Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
121 Tak Tega, Tapi Tak Mampu


"Vean, kamu kan belum melihat Fio. Dia gadis yang cantik dan baik. Kalau sudah bertemu, pasti kamu akan suka."


"Pokoknya Vean tetap tidak mau. Mama jangan maksa, dong."


Vean ingin bilang kalau dirinya masih muda, belum memikirkan pernikahan, tapi itu bisa menjadi boomerang untuk dirinya.


Tentu saja dia sendiri sudah memikirkan tentang pernikahan, tapi bersama Dhea.


Tiga tahun dia menunggu dengan sabar, dan dia masih bisa menahan tiga tahun lagi. Kenapa malah masalah perjodohan itu terjadi?


"Lagian mama main jodoh-jodohin saja, enggak nanya dulu sama aku."


Vean sangat kecewa. Untuk masalah hari, dia sudah memiliki pilihan sendiri.


Gadis sederhana yang mampu menggetarkan hatinya. Yang mampu membaut dia tersenyum dan tertawa. Yang bisa membuat dia rindu setiap hari.


Hanya Dhea, bukan yang lain.


Keesokan malamnya, Fio dan keluarganya datang ke rumah Vean.


Mereka kini duduk di ruang tamu. Vean sama sekali tidak memandang ke arah Fio. Sama sekali tidak ada rasa penasaran. Tidak mau tahu apakah Fio cantik seperti yang mamanya katakan atau tidak.


Kalaupun memang benar cantik, lalu apa peduli Vean?


Vean melihat jam di ponselnya. Sebentar lagi waktunya Dhea pulang kerja.


"Vean pergi dulu."


"Mau ke mana kamu?"


"Ada urusan penting."


Diam-diam Vean menjaga Dhea saat dia pulang setiap malam. Kegiatan yang selalu dia lakukan sembunyi-sembunyi selama tiga tahun ini. Sebuah jadwal yang harus selalu dia patuhi.


💦💦💦


"Vean enggak mau dijodohkan dengan Fio atau siapa pun."


"Vean, mama sama mama Fio sudah bersahabat lama, kami ...."


"Sama Juna saja."


"Apanya?"


"Kamu enggak harus langsung tunangan. Bisa pacaran dulu. Nanti setelah Fio lulus, baru kalian bertunangan, lalu menikah."


"Enggak. Enggak mau!"


Vean masuk ke dalam kamarnya, membanting barang-barangnya dan berteriak keras. Friska dan Candra mencoba membuka pintu kamar Vean, namun dikunci oleh pria muda itu.


"Kamu bicarakan baik-baik dengan Vean," ucap Candra.


Setiap hari, Friska kembali membahas masalah perjodohan ini.


"Jangan membuat mama malu, Vean."


Vean meletakkan sendok yang dia pegang. Satu sendok pun belum ada yang masuk ke dalam mulutnya.


Vean pergi ke kampus dengan perasaan kesal, tapi sebelum itu, dia pergi ke kosan Dhea, melihat gadis itu dari kejauhan.


Hanya dengan melihat Dhea, dia bisa lebih tenang.


Sidah beberapa hari ini Vean tidak pulang ke rumah. Pria itu kabur dari rumahnya.


Bukan ke tempat Juna, karena dia tahu, tempat pertama yang akan ditanyakan oleh kedua orang tuanya adalah tempat Om dan tantenya.


Jurusan kuliah yang berbeda dengan Juna, membuat Vean memiliki lingkungan yang berbeda dengan pria itu.


Vean menginap di kosan salah satu teman sekelasnya. Berhari-hari dia tidak pulang, tapi bukan berarti dia tidak melihat Dhea.


"Vean!" panggil Juna.


"Apa?" tanya Vean ketus.


"Kamu ke mana saja, sih? Susah banget dicari. Bolos kuliah, ponsel enggak bisa dihubungi. Mama kamu masuk rumah sakit sudah tiga hari!"


"Apa?"


Dengan pera panik, Vean pergi ke rumah sakit.


"Vean, mama mohon. Mau ya, dijodohkan dengan Fio. Apa kamu tidak mau juga setelah mama memohon seperti ini?"


Vean menatap mamanya yang menangis.


Dia menjadi tidak tega, tapi untuk menurut pun, dia tidak mampu.