Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
152 Gagal?


Dhea hari ini sangat sibuk. Dia mendapatkan banyak pesanan gaun untuk acara award yang akan diadakan dua bulan lagi.


Gadis itu memilih bahan-bahan dengan kualitas nomor satu dari luar negeri, yang sudah menjadi langganan saat dia baru pertama kali membuka brand sendiri.


"Omset kita semakin besar, ya."


"Baguslah kalau begitu. Rejeki juga buat yang lain."


Dhea ingin menyekolahkan adik-adiknya, karena memang tidak semua orang berotak cerdas dan bisa mendapatkan beasiswa, kan. Sebagai tanda baktinya pada panti.


Hanya beberapa orang saja—mantan anak panti— yang masih peduli. Dhea tidak akan menyalahkan mereka. Semua orang punya pilihan dan jalan hidup masing-masing.


"Mikirin apa?" tanya Clara, menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


"Enggak ada."


"Makan dulu, Dhe." Clara memberikan kotak makan yang dia pesan secara online.


Ini hari Sabtu, tapi mereka saat ini sedang di butik karena banyak pelanggan yang ingin bertemu hari ini.


Kemarin Dhea kontrol ke rumah sakit, diantar oleh Vean dan ditemani juga oleh Arya dan Juna. Berlebihan menurut Dhea, tapi mereka yang mau seperti itu.


Dhea menatap langit siang ini.


Cerah.


Sebentar lagi, musim semi akan berakhir. Dhea jadi merindukan negara itu. Ingin kembali ke sana, tapi entah kapan. Negara yang memiliki kenangan tersendiri bagi Dhea.


Ingin merasakan lagi aroma coklat yang dia sukai, melihat danau-danau dan pegunungan yang membentang indah diselimuti salju.


Pergi ke kota-kota dengan kereta api dengan keindahan alam sebagai background-nya.


Dhea tersenyum.


Bersyukur dia masih hidup.


Bersyukur dia masih sehat.


Bersyukur dia masih bisa melihat orang-orang yang dia sayangi.


Dhea menyeruput lemon tea hangat yang sudah tidak hangat lagi. Dhea merenggangkan otot-ototnya, merasa pegal karena duduk seharian. Sudah ada beberapa rancangan yang dia buat.


"Pulang yuk, sudah sore."


"Ayo."


Dhea melihat jalanan ibu kota yang cukup padat. Mungkin banyak yang jalan-jalan di akhir pekan ini, sekaligus ingin bermalam Minggu.


Mereka tiba lebih dari dua jam kemudian.


Tetangga yang sebenarnya adalah teman-temannya sendiri. Mengingat itu, dia jadi geli sendiri. Bisa-bisanya mereka kepikiran untuk membeli rumah di dekat rumahnya, hanya beberapa langkah saja.


"Suprise!"


Dhea mengelus dadanya, merasa terkejut dengan teriakan itu.


"Happy birthday."


Oh iya, sekarang ulang tahun aku.


"Tiup lilinnya."


Dhea meniup lilin di tas kue ulang tahun yang dipegang oleh Vean. Dia tersenyum lebar, sama sekali tidak menyangka kalau masih bisa merasakan ulang tahun, tahun ini.


"Potong kuenya."


Perempuan muda itu lalu membagikan kue pertama kepada ibu panti, yang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. Lalu kepada Dahlia—pemilik kosan—sebagai ibu kedua baginya, dan yang ketiga ....


Vean langsung menyerobot kue yang ada di tangan Dhea, yang entah akan disuapi ke siapa, tapi Vean curiga kue itu akan disuapi ke Arya. Jadi lebih baik dia yang maju lebih dulu.


Arya dan Juna mendengus, tapi juga terkekeh geli.


Vean berdehem untuk menarik perhatian orang-orang.


"Dhea, ayo kita menikah. Gak usah pakai tunangan dulu." Vean memasangkan cincin di jari Dhea.


Lagi-lagi, Arya dan Juna melengos.


Ini lamaran, apa ancaman?


Kok gak ada romantisnya sama sekali.


"Hah?"


"Menikahlah denganku! Jangan ditolak, karena ditolak itu menyakitkan!"


Nah, itu dia tahu!


"Kak Vean, aku ...."


Terdengar isakan dari seseorang. Dhea langsung menarik tangannya dari genggaman Vean.


"Fio, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku juga tidak tahu tentang ini, Fio ...."


Mila memeluk anak perempuannya, mengusap punggung Fio yang bergetar.


Tangisan Fio semakin keras. Vean, Arya, Juna dan teman-teman Dhea terlihat sangat kesal. Apa Fio akan menggagalkan lamaran tak romantis dari Vean ini?