
Beberapa hari tinggal di sebelah rumah Dhea, Vean tidak pernah melihat gadis itu keluar dari rumah, termasuk untuk bekerja.
Dia tidak menutupi apa pun lagi, kan?
Vean memutuskan untuk datang ke rumah Dhea.
"Kak, ngapain pagi-pagi ke sini?"
Wajah Vean langsung cemberut ditanya seperti itu.
"Aku tetangga baru kamu."
"Hah? Sejak kapan?"
"Sudah dua hari."
Vean melongok ke dalam.
"Aku minta sarapan, dong." Pria itu langsung masuk ke dalam rumah Dhea.
"Ini buat aku? Kamu tahu aku mau datang?"
"Bukan, itu buat kak Arya," jawab Dhea terlalu jujur dan polos, membuat Vean antara gemas tapi juga kesal.
"Ganti-gantian, Kak. Kadang aku yang ngasih kak Arya sarapan atau makan malam. Kadang kak Arya yang ngasih aku sarapan dan makan malam."
"Kalau begitu, mulai nanti malam, aku yang ngasih kalian makan. Jangan minta lagi sama Arya."
Tidak lama kemudian Arya dan beberapa adik panti mereka datang.
"Wah, kebetulan ada Bang Vean di sini."
"Kenapa?"
"Mau ngirim CV, Bang."
"Sini." Vean melihat CV-CV itu.
"Kalian ada yang kuliah?"
"Iya, ada yang baru lulus kuliah, ada yang mau kerja sambil kuliah, ada juga yang baru lulus SMA."
"Yang baru lulus SMA, bisa nyopir mobil?"
"Bisa, kenapa, Bang?"
"Jadi sopir, mau?"
"Mau aja, Bang. Tapi bikin SIM dulu, ya."
"Ya."
"Dhea, kamu jadi beli tanah kosong di depan?"
"Jadi, kasih DP dulu boleh, gak? Bulan depan baru aku lunasin."
"Nanti aku bilang ke pemiliknya."
"Kamu mau beli tanah buat apa?" tanya Vean.
"Dih, pada ngumpul di sini," ucap Juna. Dia datang bersama dengan Clara, Aila, Sheila, Felix dan Steven.
Mereka yang baru datang itu, cengar-cengir saja, sambil bisik-bisik.
[Fio, kamu sibuk, gak? Kalau gak sibuk, datang ke rumah sekarang, ya.]
[Emang boleh?]
[Sejak kapan kamu enggak boleh datang ke rumahku?]
[OTW.]
Dhea tersenyum, dia pikir Fio akan menjauh darinya.
Beberapa anak panti juga banyak yang datang. Mereka membicarakan banyak hal.
"Kami lagi nyari kerja, Kak."
"Sini, kasih ke aku CV-nya."
Untuk yang perempuan, ada yang dikasih ke Dhea, Clara, Sheila, dan Aila. Untuk yang pria memberikannya pada abang-abang mereka.
"Tadi malam ada yang meletakkan bayi di depan pintu panti," ucap salah satu anak panti.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki."
Yang lain merasa kaget, tapi tidak bagi Dhea dan Arya juga anak panti lainnya. Bagi mereka itu sudah biasa. Lebih dari belasan dan dua puluh tahun yang lalu, mungkin mereka juga seperti itu, diletakkan di depan pintu panti.
Tidak lama kemudian Fio datang, senyum di wajahnya surut ketika melihat rumah Dhea yang ramai.
"Fio, sini duduk."
Mereka kembali melanjutkan mengobrol, apa saja dibicarakan.
"Kita makan apa nih, buat siang?" tanya Juna.
"Kalian para pria, mau belanja ke pasar apa masak?"
"Belanja."
"Gih, sana belanja. Belanja di pasar dekat sini saja."
"Ayo, Vean."
"Gak, aku di sini saja."
"Ayo!"
Semua pria itu akhirnya belanja. Sedangkan yang perempuan diam di rumah.
"Ngomong-ngomong, tadi ada yang bilang gak, mereka harus belanja apa?"
"Enggak."
"Tenang saja. Ada Kak Arya dan Kak Vean, juga adik-adik yang lain," ucap Dhea.
"Kenapa mereka?"
"Kak Arya kan sering nemenin ibu panti belanja di pasar. Kak Vean juga dulu suka aku ajak ke pasar."
Fio langsung menoleh. Dhea yang sadar dengan ucapannya, jadi salah tingkah.