."


Erza kembali meringis.


Kita lagi meeting, bos, kenapa malah membicarakan soal pernikahan saya? Anda saja belum menikah.


Vean kembali menghela nafas saat melihat ponselnya. Belum ada juga balasan dari Dhea.


Vean melihat kelingkingnya yang tersemat cincin Dhea. Belum pernah cincin itu dia lepas, dan mungkin tidak akan dia lepas.


Sampai sekarang aku masih merasa seperti mimpi. Kamu cinta pertamaku, akan menjadi istriku, juga ibu dari anak-anakku. Terima kasih sudah menjaga hatimu hingga saat ini. Terima kasih tidak pernah berpaling dan menyerah. Terima kasih atas warna yang kamu berikan untuk hidupku ini.