
"Aaarrggghh ... aaarrggghh ... itu tidak benar! Itu bohong, semau itu bohong!" teriak Vean. Bukan hanya berteriak, dia bahkan menjambak rambutnya sendiri, lalu memukul tembok dengan kedua tangan terkepal.
Pria itu terduduk di lantai, masih menjambak rambutnya dengan kuat.
Yang lain?
Jangan ditanya!
Air mata mereka tidak mau berhenti menetes.
Fio bahkan sudah terduduk lemas di lantai sejak tadi.
Clara, Aila dan Sheila sudah berpelukan, tidak menyangka rahasia besar yang disimpan oleh sahabat mereka itu.
Kedua orang tua Fio dan Vean bahkan tidak bisa berkata apa-apa.
Kini Sheila dan Aila dipeluk oleh kekasih mereka masing-masing.
"Kenapa? Kenapa malah mengatakan kalau Arya yang mendonorkan ginjalnya?"
"Tapi kenapa? Kenapa dia tidak jujur saja?"
Bram menghela nafas berat.
"Dulu aku sangat ingin mengatakannya, tapi sekarang aku paham kenapa Dhea lebih memilih untuk diam."
"Kenapa?"
"Kalian lihat sendiri kan, bagaimana mamanya Fio yang bersikap seperti ini padanya. Bisa-bisa dia bilang kalau Dhea sengaja mengorbankan ginjalnya untuk meminta balas budi. Dia tidak mau Fio mengalah dan memberikan Vean untuknya. Dia tidak mau Vean atau keluarganya merasa punya hutang budi dan Vean merasa bersalah lalu menerima cintanya. Dia ... tidak mau seperti itu. Dia tidak mau dianggap menjual ginjal demi mendapatkan kamu. Bahkan ... Dhea memberikan ginjalnya tanpa bayaran sedikit pun."
Mereka menoleh pada Bram, kecuali Arya tentunya.
"Dhea tidak pernah menerima sepeser pun yang aku berikan. Saat aku mengatakan kalau Vean dan kedua orang tuanya ingin bertemu dengannya, dia menolak. Lalu dia memberikan ide untuk meminta orang lain berpura-pura kalau orang itulah yang mendonorkan ginjalnya untuk Vean."
"Itu benar, dan itu juga sebabnya aku tidak mau menerima uang dan fasilitas yang kalian berikan padaku. Aku tidak pernah bermaksud menipu kalian, tapi Dhea selalu memohon dan menangis. Dhea memintaku untuk melakukan semua itu, bukan orang lain. Kenapa? Karena dia tidak mau kalau sampai orang itu memanfaatkan Vean dan kedua orang tuanya untuk kepentingan dia sendiri. Juga tidak mau dokter Bram sampai diancam karena sudah membohongi kalian. Aku juga kebetulan mengenal dokter Bram. Dokter Bram sebenarnya donatur di panti asuhan kami, tapi Dhea tidak tahu itu. Aku memang bekerja dengan dokter Bram, sampai akhirnya dokter Bram juga meminta aku berpura-pura sebagai pengganti Dhea. Dokter Bram selalu baik pada panti asuhan kami. Secara pribadi, dokter Bram juga baik sekali padaku. Aku sudah berjanji untuk melakukan apa saja yang dokter Bram katakan. Jadi, aku melakukan apa yang Dhea minta, bukan hanya demi dia, tapi juga demi dokter Bram."
"Aku sudah berjanji pada Dhea untuk menjaga rahasia ini seumur hidup, bahkan tidak boleh bercerita pada Juna dan Bianca. Tapi melihat dan mendengar Mila yang selalu menghina Dhea, aku tidak bisa lagi menutupinya. Dengar, kalau memang Dhea ingin merebut Vean dari Fio, sudah dia lakukan sejak dulu. Tapi dia diam saja, memilih pergi dari kehidupan kalian. Bahkan setelah Vean dinyatakan sembuh dan sudah diijinkan pulang dari rumah sakit, gadis itu langsung menghilang. Dia ....